Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Siap!


__ADS_3


...🦢🦢🦢...


"Nak, laki-laki itu yang di pegang omongannya. Pada saat itu Ayah memegang omonganmu dan bahkan setuju dengan perkataanmu. Mana mau Ayah menikahkanmu dengan wanita yang gendut. Jadi Ayah menyodorkan Rama sebagai penggantimu. Keluarga Bella sudah memegang surat perjanjiannya dan akan menikahkan Bella dan Rama setelah Bella wisuda."


...POV Jimmy...


Perkataan Ayah begitu mengena. Bagaimana aku bisa lupa jika sedari dulu akulah yang selalu menolak Bella?


Tapi sekarang semuanya berbeda, dia tumbuh menjadi gadis idamanku. Bukan si gendut yang rakus lagi.


Apakah ini merupakan karma bagiku yang dahulu banyak mengatainya?


Argh....!! Tuhan!! ampuni Aku! Aku bahkan sekarang sangat ingin memperistrinya. Mungkin jika teman-temanku tahu dari setiap mimpi basahku yang muncul adalah wajah dan tubuh Bella, maka aku akan di hujat habis-habisan.


Damn!! bagaimana bisa aku begitu tergila-gila padanya?


Penyesalan dan kebodohan terbesarku adalah selalu mengabaikan dan mencampakkan perasaannya. Dan sumpah aku menyesalinya sekarang.


Dan kulihat dia dan Kak Rama begitu romantis. Apakah jika menjadi pacarku dia juga akan bersikap seperti itu?


Oh, Tuhan....!! Tolonglah aku!! Sekarang aku menjilat ludahku sendiri oh tidak aku memakan lagi muntahanku. Bahkan jika dia memintaku untuk mencium kakinya, maka dengan senang hati aku akan melakukannya.


****! aku sudah gila!!


" Bella, sekarang aku akan memakai metode baru. Aku tidak akan menjadi Jimmy yang pemaksa dan seenak hati. Aku akan menjadi Rama yang lembut dan hangat padamu. Dengan begitu aku harap kau bisa mempertimbangkan lagi tentang perasaanku padamu." Gumamku menatap punggung kecilnya yang semakin menghilang di telan padatnya pengendara jalanan.


Aku sengaja membiarkan dia pergi setelah kulihat tadi kilat kebencian di matanya. Sebegitu menyebalkan itukah aku?


Tapi, jujur saja, sebagai lelaki normal aku selalu susah menampik keinginan untuk bisa menyentuh dan menciumnya.


Walaupun dia hanya diam, tapi di mataku bibir pinknya selalu menantang. Kenapa bibir mungil itu membuatku candu?


Dan kenapa juga baru sekarang aku menyadari perasaan itu? Bahkan aku sampai memiliki kebiasaan menatap wajahnya sebelum tidur atau sekedar menyentuh suatu barang miliknya.


Dan kini kebiasaan baruku adalah mendengarkan percakapan kami lewat video call yang sengaja kurekam. Aku merasa aneh dengan kebiasaan ini, tapi aku juga akan sulit tidur jika melewatkannya.


Dengan Eva, nyatanya dia juga merupakan pelarianku. Wajah Bella selalu muncul ketika aku bermain dengan Eva. Aku benci hal itu, tapi aku juga tak bisa mengatasinya sendiri, sepertinya Bella memang sudah menguasai seluruh hidupku.


Siang hari, setelah selesai jam kuliah. Aku yang sekarang pindah bahkan duduk disebelahnya. Mengambil jurusan sastra Jepang. Salah satu bahasa yang tak menarik minatku karena kerumitannya. Tapi aku mengambilnya hanya karena Bella.


Dua jurusan ku ambil demi bisa bertemu dengan Bella. Meski tak jarang aku harus pintar membagi waktu antara jurusan sastra Jepang dan jurusan bisnis yang ku ambil.


"Setelah ini kau mau kemana?" Tanyaku padanya si pemilik hatiku yang sedang duduk di kantin menikmati minuman dinginnya.


Kulihat dia seakan kelelahan atau memikirkan sesuatu. Tapi, aku harus konsekuen dengan misi ku. Aku akan bersikap lembut dan hangat seperti sikap Rama padanya.


"Mau pulang, dan mengerjakan tugas." Jawabnya singkat. Aku tau, dia mencoba menarik diri dariku. Tapi, aku pun tak akan menyerah begitu saja.


"Oh, aku antar ya?" Aku meneleng dan menunggu reaksinya.


Dia mengangguk.


Tumben sekali, biasanya akan menolak begitu saja. Dan menyebutkan banyak alasan. Ini agak aneh.


Kami berjalan dan aku memaksa untuk membawakan buku-bukunya. Lagi dan lagi dia tak menolak. Dia terlihat aneh.


Sampai di dalam mobil, dia masih saja diam. Sumpah, aku lebih memilih dia yang memakiku daripada dia yang diam seperti ini.


"Ada apa kau sedari tadi kuperhatikan hanya diam dan melamun. Apa ada masalah?" Tanyaku padanya berharap jawabannya akan panjang dan mengembalikan moodnya lagi.


"I'm good." Jawabnya singkat tanpa melihatku. Aku sungguh gemas dibuatnya.

__ADS_1


"Ada apa? cerita geh!" Aku mengusuk pucuk kepalanya. Dia tak beringsut dan tak juga menolaknya.


"Boleh aku berpesan pada Kakakmu?" Ucapnya dengan mata yang sendu. Sepertinya dia sudah siap menangis.


Ada apa ini? Apa kak Rama menyakiti perasaan Bella? Atau dia sudah ada yang lain di tempatnya bertugas?


"Apa? tapi kau kan bisa menghubunginya langsung?"


"Nomornya tidak aktif Jim. Aku cemas padanya, aku khawatir." Ucapnya dengan suara bergetar dan mata yang sudah menggenang air mata.


Tapi, memang sewaktu memberikan kabar pada Bunda pun kata Bunda Kak Rama menghubungi melalui nomor komandannya, bukan nomor pribadinya.


"Bell, tidak usah cemas. Dia baik-baik saja, kemarin dia menghubungi Bunda. Bunda yang bercerita, tapi memang tidak memakai nomornya, dia bilang ponselnya rusak saat mendaki. Tak sengaja jatuh dan terinjak temanya." Kataku menceritakan kembali apa yang Bunda ceritakan.


"Lalu, soal dia yang tidak mengubungimu, aku rasa hanya karena dia belum hapal nomormu dan malu untuk bertanya padaku." Kataku sebisaku menjawabnya.


Dia mengusap air matanya dan membuang ingusnya. "Kau yakin hanya itu?" Dia menundukkan kepalanya. " Seingatku, Kak Rama adalah orang yang mempunyai kelebihan dalam soal angka. Bahkan dia bisa hapal dalam sekali melihat angka. Jika dia tak menghubungiku, itu berarti dia sengaja tak mau mengingatnya."


Ya... Bella benar. Memang Kakakku memiliki kelebihan dalam mengingat dan menghitung.


"Alasannya adalah dia pergi meninggalkanku dengan membawa kemarahan." Ucapnya dengan nada rendah dan kesedihan yang luar biasa.


Aku tertegun melihatnya begitu rapuh seperti saat ini. Aku juga merasakan sakitnya. Saat aku memaksanya, saat aku menciumnya tanpa ijinku, walaupun dia menangis karena ku, tapi aku tak merasakan rasa sedih ini. Bagiku dalam tangisnya saat aku menciumnya dahulu ada secuil kebahagiaan darinya meski dia malu untuk mengakuinya.


"Marah atas apa? Kalian bertengkar?"


"Ini sudah berbulan-bulan dari semenjak kau kecelakaan. Kau ingat kan dimana kau menciumku di rumah sakit dan ada suara pintu yang di gedor?"


Bagaimana aku bisa lupa? itu ciuman terakhir kita dan aku selalu mengingatnya.


"I... Iya .." Aku gugup atmosfer yang kurasakan mulai tidak enak. Dia menundukkan kepalanya lalu membuang pandangan keluar jendela.


"Jim, tak seharusnya kau melakukan itu. Aku ini pacar Kakakmu. Saat itu, dia melihat semuanya dan dia juga yang menggedor pintu agar aksimu terhenti." Katanya berlinang air mata penyesalan.


"A.. apa? Jadi dia tahu? Dan dia marah lalu pergi tanpa pamit padamu begitu?" Tebak ku dengan sangat tercengang.


"Jim, apa kau tau hal yang membuatku khawatir?"


Aku menggeleng.


"Kak Rama, luka tembaknya belum sembuh dengan baik. Aku membaca hasil pemeriksaannya, kepadanya akan normal setelah dua bulan. Tapi, dia pergi ketika satu bulan masa penyembuhan. Aku takut dia..."


"Dia terkena tembakan?" Sungguh akan bahkan tak tau tentang hal ini. Dia selalu menutup diri dari kami.


"Iya, Kakakmu hampir mati kehabisan darah. Dia dipulangkan bukan karena selesai bertugas. Tapi dipulangkan karena keadaan darurat di perbatasan. Dia tak mau mengatakan hal ini pada kalian karena tak mau Paman akan semakin membenci profesinya."


Sungguh dia begitu banyak tau tentang kakakku sementara aku sangat minim. Bahkan kita jarang berkomunikasi. Adik macam apa aku ini?


"Bell, Kenapa kau tak bilang dari awal?" Aku mengguncang perlahan lengannya.


"Jim, Kak Rama tidak mau di anggap mencari perhatian. Dia tak mau Paman akan mengamuk dan memintanya untuk berhenti menjadi seorang abdi negara. Dia begitu mencintai profesinya. Bisakah kau membuat paman mengerti akan apa yang disukai Kakakmu? Kalian bersaudara."


Benar katanya, Selama ini aku terlalu banyak mengambil keuntungan. Aku terlalu egois dan selalu membiarkan Kakak tertindas di dalam keluarganya sendiri.


Sekarang aku mengerti mengapa dia memilih untuk menjadi polisi. Mungkin baginya cukup dirumah dia tidak di hargai dan ditindas. Tapi di luaran jangan harap itu terjadi.


Untuk itu dia memilih menjadi polisi agar disegani orang lain dan menjaga wibawanya agar tak selalu ditindas.


"Saat kau sakit, dia begitu mencemaskan mu. Tapi dia tetap berpura-pura baik-baik saja saat sedang terluka parah agar tak merepotkan keluarganya sendiri." Sambungnya lagi yang kemudian tergugu.


"Aku merindukannya." Ucapnya dengan nafasnya yang mulai tersengal-sengal.


Oh, rupanya gadisku teramat sangat merindukan Kakakku. Aku memeluknya dan memberikan pelukan hangat layaknya teman dekat. Lebih tepatnya teman dekat yang lebih dari dekat.

__ADS_1


"Sudah, nanti aku akan bilang padanya untuk segera menghubungimu." Kataku untuk menenangkannya.


"Tidak, aku tidak mau mengganggu pekerjaannya. Biarkan dia sendiri yang akan menghubungiku jika dia sudah mau." Ucapnya yang kemudian merenggangkan dan melepaskan pelukanku.


"Ayo cepat antarkan aku pulang. Tugasku banyak." Katanya lagi dengan tersenyum pias.


Aku tau dia hanya berpura-pura kuat padahal rapuh.


...🦢🦢🦢...


"Bagaimana tentang titik koordinat penyerangan? kau sudah menghitungnya?" Tanya salah satu komandan.


"Siap! sudah komandan!" Jawab Rama dengan tubuh tegap dan memberikan hormat.


"Bagus, penyerangan kita lakukan 30 menit lagi untuk membebaskan para warga yang mereka Sandra." Ucap komandan


"Siap komandan!" Tegas dan lantang Rama menjawab.


"Bagus!" Komandan menepuk pundak Rama.


"Apa kau ingin menghubungi ibumu sebelum melakukan penyerangan? ini ponselku, gunakanlah. Aku baru saja selesai menghubungi anak dan istriku." Ucap komandan menyodorkan ponselnya.


Hal seperti itu merupakan ritual wajib bagi tiap tentara dan pengabdi negara sebelum menjalankan tugasnya. Mereka akan menghubungi anggota keluarga atau orang terkasihnya sebelum menjalankan misi berbahaya.


Dan, kebanyakan dari mereka yang dihubungi tak sadar jika itu adalah merupakan salam sebelum peperangan. Jika misi berhasil salam akan berlanjut dan jika misi gagal maka itulah salam terakhir dari mereka untuk mendengarkan suara dari orang terkasih nya.


Dan sore hari ini, di 30 menit menjelang misi dilaksanakan. Rama memilih untuk menghubungi Bella.


"Ayolah sayang, angkat telfonnya." Rama menggumam cemas dan berjalan mondar-mandir di dalam camp.


Dua menit menunggu dan panggilan terangkat.


"Hallo siapa ini?" Tanya Bella yang tak mengenali nomor si pemanggil.


"Hai sayang! Apa kabarmu?" Tanya Rama sedikit canggung karena beberapa bulan berhenti tak menghubungi kekasihnya.


" Kak? ka.... kamu? Hua....! Hua.....! Kamu jahat ....!" Bella meluapkan segala kekesalannya. Dia kembali menangis sejadinya setelah Jimmy menurunkannya di depan rumahnya.


" Kenapa baru telfon, Hah? kamu mau apa? mau minta putus?" Bella teramat kesal.


"Ih, kok gitu ngomongnya? Ponselku rusak loh, jadi tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Disini susah listrik dan sinyal sayang."


" Tapi Jimmy bilang kamu sudah menghubungi Tante lusa?"


"Iya, aku kan ponsel cuma minjam. Kalau mau menghubungi lama-lama juga tidak enak sama komandan Sayang. Tolong mengerti ya." Rama membujuk Bella yang terlanjur tantrum.


"Apa lukamu sudah sembuh?" Bella mengkhawatirkan keadaan Rama.


"Iya, sudah. Kan sudah lebih dua bulan. Satu bulan yang lalu aku hanya boleh ditugaskan di kantor. Komandan sangat mencintaiku Sayang, sehingga aku bisa duduk santai di kantor. Kamu jangan khawatir lagi ya?"


"Em..." Bella menggumam. "Lalu, apa ini nomor komandan?"


" Iya sayang, disini konter jauh dan ponselku rusak parah. Untuk beli lagi disini harganya 5 kali lipat harga di tempat kita. Jadi aku lebih memilih untuk menahan saja saat pulang."


"Oh, begitu?" Terdengar Bella yang sudah luluh. Nada bicaranya terdengar lebih baik. " Lalu kenapa menghubungiku?" Ketusnya lagi.


" Karena aku merindukanmu sayang. Sangat rindu. Baru dua bulan aku disini. Dan 4 bulan lagi baru boleh pulang. Doakan aku selamat sampai pulang ya. Kamu yang benar belajarnya." Kata Rama seolah berpesan.


"Iya. Tapi 4 bulan itu lama banget!"


" Em .... nanti aku usahakan akan sering mengirim pesan atau menghubungimu. I Love you Sayang." Kata Rama terdengar riang.


" I love you too Sayang." Jawab Bella.

__ADS_1


"Bagaimana, sudah siap?" Tanya komandan sambil kembali meminta ponselnya dari Rama.


" Siap Ndan!!" Sahut Rama dengan semangat berapi-api.


__ADS_2