Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Hangat dekapan.


__ADS_3

...πŸ€πŸŒΌπŸ€ ...


...Pov Bella. ...


Setelah melihat video yang di rekamnya tadi, aku jadi semakin bingung akan kebenaranya. Dengan mudahnya Ayah dan bundaku menerimanya sebagi orang yang nantinya akan menjadi suamiku dan justru mereka berdua mempercayakan aku disini dengannya.


Aku masih tidak percaya ini, mereka.... Ah, entahlah dan lihat itu wajah bahagianya Dia begitu senang mendapatkan berbagai macam oleh oleh dari Bunda. Rendang, dendeng, olahan ayam beku, baso dan masih banyak lagi.


"Banyak sekali yang Bunda bawakan?" Tanyaku padanya yang masih asyik memberikan lebel tanggal pada tiap tiap kemasannya. Aku sangat salut akan ketelitiannya.


"Iya banyak, soalnya Bunda tau calon menantunya ini bakalan jarang pulang." Ucapnya yang kemudian di akhiri dengan cengiran kuda.


"Hemh...,!" Aku hanya bisa pasrah dan menggeleng melihat tingkahnya. " Oh iya Bie, aku akan berapa lama menjadi juru masakmu?" Tanyaku yang seketika membuat pergerakan tangannya terhenti dan menatapku datar.


"Kenapa, sudah tidak betah, tinggal di sini?" Tanyanya yang kemudian kembali memalingkan muka dan fokus pada pekerjaanya.


Kenapa Dia terlihat sangat tidak suka aku bertanya hal ini?


"Tidak, bukan begitu. Aku tidak enak saja jika harus terus membebanimu."


"Chagi, bisa tidak berhenti bicara seperti itu? aku bahkan sudah melamarmu secara langsung dengan orang tuamu dan kamu terus saja bicara seolah olah kita ini orang asing."


Oh iya aku lupa, dia sudah melamarku dengan orang tuaku langsung. Bagaimana Aku bisa lupa? Bodohnya Aku ini.


"Tapi kan aku belum menyetujuinya." jawabku yang tiba tiba membuatnya berhenti bergerak dan menatapku lekat.


"Lalu, apakah kamu menolak?"


Sejujurnya im just in the middle. Aku belum mengenali perasaanku terhadapnya. Jika di katakan menerima itu bohong, Jika di katakan menolak itu sangatlah munafik, nyatanya akau berada di rumahnya sekarang tanpa marah atau apapun.


"Diam berarti Iya." Sambarnya yang kemudian tersenyum padaku.


"Setelah lulus kuliah, kita kan segera menikah chagi." Ucapnya sangat berbinar cerah.


"Menikah?" Keningku mulai berkerut manja. "Tapi aku belum punya pikiran kesana Bie." Jujur saja memang aku belum ada niatan untuk berumah tangga.

__ADS_1


"Kenapa, takut aku akan membuangmu seperti rama yang mencampakkan mu?" Tebakannya seratus persen benar.


"Iya, aku sangat takut jika nantinya kamu akan merasa bosan atau, kita have some trouble... and then...."


"No, never!" Katanya menolak keras dan seketika meraih kedua tanganku.


Dia tersenyum kepadaku dan tanpa ku duga, Dia..... Dia..... ******* bibirku dengan sangat lembut dan dalam. Jujur saja, ini sangat berbeda dari yang Kak Rama pernah lakukan kepadaku. Jika Kak Rama sangat bern*su, maka Dia tidak, yang kurasakan hanyalah hangat dan tulus.


"Jangan khawatirkan yang belum pasti terjadi. Tapi Aku berjanji, Aku akan selalu menjaga rasa ini. Apa kurang yakin, aku bahkan sudah menjaga rasa ini dari pertama kali kita bertemu?" Dia bertanya dengan mengkerutkan alisnya seolah memohon padaku untuk mengangguk yakin.


Tapi jika memang benar sudah selama itu Dia memili rasa itu padaku, maka karakternya adalah lelaki setia. bukankah karakter pria seperti dia ini yang lama ku impikan? Lembut, perhatian, bertanggung jawab dan setia. Dia paket komplit yang selama ini ku cari.


"Akan ku coba Bie." Jawabku yang setengah ragu.


"Benarkah? kita akan mencobanya?" Dia tersenyum cerah seketika.


Aku mengangguk memberikan sedikit kepastianku. Dia lalu berdiri dan masuk kedalam kamarnya. Cukup lama sampai akhirnya dia berlutut di hadapanku dan memberikan kotak berwarna coklat keemasan.


"Bie, ngapain disitu?" Tanyaku padanya yang berlutut di hadapanku.


"I will." Jawabku yang kemudian meniti haru.


The one and only, hanya dia dan cuma dia yang memperlakukanku seperti ratu di istananya. Tapi... tetap saja aku masih mengira semua ini adalah mimpi.


Dengan sangat gemetran, aku menyodorkan jari manisku dan dia menyambutnya. Dia menyematkan cincin dengan desain yang sederhana dan sangat sesuai dengan seleraku. Tak banyak bicara lagi, setelah itu kami berpelukan sangat lama, teramat lama hingga pak Sasuke datang dengan membawakan sesuatu dari halaman depan.


"Pak, maaf mengganggu tapi ini ada bingkisan dari Nona Haruka." Ucapnya dengan menyodorkan bingkisan tersebut.


Haruka? siapa lagi dia? aneh, apa itu relasinya di kantor? Tapi mengapa sampai mengirimkan sesuatu ke Rumah?


"Buat Bapak saja."


"Tapi Pak?" Pak Sasuke terlihat tak enak hati sementara Pria di sampingku menatap dingin ke arahnya.


"Ba... baik kalau begitu saya permisi." Ucapnya yang kemudian pergi.

__ADS_1


"Tapi Bie, itu kan buatmu bukan buat..." Ucapanku mengambang kala dia menyambarnya dengan segera.


"Buatku kan? Jadi terserah aku kan ingin memberikan pada siapa?"


Ah iya Dia benar. Terserah padanya karena itu suah menjadi hak miliknya.


...Pov Robbie. ...


Si*l!! Ada apa lgi Haruka kembali kepadaku. Aku sudah pernah menolaknya dua tahun yang lalu. Dan sekarang? Dia kembali lagi.


Entahlah, namanya saja sudah berhasil merusak moodku hari ini. Aku sungguh kehilangan gi*ah untuk kembali merayakan hari jadi kami yang baru saja terlaksana tadi.


"Bell, Aku tahu kamu masih menyimpan keraguan itu, tapi tidakkah kamu pernah mendengar sebuah lagu? tidak semua laki laki bersalah padamu~~~~🎢🎢🎢." Aku sengaja bernyanyi di hadapannya dengan suaraku yang pas pasa dan berharap Dia akan bersorak lalu meminta tanda tanganku sesudahnya.


Dia tertawa terbahak bahak sambil memegangi perutnya. "Apasih Bie..." Cicitnya yang masih tertawa.


Bie, panggilan itu terdengar sangat manis di telingaku mungkin baginya itu hanya panggilan sepenggal namaku, Tapi bagiku itu merupakan panggilan sayang yang mungkin berarti Bie dari Hubby yang berarti suami, atau Bie dari Baby yang berarti sayang, atau bisa juga Bie dari abi yang berarti ayah.


Ah, ku tahu aku sudah nyaris gila saat ini. Saat dimana hatiku tengah penuh akan bunga bunga bermekaran dan juga senyumanku yang enggan turun dari tenggeran.


"Kenapa ih, senyum senyum sendiri?" Bidadariku mulai menyadarkanku.


"O.... Oh, tidak apa apa chagi, Oh, iya bakwan udangku mana?" Tanyaku padanya yang menatapku lekat.


"Kirain bakalan lupa, tapi sudah dingin bagaimana? di hangatkan sebentar tidak apa apa kan menunggu?"


Dia berjalan dan aku mengekor di belakangnya melihat bahu kecilnya dari dekat seperti ini membuatku dengan segera ingin memeluknya.


Tangannya mulai terampil dan aktif bergerak memanaskan bakwan kedalam microwave. Dengan segera aku memeluknya dari belakang dang menumpukan daguku pada pundaknya.


Sebenarnya dapat kurasakan dia sangat malu saat ini, sampau sampai degup jantungnya bisa ku rasakan juga.


"Biar bakwannya hangat dalam microwave, dan kamu hangat dalam dekapanku." Kataku yang berbisik di telinganya.


"Gombal." Cibirnya yang justru membuat kami tertawa bersama.

__ADS_1


Maafken bila typo bertebaran dimana mana😭.


__ADS_2