
...🌺🌺🌺...
...POV Bella....
Bella Amelia. Kenapa kisah percintaanmu begitu tragis?
Aku selalu di tolak oleh adiknya dan berhasil menjalani hubungan dengan kakaknya. Tapi pada akhirnya hubungan kami kandas karena keadaan.
Sakit sekali.....
Apa yang bisa kulakukan di tempat asing ini sendirian untuk melipur laraku?
Aku sudah menangis semalaman di ruang tamu. Rumah ini sangatlah asing bagiku. Dimalam yang dingin ini entah mengapa aku menjadi ketakutan sendiri.
Apalagi rumah ini adalah bangunan tua yang telah lumayan lama tak disinggahi. Sambil menangis, sedari tadi telinga dan mataku mencoba untuk tetap waspada mendengarkan suara-suara yang mungkin mampir di telinga.
"Kak, kenapa harus putus sih?" Aku berbicara pada gambar mantan pacarku.
"Tidak bisa ya, kau tetap tinggal disini dan menendang Jimmy pulang?" Aku menyeka air mataku.
"Aku masih kangen tau, tapi kamu malah mutusin aku. Hiks....! hiks....! Bella.... betapa malangnya dirimu." Aku menggumam seorang diri, meratapi keputusannya yang tak kurelakan tapi harus terjadi.
Aku hany bisa meringkuk memeluk bantal dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut hangat. Hawa dingin semakin menguar membuatku kembali terbangun di sepertiga malamku dan setelahnya aku tak bisa kembali memejamkan mataku.
"Ayo sih, tidur. Besok harus masuk kelas pagi." Kataku pada mataku yang sembab.
"Hachu!" Hidungku mulai tak bersahabat. Aku mulai bersin-bersin. Mungkin ini memang cara tubuhku beradaptasi dengan lingkungan baru.
"Sseerrkk, Ah...!" Aku mulai mencari sisi rongga yang bisa kugunakan untuk menghirup udara hidungku mulai mampet.
"Ayo badan, jangan sakit.. Tetap sehat ya.." Aku mengusap-usap kedua lenganku memberikan afirmasi positif agar tubuhku merasa lebih baik.
__ADS_1
...POV Author....
Terkadang, jawaban dari sebuah doa ataupun harapan yang tak sengaja terlontar dari lisan kita, sungguh Yang Maha Esa akan mengabulkannya. Bukan perkara baik atau buruk, semua itu hanya perkara waktu.
Setelah terucap, doa akan terbang lalu menggantung di langit. Menunggu ridho dari Yang Maha Esa lalu kembali mendarat di bumi mencari si pengucapnya.
Satu yang pergi dan selalu kembali ialah doa kita. Tapi manusia pasti akan melupakan kapan permintaannya itu ia utarakan sedangkan lisannya sendiri mengecap tanpa kesengajaan.
Bella yang tanpa sengaja pernah meminta dalam hatinya, untuk menjalani semuanya agar mengalir seperti air, kini Tuhan mengabulkannya. Semuanya mengalir bercampur dengan derasnya air mata sebagai penebusnya. Tapi, apakah Bella menyadari hal itu?
Tidak, tentu tidak. Dia dalam hati sedang merutuki apa yang terjadi, padahal jauh sebelum itu dia sendiri pernah berucap ingin menjalaninya seperti air yang mengalir.
Lalu dimana yang salah?
Tidak ada yang salah, hanya saja cara Tuhan menyelesaikan maslahmu, caranya mengirimkan malaikat penjaga untukmu itu tak bisa kau duga.
Cara Tuhan menyelesaikan berbeda pemahaman dengan caramu menerima dan berucap terimakasih.
Hanya pada sesuatu yang indah, manusia berucap terimakasih pada sang penciptanya. Tapi mereka tak pernah tau dan mau berucap terimakasih pada luka dan air mata. Tidak tahukah mereka, bahwa Tuhan sengaja menguras air mata kita untuk menerbitkan senyum bahagia setelahnya?
Bella dengan mata sembabnya mulai kembali aktif mengerjakan tugas-tugas barunya. Kepalanya mulai berdenyut sekarang. Semua tugas yang di kirimkan padanya menggunakan huruf kanji.
"Ah, ini pilihanku. Ini mimpiku. Tapi lihat sekarang, aku banyak mengeluh. Mataku saja panas melihat huruf-huruf ini. Adakah yang bisa membantuku?" Bella bermonolog dengan layar laptopnya.
"Tak mungkin juga untuk setiap apa-apa aku harus merepotkan Madam." Dia menggumam lagi.
Sebenarnya bukan salah mata atau huruf kanjinya. Ini semua hanya karena hatinya saja yang masih memeiliki luka menganga. Lukanya masih baru dan membuatnya begitu rapuh.
"Kak, Rama. Apa dia sudah sampai?" Bella melihat jam analog di layar ponselnya. "Seharusnya sudah. Lalu.... kita sudah putus, apa masih bisa aku menghubunginya?" Dia menimang-nimang sendiri perasaan dan logikanya.
Mulutnya terus bergerak-gerak, dia menggigiti bibir bawahnya. " Ah, tidak! aku kesini untuk belajar, selesai, wisuda, lalu bekerja dengan jaminan masa depan. Sudah... hanya itu. Fokus, jangan pikirkan yang lain lagi." Bella mencoba untuk kembali pada sosoknya yang sebelumnya. Sosok ceria yang selalu berfikir positif.
Di lain tempat.
__ADS_1
Di sebuah kantor dengan ruangan yang bertema monokrom yang sarat akan keteduhan dan juga beberapa titik hijau di sudut ruangan, Seorang pemuda yang baru saja diresmikan menjadi CEO sedang berdiri dan menatap jauh ke jendela luar.
"Fokus belajarnya, jangan pikirkan yang lain." Gumamnya kemudian berbalik dan duduk di kursi kebesarannya.
Rama berbicara pada udara, tapi jiwanya seolah terhubung dengan seseorang yang berada nan jauh di sana. Seseorang yang beberapa jam lalu baru di putuskannya dan sukses membuatnya menderita hingga kini.
"Pak, sebentar lagi acara peresmian serah terima jabatan akan di laksanakan. Para dewan direksi sudah berada di auditorium." Tamara membacakan agenda serah terima jabatan yang harus Rama hadiri.
"Hem!" Jawab Rama dengan singkat padat dan jelas tanpa bergeming dari kursinya.
Astaga, bos baru dinginnya minta ampun. Dari pertama masuk, kalau di bacakan apa-apa responnya pasti hanya. HEM! tidak ada yang lain apa? Tamara mendumel dalam batinnya.
Tamara, dia sekretaris Rama sekarang. Ayah Dandi yang memilihnya dan tidak dapat di ganggu gugat. Tamara di tunjuk sebagai kandidat terbaik untuk memperkenalkan seluruh seluk-beluk dari sistem kerja perusahaan.
Tamara menutup tabnya dan melihat Bos barunya dengan mata sembab. Rama sukses menangis semalaman setelah mengakhiri hubungannya. Dia begitu tak rela, tapi ini merupakan jalan tengah agar tak berkepanjangan dalam lara.
Tapi, meskipun demikian dia tetaplah merasakan sisi kosong dalam hatinya begitu merongrongnya.
"Pak, maaf mata bapak sembab. Saya tidak tahu anda kurang tidur atau bagaimana, tapi ijinkan saya untuk menghilangkan sembab di mata anda. " Ucap Tamara.
" Tidak usah! pakai kacamata hitam saja selesai urusan." Tolak Rama.
"Tapi Pak, itu terkesan tidak sopan. Para anggota dewan direksi kebanyakan adalah orang yang usianya jauh di atas anda. Jadi, bila anda memakai kacamata hitam di tengah acara yang akan di sorot beberapa kamera, saya rasa itu tidaklah beretika." Ucap Tamara menjelaskan panjang lebar.
Rama yang duduk di kursinya sambil memejamkan matanya bersandar pada kursi hanya memberikan deheman. " Hem!" Jawabnya membuat Tamara menggaruk-garuk pelipisnya.
Tamara tak mengerti arti dari Deheman si bos.
"HEM, apa ya pak? Iya atau tidak?" Tanyanya lagi.
"Iya!" Sahut Rama dengan nada suara yang meninggi membuat Tamara terkesiap.
" Baik, Pak. Akan saya kompres sebentar." Tamara pergi meninggalkan ruangan si bos baru.
__ADS_1
Untung ganteng, kalau ga. Dih,,,! Tamara bergidik sambil berjalan meninggalkan ruangan Rama.