
...🥀🥀🥀...
Tanpa memberi kabar pada Bella, Rama memutuskan untuk menerima tugas barunya berjaga di perbatasan. Dia masih sangat marah terhadap Bella. Baginya jawaban Bella yang meminta agar Rama lebih bersabar merupakan sebuah penolakan halus untuk menjauhi Jimmy.
Bella masih belum mengerti mengapa Rama seharian tidak ada kabar dan bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali. Sebuah pesan pun tidak masuk dalam kotak pesan Bella.
Di kampusnya, Bella masih saja gusar menanti kabar dari Rama.
"Bell, kenapa?" Tanya Mimi.
Bella menundukkan kepalanya dan bertumpu pada kedua tangan yang terlipat di atas meja. Dia menyembunyikan wajahnya. " Tidak Apa-apa, hanya lelah saja dan kurang tidur." Bohongnya menyembunyikan kesedihannya.
Ayu yang baru datang kemudian duduk di sebelah Bella dan menepuk punggung Bella dengan tiba-tiba membuat Bella terhenyak kaget. " Hoy!!" Seru Ayu yang tertawa senang melihat reaksi Bella.
"Ih, kebiasaan banget sih Yu. Suka ngagetin orang." Bella mendengus kesal dan memutar bola matanya Malas.
"Kenapa mukanya acak-acakan begitu? Kayak maket belum kelar." Cibir Ayu yang kemudian duduk.
Bella kembali pada posisinya yang tadi. Dia menyembunyikan wajahnya. " Aku kurang tidur dan lelah." Jawabnya dengan alibi yang sama.
"Lelah apa lelah? roman romannya sedang ada apa-apa nih sama babang Rama. Iya kan?" Tebak Ayu dan menggoda Bella dengan memasang seringai dengan kedua alisnya yang naik turun.
"Eh, Yu. Mukamu minta di tampol ya?" Ketus Mimi yang ikut kesal. Padahal yang di ledek Bella pun hanya diam saja acuh.
"Dia tidak ada kabar seharian ini. Dari pagi... sampai sekarang." Celetuk Bella tiba-tiba.
Atensi kedua sahabatnya kemudian terfokus padanya.
"Padahal semalam kami masih baik-baik saja saat di kamar." Cetus Bella tanpa sadar.
"What?! di kamar? Ngapain?" Keduanya memekik terkejut dan kemudian memasang wajah yang super duper kepo.
"Em...." Bella bingung mau menjawab apa. Bola matanya berlarian kesana kemari mencari alasan. Ah, sudahlah nampaknya sekarang adalah saatnya dia menceritakan semuanya.
Bella menceritakan semuanya, termasuk ketika Jimmy sering menerobos masuk ke kamarnya hanya untuk sekedar tidur dan melihat wajahnya sebelum tidur. Terang saja karena hal itu kedua sahabat Bella garuk-garuk kepala di buatnya. Itu bukanlah hal yang lumrah yang terjadi pada dua manusia dengan jenis kelamin yang berbeda.
"Bell, Sebenarnya ku lihat kau itu pintar. Tapi mengapa saat menghadapi Jimmy kau menjadi begitu stupid?" Kata Ayu.
"Seorang lelaki, sampai tidak bisa tidur tanpa melihat atau menyentuhmu terlebih dahulu itu namanya dia mencintaimu, Bella!" Imbuh Ayu.
__ADS_1
Mimi mulai ikut bicara dan menjadi kesal akan keluguan yang masih melekat pada diri sahabatnya. " Harusnya kau mengatakan hal ini pada kami sedari awal. Kau harus menghentikannya, Ini hubungan yang tidak sehat. Dan kau bilang apa tadi? Rama dan Jimmy tidak pernah akur?"
"Bella, kau harus waspada. Aku bertanya dan kau harus jawab dengan jujur." Tungkas Ayu dengan wajah seriusnya.
"Iya." Sahut Bella sekenanya. Dia begitu malas jika harus bermain menjadi detektif.
"Apalagi sih Yu, udah ah jangan su'udzon." Mimi yang merasa jengah hanya bisa melarang tanpa adanya sahutan.
"Hussst....!" Mimi meletakkan jarinya di bibir ayu pertanda ayu harus menutup rapat mulutnya.
"Jika Kakak dan adik tidak bisa akur, dan kau berada di antaranya, kau harus berhati-hati. Tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar di pihakmu." Kata Ayu.
Bella kini mulai tertarik akan perkataan Ayu, terlihat dia bahkan mulai memfokuskan perhatian padanya. " Maksudnya?" Bella masih tak paham.
"Maksudnya, em... maksudku..., Begini." Ayu semakin mendekat dan merangkul pundak Bella.
"gimme your attention! Rama, katamu dia sedari dulu sikapnya memang begitu kan? baik dan hangat. Tapi apa kau tidak curiga, Dia tiba-tiba menyatakan cintanya padamu setelah pulang dari dinas?"
"Itu terdengar aneh sekarang, apalagi mereka saling berseteru. Aku menduga dia akan melakukan sesuatu yang akan menyakitimu dan Jimmy. Oh tidak, hanya Jimmy karena dia begitu membenci Jimmy." Imbuhnya.
"Halah, kau tau apa? itukan hanya pemikiran fiktifmu saja Yu. mana buktinya? Sekarang siapa yang bisa tau perkara urusan hati? Bisa bisanya kau menghakimi seperti itu." Mimi menampik segala opini sepihak Ayu.
"Ah, kau ini. Itu bisa saja terjadi kan? Bisa saja Rama tidak mencintaimu dan mengaku mencintaimu dan nanti setelah kau benar-benar mencintainya dia akan membuangmu." Kata mempertahankan pemikirannya.
"Apa untungnya bagi Rama melakukan itu?" Cecar Mimi pada Ayu.
"Untungnya? kau bertanya apa keuntungannya? sungguh kalian bodoh. Untungnya dia akan mendapatkan kepuasan batin setelah merebut orang yang Jimmy cintai. Apalagi yang lebih membanggakan dari itu? Bahkan jin pun akan mendapatkan tahta tertinggi di singgasananya bila mampu memisahkan dua orang yang saling mencintai bukan?" Tandas Ayu memggunakan dalil dari suatu frasa agama.
Mimi terdiam, dia baru memikirkan kemungkinannya. Sedangkan Bella dia sudah terjerembab dalam peliknya perasaannya. Dia tak tau mana yang benar dan salah sekarang, baginya Rama lebih baik daripada Jimmy. Tapi tidak menutup kemungkinan dengan apa yang Ayu katakan.
"Sudahlah, lebih baik kau putus saja. Jauhi mereka dan cari pria lain. Kau itu cantik Bella!" Ujar Ayu.
" Apasih? lalu Rama? seenaknya saja main putus dan mempermainkan perasaan orang lain" Cibir Mimi yang masih tidak terima. Baginya Rama tak mungkin melakukan itu semua.
Inilah makna srigala berbulu domba. Falsafah pribahasa ini kerap kali di pakai sebagai pemaknaan dari suatu keadaan yang terlihat baik di luar dan remuk di dalamnya.
Lalu, apakah Rama Memeng benar seperti itu?
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Malam harinya.
" Bella! makan yuk! ini sudah Bunda siapkan!" Ujar Bunda Ria yang berseru dari lantai bawah memanggil sang putri yang masih mengeram di dalam kamarnya.
Derap langkah kaki terdengar setelah beberapa menit Bunda ria berteriak. " Iya Ma!" Sahut Bella sedikit lebih keras.
" Ayo, ayo makan. Mama punya menu spesial." Dengan penuh semangat Bunda Ria menatakan dan bahkan menyendokkan nasi untuk putrinya.
" Bun, aku mau pindah kamar." Kata Bella tanpa basa-basi membuat Ayah dan bundanya melongo secara bersamaan.
Kedua paruh baya itu saling bertukar pandang seolah saling bertanya Apakah ada yang salah?
"Kenapa? tiba-tiba sekali? Kamarmu memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya saja aku sering ketakutan melihat bayangan dahan pohon yang bergerak di saat kalian tidak ada di rumah." Dustanya.
"Ya sudah, biar Bunda robohkan saja pohonya jika kau takut." Jawab sang Bunda yang membuat Bella tercengang.
Sial, bagaimana bisa lupa jika Bundanya ini adalah jelmaan lelaki kuat? Jangankan pohon, bahkan Bunda ria bisa menarik mobil mogok dengan satu tangannya. Oh, sungguh emak-emak berjiwa Samsons 😆.
"Bun, tidak usah. Aku pindah kamar saja ya. Bunda tidak usah repot menebang pohon."
"Oh, ya sudah jika itu maumu. Apa kau bosan dengan suasananya?" Terka sang Bunda.
"I... iya sih sebenarnya. Tapi aku malu mengatakannya. Aku tidak enak Bun."
" Aih, Tidak enak. Tambah kecap saja kalau tidak enak." Celetuk sang Ayah dengan kelakar garingnya. Bahkan anak dan istrinya tak ada yang tertawa satupun. Mereka malah menatapnya tajam.
Di kamar Bella.
Setelah makan malam. Kembali disibukkan dengan setumpuk tugas dari dosen killer. Dia kembali berkutat dengan laptopnya.
Dia yang bisa menunggu pesan dari Rama seketika berbinar saat notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
"Semoga dari Rama." Bella bergumam dan mengulum senyumnya.
"Ah, bukan. Siapa ini?" Gumamnya lirih.
*Hai, bagaimana harimu?* Satu pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya.
__ADS_1
"Balas tidak ya?" Bella menimang ragu. dia mengetukkan ponsel ke tangannya.
"Ah, tidak usah. Siapa tau itu hanya ulah dari Rama atau Jimny yang hanya mengetes ku saja. Mungkin mereka mengetes sebatas mana kesetiaan ku. Bisa saja kan?" Ucapnya bermonolog.