
b
...🍀🍀🍀...
Ketika berusia dewasa, bagian otak yang sedang aktif-aktifnya berkembang adalah Prefrontal cortex. Bagian ini memiliki peranan dalam proses membuat perencanaan, pertimbangan, penilaian, mengendalikan keinginan yang muncul dalam pikiran.
Seiring dengan terjadinya perubahan alamiah pada fungsi otak, tentunya perilaku akan berbeda ketika masih remaja. Pada masa dewasa ini, ada keinginan untuk berfikir membuat rencana masa depan.
Dalam proses membuat rencana ini, Prefrontal cortex otak akan melakukan sejumlah pertimbangan dan menilai berbagai alternatif yang muncul dalam pikiran.
Hal ini juga yang tengah dihadapi oleh Bella dan Jimmy, keduanya berada dalam satu garis usia yang sama. Bella bukanlah tipe manusia yang tak bernaluri, Dia begitu iba melihat keadaan sahabatnya yang tengah di rundung peliknya masalah.
Sedangkan Jimmy dia tak memiliki tempat sebagai wadah untuk membagi masalahnya saat ini kecuali Bella. Keduanya saling berkesinambungan untuk saling membantu dan mencari solusi dari masalah yang jimmy alami.
Dalam ruang tamu, Jimmy tertidur setelah mereka makan malam di luar, bukan sesuatu yang mahal atau mewah, Bella hanya mengajak Jimmy untuk makan makanan di dekat perumahan mereka. Wajah Jimmy terlihat begitu lelah. Bella dapat memahami mengapa jimmy sampai kabur dari rumah, itu semua sudah pasti tak lepas dari sikap Ayah Dhani yang begitu keras.
"Kalau sedang tidur begini, siapa yang mengira jika kamu ini anak bandel?" Bella menggumam sembari memakaikan selimut pada Jimmy.
Hawa dingin mulai menjalar, memenuhi setiap ruangan yang ada. Bella terdiam menatap layar ponselnya. Ada sesuatu yang dinantikannya saat ini, seseorang yang juga sama-sama sedang menghadapi masalah dan lagi-lagi dia tak bisa membantunya.
"Kamu sedang apa Bie?" Bella melamun menatap layar ponselnya. "Aku hubungi atau tidak ya?"
Dia begitu ragu bahkan hanya untuk sekedar memulai percakapan saja.Sebenarnya tak ada salahnya jika Dia memulai terlebih dahulu untuk sekedar menanyakan kabar. Namun, lagi-lagi Bella menjadi urung dan lebih memilih untuk berusaha tenang.
"Apa dia marah padaku? tapi dari nada bicaranya sangat terlihat jika dia sedang marah." Ucapnya bermonolog pada langit-langit kamarnya.
Pagi harinya.
Ponsel Bella berdering berkali-kali, Ayah, Bunda, dan juga Rama, semuanya menghubunginya. Bella terkesiap melihat semua catatan panggilan yang terabaikan. Seketika dia menuju keruang tamu. Terlihat Jimmy yang sedang meringkuk lelap.
__ADS_1
"Jim, bangun! Ayah dan Bundamu menghubungiku semalam. Jim...., Jim...., Jimmy!" Bella mengguncangkan tubuh Jimmy yang bergeming dan hanya merintih lirih.
Bella ketakutan kal melihat Jimmy berbalik badan dengan wajahnya yang pucat. "Bangun Jim, jangan membuatku takut. Ayolah, bangun!" Lagi-lagi Bella mengguncang tubuh Jimmy perlahan.
Tangan Bella terulur dan menempelkan punggung tangannya di dahi Jimmy. Laki-laki yang beranjak dewasa itu demam. Tubuhnya menggigil, merasa tak ada pilihan lainnya, Bela memutuskan untuk membawa Jimmy ke rumah sakit.
Dokter segera memberikan penanganan dan itu semua tak lepas dari bantuan madam Yuki.
"Kamu harus tetap berangkat Bella, tidak bisa absen lagi. Dia, biarkan dia beristirahat disini, aku yang akan menjadi walinya. Jika ada sesuatu biar aku yang mengurusnya. Kamu tenang saja dan kerjakan tugasmu."
"Iya Madam, Saya akan berangkat sekarang."
Dengan ketidakrelaan yang berbalut dengan keterpaksaan, Bella akhirnya melangkahkan kakinya walau dengan langkah gontai. Dia begitu mencemaskan keadaan laki-laki yang pernah dekat dengannya itu.
Andai saja Bella tahu, bukan sekali ini Jimmy berada dalam keadaan terpuruk seperti ini, ini adalah kali keduaya berada pada titik rendah dalam hidupnya. Tapi yang lebih membekas di hatinya adlah ketika melihat Bella bersama dengan Rama.
Di usia seperti mereka berdua ini yang sedang berada pada masa transisi, merupakan hal yang berat jika di benturkan dengan keadaan rumit seperti ini. Tidak adanya kekuatan, jauh dari dukungan dan minim pengetahuan tentang masalah yang sedang mereka hadapi, membuat keduanya hilang arah layaknya sebuah layangan putus.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Robbie tiba-tiba menghubunginya ketika Bella sedang bersiap untuk menemani Jimmy di Rumah sakit sembari menunggu keluarga Jimmy datang menjemputnya.
...Panggilan video call terhubung. ...
"Hallo!" Sapa Bella tanpa semangat dalam nada bicaranya. Dia bahkan kehilangan gai*ah bahkan sekedar untuk tersenyum.
"Kmu kenapa? nada suaramu terdengar sedih. Hei, ada apa dengan wajahmu? kmu nangis?"
"Aku tidak apa-apa. Bagaimana pemakaman Nenek?" Alih-alih menjawabnya, Bella memilih untuk menyembunyikan kesedihannya. Dia menunduk sesaat dan mengusap air matanya.
Tentu saja robbi melihat itu, bahkan sebenarnya dia sudah mengetahui semuanya dari Madam Yuki. Termasuk dengan Jimmy yang sedang berada di Rumah sakit.
Hanya saja, Robbie tetap pada misinya. Dia tetap menyembunyikan semuanya sampai nanti tiba masanya. Dia hanya ingin Bella tetap merasa nyaman, meskipun tanpa ada dia di sampingnya.
__ADS_1
"Baik, semuanya berjalan lancar. Tapi, aku ingin memberitahukan satu hal padamu, mungkin aku baru akan kesana setelah semua urusan disini selesai."
"Iya, tidak apa-apa, selesaikan saja urusanmu dulu, aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Kau belum menjawabku tadi, kenapa menangis? apa sudah sangat rindu padaku sampai-sampai kau menangis seperti itu?"
Bella tertawa mendengarkan kenarsisan Robbie yang berada pada level atas tersebut. Bisa-bisanya Dia begitu percaya diri?
Bella menatap wajah Robbie, Dia terdiam sejenak lali kembali menyahut omongan Robbie. "Iya, Aku sangat merindukanmu. Apa kau senang mendengarnya"
Robbie tetap tersenyum senang, sekalipun Dia tahu Bella hanya berbohong dan enggan membaginya. Baginya kebohongan itu lebih manis dari apapun yang pernah di dengarnya kini.
"Apa sudah lebih baik sekarang?" Tanya Robbie.
"Ya, sudah lebih baik." Kata Bella.
"Baik, kalau begitu au tutup dulu ya? jangan sungkan untuk menghubungiku ya Chagi?"
Sepenggal kata Chagi mampu menyihir Bella dan membuatnya tersenyum. Robbie mengakhiri panggilannya dan Bella tetap tersenyum meskipun panggilan telah terputus.
Mengapa setiap ada Dia, Aku selalu saja merasa nyaman, dan aman? Dia selalu saja memilki cara untuk membuatku tersenyum? Berpisah sebentar dengannya sudah membuatku gelisah. Ada apa ini?
Di tempat lain.
"Mengapa kau tidak memberi tahuku cerita yang sebenarnya?" Robbie terdiam menatap layar ponselnya.
Sejujurnya Dia begitu ingin kembali ke tempat di mana Bella berada sekarang ini. Tapi Dia bukanlah ank kecil lagi yang mudah berubah pikiran dan tidak bertanggungjawab pada sebuah urusan.
Tua itu pasti, tapi kedewasaan di tunjukkan dengan bagaimana kita bertanggung jawab pada setiap lisan. Dan Robbie sekarang sedang berada pada tahap tersebut. Dia berusaha bertanggung jawab dengan semua keputusan yang telah di ambilnya termasuk mengenai pembiayaan Bella yang sebenarnya Dialah yang menjadi pendukung utama.
Akankah semua misinya berjalan mulus setelah kepergian Nenek?
__ADS_1