Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
6. I love you Bella


__ADS_3


...🍁🌼🌼🍁...


"Wao....! coba lihat dia. Dia Bella kan?" Beberapa siswa mulai terpana melihat perubahan Bella yang sangat cantik.


"Bell!" Seru Jimmy memanggilnya dari seberang lapangan basket.


Bella acuh dan terus berjalan melaluinya seolah tak melihat keberadaan Jimmy. Hal itu tentunya membuat Jimmy meradang.


"Bella, ada apa?" Jimmy mencekal pergelangan tangan Bella mencoba menghentikan langkahnya.


"Tidak ada apa-apa, awas aku mau masuk kelas!." Kata Bella acuh.


Bukannya membenci, tapi Bella masih sangat ingat bagaimana Sonia memperlakukan dirinya waktu itu tepat sebulan lalu dimana kesalahannya hanyalah bersenda gurau dengan Jimmy.


Bella sengaja menjauhi Jimmy demi keamanannya.


"Ndut! tunggu!!" Jimmy berseru dan membuat langkah Bella terhenti.


"Jangan panggil aku Ndut!!" Bella mengerang kesal, kedua tangannya mengepal di setiap sisinya.


Jimmy yang melihat tingkah laku sahabatnya menjadi gemas dan dengan serta Merta menghambur lalu mencubit kedua pipi Bella. "Jangan marah lagi Ndut, aku kangen tau sama kamu."


"Cih!" Bella menepis tangan Jimmy kasar. "Jangan sentuh aku, nanti pacarmu marah.!"Ketus Bella yang kemudian berlalu pergi meninggalkannya untuk segera memasuki kelas sebab jam belajar sudah hampir di mulai.


Selama jam belajar berlangsung, fokus Jimmy hanya tertuju kepada Bella yang duduk tepat di depannya. Tak sedikit dari teman lelakinya yang mulai tebar pesona untuk mendekati Bella.


Alih-alih merespon sikap genit teman-teman lelakinya, Bella labuh asik menatap layar ponselnya. Entah berbalas pesan dengan siapa tapi yang jelas sosok tersebut telah mampu membuat Bella kembali bangkit dan ceria.


Saat jam istirahat, Bella segera keluar meninggalkan kelasnya. Dia pergi menemui seseorang yang sedari tadi berbalas pesan dengannya.


Bella naik ke atap gedung. Disana sudah menanti segerombolan anak lelaki dari kelas IPS 4 yang terkenal nakal. Ada apa Bella berkunjung ke sarang penyamun?


Datang dan mendekati seorang bujang yang tengah duduk sembari menghisap rokoknya. "Kamu merokok?" Tanya Bella heran.


Ini lingkungan sekolah, dan berani-beraninya berandalan ini merokok? Bella tak habis pikir, ini ibarat kata si lugu yang bertemu suhu.


"Huft....!" Robbie menghembuskan nafasnya membuat asap putih mengepul di udara. "Iya, kenapa? tak boleh?" Katanya datar.


"Woah...! Kamu sungguh-sungguh berandalan tengik." Cetus Bella yang kemudian mendapatkan tatapan aneh dari Robbie.

__ADS_1


"Eh, anak cengeng. Mulutmu pedas sekali."


"Apa itu enak?" Tanya Bella yang terlihat penasaran akan rasa dari benda yang di hisap teman barunya itu.


Robbie mengangguk dan lagi-lagi menghisap rokoknya. Tanpa dia kira, Bella lantas menyambar rokok miliknya dan tanpa rasa jijik karena berbekas bibir Robbie, Bella langsung menghisapnya dan berakhir dengan terbatuk-batuk.


"Uhuk....!uhuk....!" Bella terbatuk dan membuat Robbie menyeringai."Kamu bohong bie, ini tidak enak!" Bella melepehkan rokoknya dan membuangnya sembarangan di lantai.


Melihat hal itu teman-teman Robbie melotot tak percaya. Pasalnya Robbie si ketua geng yang pemarah dan arogan bisa bersikap manis dan tertawa bahkan saat rokoknya di rebut? Oh, mungkin Robbie sedang ketempelan sesuatu yang tak kasat mata.


"Jangan ikut-ikutan chubby!" Kata Robbie yang lalu mengusuk rambut Bella.


"Bie, ini pesananmu." Kata salah seorang temannya yang kemudian memberikan sebuah paper bag pada Robbie.


"Hemm" Robbie mengangguk lalu menggerakkan jari telunjuknya dan teman-temannya dengan serempak undur diri.


"Bagaimana, apa Sonia mengganggumu lagi?" Tanyanya yang kemudian duduk dan membuka paper bag yang di bawakan temannya tadi.


Bella ikut duduk di lantai yang tak beralas. Tapi karena lantai itu kotor dan juga rok Bella yang semakin naik saat digunakan untuk duduk bersimpuh membuat Robbie kembali bangkit dan mengikatkan kemeja di pinggang Bella.


Bella tergugup dan menelan ludahnya. Kejadiannya begitu cepat. Jantungnya berdetak hebat, dan ada rasa menggelitik di perutnya. Suatu hal yang sulit di gambarkan tapi indah dirasakan.


"Ih, otakmu mesum! aku pakai dalaman celana pendek ya!" Bella mendengus kesal dan saat itu juga tanpa sengaja saat dia mengomel sambil menengok, bibirnya menyentuh pipi Robbie.


Robbie tertawa kecil layaknya merayakan kemenangannya. "Kau yang mesum, see! kau yang menciumku terlebih dahulu. Aku tau aku ini tampan. Berandalan dambaan sejuta wanita." Katanya penuh percaya diri.


"O~~~ Whatever!!" Bella memutar bola matanya malas. "Itu tidak sengaja!!"Sanggah Bella sesuai fakta meskipun ada luapan rasa yang tak jelas sebutannya tengah dirasakannya.


"Bell, besok aku sudah tidak akan bersekolah disini lagi." Kata Robbie yang seketika mengubah atmosfer menjadi sedu.


Bella berbalik badan dengan cepat dan menatap jauh kedalam mata Robbie. Laki-laki yang banyak membantunya saat mentalnya drop ini berkata akan meninggalkannya?


Baru saja Bella bangkit dan membuang segala keterpurukannya tapi penyangganya akan pergi begitu saja. Tentu saja jiwa rapuhnya kembali mengepungnya.


"Bie~~~ kamu bohong kan? kamu bercanda kan?" Gadis cengeng itu sudah siap meluruhkan bendungan air matanya.


"Tuh kan cengeng! jangan nangis," Robbie tersenyum manis.


"Tapi kamu mau pergi kenapa? mau pindah sekolah lagi?"


"Kau benar, pintar sekali kau."

__ADS_1


"Bie, kalau kamu pergi nanti bagaimana aku... aku...."


Robbie tertawa-tawa menatap gemas wajah Bella. "Jangan takut, teman temanku yang akan menjagamu. Lagian kita lulus juga hanya tinggal beberapa bulan lagi kan?"


"Tapi bukanya sulit mengurus kepindahan saat sudah mepet semester?"


"Kalau ada uang, tak akan ada yang sulit. Lagian aku setelah ini hanya akan homeschooling."


"Tapi kenapa? jadi kamu panggil aku kesini hanya untuk berpamitan?" Tanya Bella dengan matanya yang membulat sempurna.


"Astaga!! jangan pasang ekspresi seperti itu Bella. Aku jadi takut."


"Takut?" Bella mengernyit.


"Iya takut, bagaimana nantinya kalau aku berjauhan denganmu sedang hatiku sudah merasa nyaman bersamamu."


"Huwek...! kau menggombal lagi." Bella berlagak seolah-olah memuntahkan sesuatu.


Pasalnya selama mereka bertukar pesan dalam masa libur sekolah, Robbie sering sekali melayangkan candaan, pujian, dan rayuan. Entah itu tulus dari dalam hati atau sekedar pemanis percakapan. Entahlah, hanya Robbie dan tuhan yang tahu.


"Bella, berjanjilah padaku kau akan hidup dengan berani. Kau akan hidup dengan baik dan bahagia." Kata Robbie menatap serius Bella dan menggenggam kedua tangannya.


Bella tersenyum manis, manis sekali membuat jantung Robbie berdetak tak menentu. Ah, manisnya. Pujinya dalam hati.


"Iya, aku berjanji. aku akan hidup dengan baik, akan melawan mereka yang menindas ku dan menunjukkan kalau aku ini bukan gadis cengeng." Katanya bersemangat.


"Bagus!" Ucap Robbie yang kemudian menunduk lesu.


Sadar dengan perubahan wajah Robbie, Bella lalu mengguncang kedua tangan Robbie yang masih di genggamnya. "Kenapa? ada apa lagi Bie?"


Sambil menunduk dan menatap kakinya yang menapak lantai Robbie berbicara. "Sebagai perpisahan, boleh aku memelukmu?" Tanyanya penuh pertimbangan.


Bella menggeleng. Robbie menunduk lesu Setelah melihat respon Bella yang menggerakkan kepalanya ke kanan-kiri secara cepat.


"Oke, maafkan aku. Harusnya aku..." Belum selesai Robbie berbicara, dia sudah mendapatkan pelukan hangat dari Bella.


"Aku tentu akan memelukmu, kau orang baik bie." Kata Bella lembut dan tangannya bergerak menepuk-nepuk punggung Robbie.


Terimakasih Bella, untuk waktu yang singkat kita bersama kau telah mengukir banyak indah cerita bersamaku.


I love you Bella. Gumam Robbie di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2