Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
13. Enjoy your life


__ADS_3

...πŸƒπŸƒπŸŒΌπŸƒπŸƒ...



...πŸƒπŸƒπŸŒΌπŸƒπŸƒ...


Tersumpal telinga dengan earphone yang menggaung menulikan telinga dari suara-suara yang ada di luaran.


Satu hal yang Bella lupa. Dia lupa mengunci jendela kamarnya. Dia berbaring sambil memejamkan mata dengan suara keras yang menulikan telinganya bahkan dia sampai tak sadar jika Jimmy sudah berada di dalam kamarnya. Berdiri sedari tadi mengawasi sahabat masa kecilnya yang berlaku aneh.


Bella bernyanyi dengan mata yang memejam.


CUP!!


Satu Kecupan mendarat di kening Bella, membuat Bella terbelalak dan langsung memasang wajah kesal dengan alis yang menukik tajam menatap Jimmy.


"Brengsek!!" Makinya lalu meninju hidung Jimmy dengan seketika.


BUGH.....!!


Mantap kali ku dengar suara pukulan itu Bell. Haha haha Othor senang sangatlah kalau ada perempuan tegas begini. 🀩.


"Aih.....! Sakit tau!!" Desisnya tanpa berniat membalas atau memaki wanita yang ada di hadapannya dengan wajah super kesal.


"Bell, Aku Hanya merindukanmu! Tidak bisakah kau bersikap lembut layaknya wanita pada umumnya? mengapa kau banyak berubah?"


" Aku bisa bersikap lembut pada pria baik, atau pacarku, atau ayahku, atau suamiku. Pokoknya pria yang bisa menjaga kelakuannya. Tidak sepertimu yang suka ambil keuntungan yang setiap keadaan!!" Ucapnya sarkastik lalu melemparkan tisu ke wajah Jimmy dan tepat mengenai hidungnya.


Jimmy tertegun tak percaya. " Kau tak berniat mengusap atau mengobati hidungku seperti yang ada di dalam drama?" Tanyanya berharap Bella akan menghawatirkan dirinya yang sekarang tengah mimisan karena pukulan Bella.


"Tidak!" Bella menggeleng tanpa keraguan. "Untuk apa? Bukankah itu balasan yang tepat untuk pria yang tak bisa memegang komitmennya?" Kata Bella dengan mudahnya.


Jimmy hanya terdiam mencerna segala apa yang keluar dari mulut Bella.


"Kau sudah punya pacar, bahkan kalian sudah tidur bersama. Dan kau memperlakukanku layaknya wanita murahan dengan menciumku seenak hatimu? Wah.... wah .. wah ..." Bella mendekat dan menatap lekat wajah Jimmy. " Aku sama sekali sudah tidak tertarik lagi padamu bahkan untuk sekedar menjadi sahabatmu Jim!" Ucapnya dengan nada bicara yang serius, tegas dan mengintimidasi dalam waktu yang bersamaan. Jangan lupakan sorot mata Bella yang mematikan.


"Aku sudah tidak mengenali dirimu." Lirihnya berbicara tanpa ada penekanan. Dia menatap ke langit malam dan berdiri di pagar pengaman balkon.

__ADS_1


Jimmy berjalan dengan perlahan tanpa kemarahan lalu mendekap Bella dari belakang. Bella berusaha memberontak tapi tak berbuah apa-apa selain lelah. Dia kalah tenaga dengan Jimmy.


"Diamlah seperti ini, aku hanya ingin melepas rinduku padamu. Aku tau kau tak benar-benar marah padaku dan semua yang kau katakan tadi tak akan kumasukkan kehati." Kata Jimmy dengan lembut membuat Bella melunak dan membiarkan Jimmy tetap memeluknya untuk beberapa saat.


Aku wanita bodoh!!


Susah payah aku berlagak sok kuat di hadapannya.


Susah payah aku membuat citraku terlihat tak membutuhkannya, nayatanya apa? Sedikit sentuhannya membuatku luluh, membuatku rapuh.


Jim, sebenarnya apa maumu? Kau selalu bersikap seperti ini kepadaku, menggoyahkan pendirian ku, meruntuhkan pertahananku.


"Lepaskan! aku rasa sudah cukup." Ucap Bella yang mengurai dekapan Jimny dan masuk kedalam kamarnya lalu mengunci jendela dengan perlahan.


Jimmy pasrah dan mengalah, dilihatnya punggung kecil dengan tubuh ramping yang menghilang di balik tirai kamarnya dengan sorot lampu yang jua perlahan padam.


Apakah aku sudah begitu keterlaluan?


Apakah dia sangat marah?


Bukankah dulu hanya memeluk dan menciumnya bukanlah masalah yang besar. Tapi sekarang?


Di kamar Bella.


"Argh... ! Seenaknya saja dia menciumku begitu!!" Bella menggumam dia meracau dan marah dengan mulutnya yang terbekap bantal. Ya... dia marah dan meraung sambil tengkurap.


"Dia menolakku, tapi kemudian bersikap manis kepadaku. Apa maksudnya?" Teriak Bella dengan lantang tapi suaranya tak berhasil menembus celah-celah bantal. Sukses bantalnya terbukti mampu meredam suara.


Pagi harinya.


Bella baru saja selesai mandi, tadi sebelum mandi seperti biasa dia sudah membuka jendela, merapikan kamar dan menyiram beberapa bunga kesayangannya yang ada di balkon. Beberapa pot bunga kecil yang imut dan manis sekedar menjadi pelengkap pemandangan.


Masih dengan handuk yang melilit tubuhnya, saat kakinya melangkah, sebuah sapaan sudah menyapanya. " Pagi Bella!!" Sapa Jimmy tanpa rasa malunya.


Bella seperti kura-kura, dia kembali menelusup dan masuk kedalam kamar mandinya. " Eh mesum mau apa kau kemari? Cepat pergi!!" Usirnya dengan suara lantang.


"Pergi? buat apa?" Sahut Jimmy tanpa dosa dan malah berbaring seolah itu adalah kamarnya.

__ADS_1


"Kalau kau tidak keluar, aku akan berteriak memanggil Ayahku!" Seru Bella mengancam berharap Jimmy akan gentar dan segera pulang.


"Ayah! Ayah Uji!! Aku Jimmy!! aku di kamar Bella Yah! Ayah!!" Lantang suara Jimmy menggema di kamar Bella. Dia berteriak memanggil Ayah Fauzi tanpa rasa takut sama sekali.


"Apa dia sudah gila?


Memanggil Ayah?


Ah tidak jika sampai ayah tau dia di kamarku dengan keadaanku yang seperti ini." Bella menunduk melihat penampilannya.


"Ayah akan berpikir kita telah melakukan anu... anu...


Oh tidak!" Bella menjadi ketakutan dan ketar-ketir sendiri.


"Eh, eh.... mulutmu! bisa diam tidak?" Sahut Bella yang kemudian menyahuti tanpa keluar meninggalkan kamar mandi.


"Bukanya kau yang ingin mengadu pada Ayah? Adukan saja, nanti kita tertangkap dan aku akan menceritakan sejak kapan putrinya menampung lelaki di kamarnya. Lalu kita akan dinikahkan secara dadakan." Kata Jimmy yang menggoda Bella yang sudah ketakutan setengah mati di dalam kamar mandi. Pasalnya Jimmy berbicara tanpa mengurangi volumenya.


"Eh, sinting! idiot! jaga mulutmu!!" Bella memaki Jimmy tanpa ampun. " Apa kau sudah gila? apa semalam telingamu tak dengar? Aku sudah bilang aku tidak tertarik lagi padamu!! Jadi sekarang kau segeralah pergi!!" Ucapnya penuh penekanan.


"Hahahahah! Munafik!! lain di mulut lain di hati. Aku tau kau tidak seperti itu. Kau masih punya rasa padaku kan? jujur sajalah..., kita sahabatan sudah lama, dan sudah berulang kali kau mengatakan cinta. Ayolah aku tau perasaanmu itu tak mudah luntur."


Final, perkataan Jimmy terkesan begitu merendahkan harga diri Bella sebagai wanita yang mengemis cinta dari sahabatnya sendiri. Bukankah itu menjijikkan?


" Jim! ini terakhir kalinya aku bicara!! lupakan semua kebodohanku di masa lalu! aku tidak akan pernah mencintaimu lagi!! sekarang pergilah dan nikmati hidupmu sendiri!! jangan ganggu aku!!!" Bella berbicara lantang dan tak memperdulikan bila saja mungkin ayahnya atau ibunya akan dengar.


Jimmy tertegun. Pertama kalinya Bella berucap dengan emosi sampai berteriak seperti ini.


Sial! kenapa tidak dari tadi aku membentaknya? Mengapa aku bisa lupa bila ayah dan bunda sedang pergi memancing bersama? Ucap Bella setelah menempelkan telinganya dan mendengar derap langkah kaki Jimmy yang kian menjauh.


" Ah, aman... dia sudah pulang." Bella mendengus lega dan mengelus dadanya.


Pertanyaannya : Apakah benar Jimmy sudah pulang? atau hanya menipu Bella?


a. Jimmy sakit hati lalu pulang.


b. Jimmy hanya berpura-pura untuk melakukan penyerangan setelahnya.

__ADS_1


C. Jimmy memohon agar Bella memaafkannya.


__ADS_2