Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Dalam lelapnya.


__ADS_3

...~~~...



...🍁🍁🍁...


"Aku lebih baik pulang saja jika kau terus membahas soal mimpiku." Ucap Bella menghardik Robbie yang masih memeluknya.


"Pulang saja, sana. Memangnya kau tau arah pulang?" Robbie melepaskan pelukannya dan setengah menantang Bella untuk pulang.


"Tau, aku akan menggunakan taksi."


"Tidak ada taksi lewat, semua armada di berhentikan sampai badai salju reda. Jadi kamu harus menginap disini malam ini."


"Dari kapan kamu tau?"


"Dari semenjak kamu tidur di dalam mobil tadi. Saat aku mendengarkan prakiraan cuaca kau malah asyik mengeluarkan suara-suara mistis yang membuatku merinding." Ucap Robbie menyindir Bella.


"Stop!! jangan bilang itu lagi."


"Oke- oke!" Robbie mengangguk beberapa kali lalu terdiam dan kembali memeluk Bella.


"Kalau sedang memelukmu begini, bayanganku menembus masa depan. Memikirkan jika suatu saat nanti kita seperti ini, dengan anak-anak kita yang bermain dan tertawa riang." Ucap Robbie penuh dengan pengharapan.


Bella menerawang, jika pikiran Robbie seputaran anak dan masa depan, maka pikiran Bella tertuju pada proses pembuatan. Ahh.... Bella, sejatinya dia memiliki hasr*t terpendam kepada lelaki.


Entah ini merupakan turunan dari sang ibu atau apa, Bella memang sejatinya lebih agresif jika berhubungan dengan sentuhan, kehangatan, dan ranjang. Dia yang selalu menolak Jimmy jika Jimmy menyentuhnya dulu adalah sebuah bentuk penjagaan. Sebab Bella sendiri akan susah mengendalikan diri jika berhubungan dengan hal intim.


Dia yang sebatas di cium saja pikirannya sudah beterbangan kemana-mana tak tentu arah, apalagi jika sudah ada sesuatu yang meraba pada titik pusat? Terbukti kan, dari mimpi saja dia bisa begitu detail dan sangat menghayatinya.


"Tidak tau Bie, semenjak putus dari Kak Rama, aku mulai meragukan komitmen. Dia yang bilang akan menjagaku, akan menyayangiku, nyatanya memutus hubungan kami begitu saja. Hatiku belum sepenuhnya membuka pintu."


Apa maksudnya dia belum membuka hatinya, tapi dia tak pernah menolak setiap sentuhan yang kuberikan?


Robbie menatap lekat wajah Bella yang sedang menikmati indahnya pemandangan.

__ADS_1


Robbie mulai menjalankan eksperimen dengan menciumi leher dan bibir Bella, dia hanya menikmatinya saja tanpa menolak ataupun memberontak.


"Setidaknya, jika kau menikmatinya maka terimalah perasaanku." Ucap Robbie yang sejatinya ingin menegaskan hubungan mereka setelah melihat bagaimana Bella menggeliat menikmati ciumannya.


Mata mereka saling beradu setelah Bella memutar badannya. Kini keduanya saling berhadapan. Masalahnya adalah, si lelaki ingin memiliki kejelasan, sementara si perempuan ingin semuanya berjalan mengikuti arus.


"Berhenti Bie..., aku bisa hilang kendali." Ucap Bella yang kemudian mundur beberapa langkah.


"Aku suka itu... lakukanlah apa yang kau mau. Aku ingin mengetahui seberapa lihainya dirimu."


"Tidak tanpa sebuah ikatan." Ucap Bella.


"Ok, menikahlah denganku." Kata Robbie dengan sangat enteng.


Masih mereka berdua berbicara begitu intens, pelayan sudah berlarian menuju ke kamar Nenek.


"Tuan muda, Nenek Tuan!" Salah satu pelayan mengadu sambil menangis.


"Ada apa?" Robbie langsung panik dan seketika melesat meninggalkan Bella yang masih berdiri mematung.


"Nek." Hanya secuil kata itu yang keluar dari mulut Robbie. Tatapannya seketika berubah redup, dai menutup matanya lalu cairan bening itu siap meluncur dari pelupuk matanya.


"Bie...!" Panggil Bella pada Robbie yang sudah merosot dan duduk bersimpuh di lantai.


Menjadi penganut agama yang minoritas di negara tersebut. Membuat keadaan terasa sulit. Dalam hal ini Robbie untuk memutuskan kembali ke Indonesia dan mengurus pemakaman sang Nenek.


Bella hanya pasrah dan hanya bisa memberikan dukungannya. Dalam keadaan sulit seperti ini, Bella tidak bisa berbuat banyak dia kebingungan bagaimana caranya untuk bisa menguatkan Robbie dan bergantian menolongnya dengan memberikan dukungan.


"Prakiraan badai salju akan reda 6 jam lagi. Aku akan bersiap." Ucap Robbie yang sudah begitu cekatan mempersiapkan segala berkas yang di butuhkan dari rumah sakit, dari tempat penitipan jenazah dan juga surat-surat catatan warga.


Robbie dan neneknya belum menjadi penduduk tetap di negara tersebut. Mereka hanya menetap sementara sampai pengobatan bisa berjalan dengan sukses. Tapi sayangnya, tidak bisa berjalan sesuai dengan harapan. Nenek Mirna meninggal setelah bertemu dengan Bella yang berparas duplikat cucunya.


"Bie, aku.... maaf aku tidak bisa ikut." Bella berkaca-kaca mengatakannya saat melihat Robbie berkubang dalam kesedihan.


"Kemarilah..!" Ucap Robbie dengan perlahan lalu merentangkan tangannya.

__ADS_1


Bella mendekat dan memeluknya erat. Mereka menangis bersama, Robbie merasakan kesedihan yang mendalam, satu-satunya anggota keluarga yang di milikinya harus pergi begitu saja. Tapi, disisi lain dia merasakan sebuah kelegaan dimana permintaan terakhir sang Nenek telah berhasil diwujudkannya.


"Aku ucapkan banyak terimakasih, kepadamu karena telah mau membantuku untuk berpura-pura menjadi pacarku. Dia begitu senang saat melihatmu." Ucap Robbie tercekat dengan suara yang bergetar.


"Sekarang, kau bisa melepaskan cincin itu. Kita tidak perlu lagi berpura-pura, mungkin sudah garisku menjalani hidup seperti ini. Sendiri dan lara." Ucapnya begitu menyayat hati.


"Jangan bilang begitu, kau sering membantuku bahkan merawatku disaat aku sakit. Aku tidak akan meninggalkanmu Bie, kita hadapi ini bersama. Ya?" Bella menangkup wajah Robbie dan menatapnya dengan teduh.


"Menangis lah jika ingin menangis Bie. Aku akan menemanimu." Bella memeluk erat tubuh Robbie lalu mengusap lembut punggung dan bagian belakang kepalanya.


Sentuhan itu mewakilkan setiap dukungan dan dorongan moril untuk Robbie. Robbie meluapkan segala kesedihannya. Dia begitu larut dalam suasana. Setelah ini, hidupnya akan benar-benar sendiri. Tak ada keluarga ataupun kekasih hati.


" Menangislah, sampai kau merasa lega." Ucap Bella yang beriringan dengan satu kecupan yang mendarat di kening Robbie.


"Hanya kamu yang kumiliki saat ini Bell, jangan pergi..."


Rintihan itu terdengar begitu rapuh, jiwanya terombang-ambing sekarang, asanya mengambang tak tentu arah. Harapannya hanyalah Bella yang tetap mau bersamanya, menemaninya tak perduli ada komitmen ataupun tanpa ikatan apapun.


"Iya, aku akan menemanimu." Jawab Bella dengan terus mengusap rambut dan punggung Robbie.


Lelaki dewasa dengan tubuh kekarnya nyatanya tak bisa melawan sakitnya kehilangan orang terkasih. Dia tak bisa banyak berbuat apapun selain pasrah dan mengikuti takdir.


6 jam waktu sebelum keberangkatannya, Robbie terlelap dalam belaian lembut Bella. Dia yang lelah menangis akhirnya terlelap meski dengan sesenggukan yang tak hilang sepenuhnya.


Dalam lelapnya, dia mencoba mengusir lara.


Dalam lelapnya dia mencoba setegar karang.


Dalam lelapnya semua asa yang membumbung di harapkan tak kembali kepermukaan.


Bella menatap teduh wajah yang sembab itu. Perlahan dengan sayangnya, dia merapikan rambut Robbie lalu memberikan kecupan hangat penuh kasih di keningnya.


"Kamu kuat. Kamu pria yang baik." Gumam Bella menatap lekat wajah Robbie yang terlelap.


Mengapa hatiku ikut terluka dan hancur saat melihatnya terpuruk begini?

__ADS_1


__ADS_2