Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ ada apa dengan jantungku?


__ADS_3


...🌟🌟🌟...


"Apa maksudnya? dan dia terlihat tidak suka aku menolak perlakuan baiknya?" Gumam Bella.


Setelah kepergian Robbie, perawat yang bertugas masuk kemudian memeriksa keadaan Bella. Memastikan jika pasien yang berada di bawah tanggung jawabnya dalam keadaan stabil dan baik-baik saja.


Mereka berbincang dalam bahasa Jepang.


"Apa masih terasa nyeri?" Tanya si perawat.


"Tidak, sudah lebih baik. Hanya saja kepalaku masih pusing." Jawab Bella mengeluhkan keadaannya.


"Oh, itu tidak apa-apa. Itu hanya karena asam lambungmu. Tidak apa-apa, hari ini juga sudah boleh pulang. Tapi nanti setelah dokter melakukan kunjungan." Terangnya.


"Oh Benarkah? Terimakasih." Ucap Bella yang kemudian menundukkan kepalanya sedikit untuk memberikan rasa hormat sesuai dengan budaya di sana.


"Baiklah kalau begitu saya tinggal." Kata perawat yang kemudian undur diri setelah memberikan obat dan juga makan pagi pada pasien.


Bella menatap jengah makanan yang tersedia. Naf*u makannya benar-benar kacau sekarang. Di tengah keadaan yang tidak memungkinkan untuk bepergian jauh karena di luar sedang ada badai salju, Bella malah membayangkan menyantap semangkuk bakso hangat lengkap dengan pangsit dan juga sambal ekstra hot.


"Kemana dia? apa marah padaku karena aku salah berbicara?" Gumam Bella saat melihat ponsel dan juga dompet Robbie yang masih tergeletak di atas kursi.


"Dia begitu baik, dan ku harap dia memang baik ke semua orang." Lirihnya lagi berbicara seorang diri dan kemudian meminum obat yang telah di sediakan sebelum makan.


Tak ada pilihan, Bella kembali berbaring dan menatap layar TV yang kepalanya semakin pening saat melihat acaranya yang berbicara dengan begitu cepat dalam bahasa Jepang.


Bella memang bisa berbicara dalam bahasa Jepang. Hanya saja, kendalanya adalah jika cara bicaranya begitu cepat maka dia akan salah mengartikan kalimat yang terucap karena ada beberapa kata yang homofon.


Bella yang seharusnya makan malah kembali tertidur. Sedangkan Robbie, dia tidak pergi jauh. Dia hanya menuju ke lantai bawah yaitu ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan.


"Ah, dia kembali tidur." Kata Robbie bermonolog dan kemudian mendekati Bella dan meraba kening si gadis yang sebenarnya belum terlalu lelap. Dia masih bisa mendengar suara di sekitaran.


"Makanannya belum di makan." Kata Robbie memeriksa makanan yang masih utuh di meja tanpa tersentuh.


Robbie kembali duduk di tepi ranjang dan mengusap lembut pucuk kepala Bella. " Kamu menghawatirkan tentang siapa tunaganku. Bella, calon tunaganku itu kamu. Aku mempersiapkan satu cincin yang sama dengan ini hanya untukmu. Hanya saja, waktunya belum pas. Dan aku tahu, kamu juga butuh waktu untuk menyembuhkan hatimu." Kata Robbie dengan lembutnya seolah berbisik di telinga Bella.


Apa? cincin untukku? Apa maksudmu Bie? Atau jangan-jangan dia menyukaiku? Ah tapi hatiku masih meragukan tentang hubungan. Dari kegagalanku bersama Rama, aku mulai mengerti bahwa komitmen itu tidak selamanya bisa sukses mengikat dan membuat pasangan kita tetap pada sisi yang sama selamanya.


"Cepat sembuh Ya." Kata Robbie.

__ADS_1


Bella masih memejamkan matanya. Sudah kepalang basah baginya untuk berpura-pura tidur. Akan malu sekali jika tiba-tiba membuka mata saat ada Robbie.


Terdengar derit pintu terbuka dan ruangan menjadi sunyi. Bella yakin jika Robbie sudah pergi. Dia Perlahan-lahan membuka matanya. Mengeryip dengan sangat hati-hati.


"Ah, leganya. Dia sudah pergi." Bella membuka matanya. " Huh, kenapa aku jadi berdebar begini? Ah, pipiku memerah mendengarkan dia berkata telah mempersiapkan cincin untukku. Apa benar ya?" Tebaknya karena penasaran.


Di lain tempat.


"Bie, kamu tidak pulang semalam. Kemana?" Tanya Nenek Mirna yang khawatir akan keadaan cucunya.


Robbie memeluk sang Nenek dengan eratnya, menularkan hawa positif yang di bawanya setelah semalaman bersama Bella. "Tidak kemana-mana nek, hanya menemani Genta. Dia butuh teman bicara jadi aku menemaninya dan ketiduran di sana." Bohongnya.


"Oh, kalau begitu kemarilah kita makan dulu. Kamu belum sarapan kan?"


Robbie menggeleng.


"Bungkus saja ya Nek, Oby terburu-buru dan harus ke kantor setelah ini. Jam 9 masuk nek, ini sudah jam 8."


"Oh, ya sudah. Iya nenek bungkus ya." Ucap Nenek Mirna tanpa curiga.


Selagi Nenek Mirna membungkus makanan, Robbie dengan segera bergegas menuju ke kamarnya dan membersihkan dirinya. Dia ingin mandi dan segera kembali menemani Bella.


Robbie kembali dengan wajah yang begitu cerah. Dia tersenyum dan merangkul sang Nenek dari belakang. "Sudah siap nek?" Tanyanya dengan nada bicara lembut menyapa pendengaran.


"Ini, kamu tumben sekali Bie, mau bawa bekal segala ke kantor?"


"Emmm.... gimana ya. Masakan rumah lebih enak Nek." Jawabnya bohong.


Robbie mana mau ribet mengurus soal bekal makanan sebelumnya. Dia lebih memilih makan apa yang ada di kantor, sebab dia bukan pemilih dalam hal makanan. Tapi, karena Bella dia mau repot-repot membawa bekal yang semua menunya adalah makanan ala Indonesia.


"Memang kan? makanya kamu cepat bawa bela kesini, cepat bertindak Bie. Nenek tidak tau kapan Nenek akan pergi." Ucap Nenek dengan wajah sendu.


"Nenek, jangan bicara seperti itu. Oby jadi sedih kan. Nenek pasti akan punya umur panjang dan mengasuh anak-anak Oby nanti. Nenek mau punya Cicit berapa?" Robbie menghibur sang Nenek.


"Hem Bie.... bie.... calonya saja belum pernah kamu bawa untuk menemui Nenek, sudah tanya mau cicit berapa?" Cibir sang nenek sambil menggeleng.


"Ya sudah nek, tunggu saja sebentar lagi Oby akan bawakan cicit yang banyak. Hahaha!" Robbie tertawa kecil.


"Sudah sana berangkat. Nanti kamu terlambat."


"Terlambat juga tidak ada yang berani marahin Nek." Ungkapnya.

__ADS_1


Sang Nenek hanya tertawa kecil. Bagaimana bisa lupa kalau cucunya adalah pemimpin sekaligus pemilik sah perusahaan?


...~~~...


Di rumah sakit.


Bella yang kembali terlelap harus terbangun karena mendengar suara dering ponselnya.


"Aduh, bunda menelfon. Aku harus bagaimana?" Bella melihat ketempat dia di rawat sekarang.


"Jika di angkat, Bunda pasti akan sangat khawatir. Aku harus bagaimana?" Bella clingukan. "Oh, jendela... iya jendela." Gumamnya setelah menemukan ide.


Bella turun perlahan dari ranjangnya dan membawa tiang penyangga infus. Dia berjalan dengan sangat hati-hati, tubuhnya masih lemas dan kepalanya pusing. Tak ada pilihan, Bella sudah terengah-engah meskipun hanya sedikit melangkah menuju ke jendela.


"Bell!" Seru Robbie yang membuat Bella menoleh dan menghentikan langkahnya.


Dengan segera Robbie meletakkan bungkusan yang di bawanya dan bergegas membantu Bella.


"Mau kemana?"Tanyanya.


"Bundaku telfon Bie. Aku tak mungkin menjawabnya di dalam keadaaan begini. Paling tidak aku tidak membuat orang tuaku khawatir kan?"


"Kamu mau mencari tempat agar tak terlihat seperti di rumah sakit?"


Bella mengangguk. Astaga untung saja aku tadi pakai masker. kalau tidak bisa pingsan dia karena bau mulutku. Aku belum sempat gosok gigi.😭.


"Ya sudah di jendela saja, aku bantu." Kata Robbie yang kemudian menatakan meja dan kursi di depan jendela. Dia begitu cekatan dan Bella hanya terdiam melihatnya.


Saat Bella merasa sudah siap dan duduk dengan nyaman. " Ah, baju!" Kata Robbie mengejutkan Bella.


" Iya, bajuku bagaimana?" Bella menunduk melihat bajunya yang masih mengenakan baju pasien.


Tanpa berlama-lama, Robbie segera melepaskan jasnya dan juga kemejanya yang berwarna hitam.


"Nah pakai ini Eoh, dan jangan banyak protes. Cepatlah hubungi ibumu dan jangan buat dia khawatir." Kata Robbie.


Bella yang mendapatkan perlakuan seperti itu. Sungguh jantungnya terasa tak sehat, debarannya menjadi begitu kuat, pipinya memerah dan juga dia berkali-kali menelan ludahnya perlahan melihat tampilan roti sobek yang di padukan dengan sinar kekuningan mentari.


Ah, nikmat mana yang kau dustakan Bella?


Oh, jantungku... apa sekarang aku punya sakit jantung juga? Kenapa berdebar tak karuan begini, dan suhu disini juga menjadi panas dengan tiba-tiba. Apa sedang terjadi anomali cuaca?

__ADS_1


__ADS_2