Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Mengakui


__ADS_3

...🦢🦢🦢...


"Ada apa Kak? kenapa kemari? bukanya tadi kita baru saja bertemu?" Bella sungguh bertanya-tanya mengapa Rama terkesan begitu enggan untuk berjauhan denganya.


Rama malah terdiam lalu dia tidur dengan posisi tengkurap. Bella hanya bisa menggeleng lalu mengunci pintu. Harus di akuinya ini pertama kalinya Rama berani dan berbuat nekat. Tidak pernah sebelumnya Rama masuk ataupun sampai berani berbaring di ranjang sang pacar.


Rama menunjuk punggungnya. Bella paham apa maksudnya, tentunya Rama minta di pijit. Bella mendekat dan mulai memijit Rama perlahan. Belum sempat ada sepuluh menit, Rama kemudian terduduk dan menggenggam tangan Bella.


"Bell, Kita menikah yuk!" Ucap Rama tanpa ada unsur romantis sama sekali. Ini lamaran tapi terkesan seperti permainan. Meminta si wanita untuk menjadi pendamping hidup tapi dengan cara yang asal-asalan.


"Ish...! Jangan bercanda, Aku masih kuliah kan? dan kau juga bagaimana dengan jabatanmu? baru saja naik masa iya mau turun lagi?"


"Cukup kita menikah secara siri saja, supaya kita Halal, aku lelah harus menjaga keinginanku...."


"Kak, menikah siri itu merugikan wanita. Kalau saja kita menikah lalu aku hamil sedangkan aku masih kuliah dan beasiswa ku di cabut lalu aku di keluarkan dari kampus bagaimana? Sudah jelas aku tidak bisa menuntutmu secara perdata. Aku yakin kau lebih paham akan pasal itu."


"Tapi...., aku begitu takut kau akan di rebut oleh lelaki lain." Ucap Rama sungguh dengan ketakutan yang nyata. Matanya sampai berkaca-kaca.


Aneh sekali, dia terlihat sangat bersungguh-sungguh akan hal ini. Ini sudah dua kalinya dia bicara seperti ini. Mengajakku menikah siri. Ada apa?


"Hei! tenanglah aku tidak akan kemana-mana, tidak akan ada yang berani merebutmu darimu. Kau kan polisi." Ucap Bella yang sebenarnya hanya ingin menghibur dan membesarkan hati kekasihnya.


Rama terlihat kecewa akan ucapan Bella. Dia begitu mendamba akan jawaban iya.


"Ya sudah kalau begitu, aku pulang ya. Jangan begadang, apalagi nonton drakor." Kata Rama yang kemudian mengusuk kepala Bella.


Rama berjalan hendak melangkah keluar dari jendela, tapi langkahnya terhenti kala melihat bekas congkelan di kusen jendela. "Kenapa ini?" Tanyanya terheran.

__ADS_1


Bella mulai kebingungan untuk mencari jawaban menutupi keburukan yang Jimny lakukan. "Em.....," Bella terlihat kebingungan.


"Apa Jimmy?" Terka Rama menatap serius Bella yang gelagapan dan memilin ujung baju tidurnya.


"Dengarkan aku Bella. Bukan aku cemburu buta padamu dan adikku sendiri. Tapi kau sudah besar. Kau harus sadar sayang. Tidak ada yang namanya persahabatan antara wanita dan pria. Itu sangat langka." Rama berbicara sambil duduk di bangku yang ada di balkon.


"Kak, aku ingin mengakui sesuatu. Tapi kau jangan marah." Ucap Bella yang sudah tertunduk lesu. Dia juga merasakan malu yang luar biasa.


"Apa hum?" Rama mengusap rambut Bella dengan sayang. "Katakan, apa itu. aku janji tidak akan marah padamu."


Bella menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai menceritakan semuanya tentang kebiasaan Jimmy yang menyusup masuk ke kamarnya. Rama menahan nafasnya dan menggertakan giginya. Dia begitu emosi dengan sikap Jimmy yang oportunis.


Raut wajah Rama berubah menjadi merah padam. Dia mengepalkan tangannya sampai buku-buku tangannya memutih. Dia lalu membawa Bella kedalam dekapannya.


"Dengarkan aku. Mulai besok kau harus pindah dari kamar ini. Pindahlah, ke kamar yang ada di lantai bawah."


"Disana tidak ada kamar kak. Adanya gudang di dekat dapur." Kata Bella dengan jujur.


"Tapi Kak, kalau Ayah dan Bunda bertanya bagaimana? biarkan aku mencari jalan keluarnya ya. Kau jangan cemas. Aku rasa Jimmy juga sudah tidak akan berani menggangguku lagi." Bella berkata seolah semuanya baik-baik saja. Padahal saat ini pun hatinya masih di gerogoti rasa bersalah karena ciuman paksa dari Jimmy.


"Bohong! aku tau dia menciummu saat aku tinggalkan tadi kan?"


DEG!!


Bella terdiam seribu bahasa. Mulutnya serasa terkunci rapat dan tubuhnya melemas seakan tak bertulang. Dia tanpa sadar kemudian menitikan air matanya dan segera mengeratkan pelukannya. " Jangan marah padaku Kak."


"Sungguh, saat itu bukan karena mauku. Dia menciumku secara paksa. Aku takut akan melukainya jika aku memberontak terlalu kuat." Ucapnya di dada bidang Rama.

__ADS_1


"Sungguh? bukan karena kau juga masih memiliki rasa terhadapnya?" Ketus Rama tiba-tiba.


Bella menengadahkan kepalanya, dia mendongak dan menatap Rama yang terlihat dingin dan datar. "Dari tadi, aku selalu mencoba untuk menetralkan perasaanku. Tapi apa? aku tetap tidak bisa mengontrolnya. Dia menciummu disini kan?"


Tanya Rama sambil mengusap bibir Bella dengan jempolnya. "Bersihkanlah." Ucap Rama dengan afeksi dan sorot mata tajam membuat Bella bergidik ngeri melihat kilatan kemarahan di mata pacarnya.


Rama pergi begitu saja. Meninggalkan Bella dengan segala rasa bersalahnya.


Di sebuah kamar rawat inap.


"Ayah, apa dulu hubungan Ayah dan Tante ria berjalan baik?" Tanya Jimmy pada sang Ayah yang tengah duduk mengupas jeruk untuknya.


"Baik, sangat baik. Ayah sampai tak mengira jika ada laki-laki yang akan mencintainya dan sampai menikah."


"Emm ... Apa ayah tidak ada niatan untuk mengunci hubungan persahabatan itu?"


"Maksudmu?" Ayah Dandi yang tidak paham akan arah pembicaraan putranya kemudian mulai menatapnya dengan serius.


Jimmy ragu, tapi tetap mengutarakan niat dan kesungguhannya. Dia benar-benar menunjukkan bendera perang dengan Rama sekarang. Bahkan dia mencuri start.


"Ya, kalau Ayah punya cucu dariku dan Bella kan hubungan kalian akan selalu terjalin. Semakin akrab dan erat." Cetus Jimmy.


Ayah Dandi terdiam seperti sedang berpikir. " Dulu sebenarnya saat kalian masih kecil. Lebih tepatnya saat Bella baru lahir. Kami memang memiliki niatan untuk menjodohkan anak kami. Tapi... kau kan sudah menolaknya dan berkata jika tidak akan pernah mau menikahi gadis gendut seperti Bella."


"Tapi kan itu dulu Ayah." Rengek Jimmy.


"Nak, laki-laki itu yang di pegang omongannya. Pada saat itu Ayah memegang omonganmu dan bahkan setuju dengan perkataanmu. Mana mau Ayah menikahkanmu dengan wanita yang gendut. Jadi Ayah menyodorkan Rama sebagai penggantimu. Keluarga Bella sudah memegang surat perjanjiannya dan akan menikahkan Bella dan Rama setelah Bella wisuda."

__ADS_1


Jimmy hanya bisa tercengang. Ternyata setiap candaannya di anggap serius oleh sang Ayah. Jimmy yang saat itu masih SD pun bicaranya masih ngelantur sudah di jadikan sebagai pernyataan penolakan.


Mereka terlalu cepat mengambil keputusan. Siapa yang tau jika sekarang Bella berubah menjadi gadis yang langsing dan cantik? Jimmy hanya bisa menyesali pengakuannya ini. Kini dia mengakui betapa bodohnya dirinya.


__ADS_2