
...🌼🌼🌼...
"By, bagaimana kabar Bella? Bisa nenek menemuinya?" Tanya Nenek Mirna pada snag cucu yang masih mengelap sepatunya sebelum berangkat kerja.
Robbie berdiri, lalu mengibaskan celananya beberapa kali sebelum dia menghampiri dan menggenggam tangan keriput sang nenek.
"Nek, Bukanya tidak mau. Tapi, tolong berikan Bella waktu untuk beradaptasi. Dan.., aku juga masih mencari cara agar dia tak mencurigai aku yang ikut andil dalam beasiswanya. Ya... meskipun dia memang anak yang pintar, tanpa bantuan ku pun dia sudah menjadi kandidat. Tapi jika dia tahu, kurasa dia akan marah padaku."
"Marah? kenapa? kau kan membantunya untuk mendapatkan beasiswa dengan memanfaatkan relasi dan juga koneksimu." Kata Nenek yang kemudian duduk di sofa.
Robbie mengulum senyumnya. Agaknya akan menghabiskan waktu yang lumayan lama untuk berdiskusi dengan sang nenek yang merindukan sosok cucunya dalam diri Bella.
"Sabar ya Nek, Robbie akan berusaha secepat mungkin." Robbie mengecup punggung tangan sang nenek lalu tersenyum manis kepadanya.
Sungguh seorang lelaki yang terlihat hangat dan lembut. Tapi, itu hanya berlaku di hadapan orang yang dia cintai.
Karena Robbie di sisi lain adalah Robbie yang tegas dan mengintimidasi. Dia yang selalu bisa menyudutkan dan melemahkan lawannya dengan sekali ucap.
Kata-katanya cenderung pedas dan tak memikirkan perasaan orang lain.
Daripada terus saja membahas sesuatu yang membuatnya semakin gusar, Robbie memilih untuk segera berangkat ke kantor.
Siang hari mengurus perusahaan, dan malam hari dia kuliah, itulah sesuatu yang harus di jalani Robbie hingga ia tak memeiliki waktu untuk berhura-hura seperti kebanyak CEO muda.
Memiliki kecerdasan di atas rata-rata membuatnya mengikuti fast- track program dimana S1 hanya diselesaikannya selama dua tahun masa pendidikan.
"Jalan Pak!" Perintahnya pada si sopir pribadi yang sudah siap menunggu titah dari majikannya.
"Pak, hari ini istri saya akan melahirkan. Jadi saya akan meminta ijin untuk tidak masuk kerja selama beberapa hari. Apakah bisa?" Tanyanya dengan sangat hati-hati si sopir hanya berjaga-jaga siapa tau kondisi mood si bos sedang tidak bagus.
Robbie terdiam beberapa saat lalu membuka dompetnya. Dia mengambil beberapa lembar uang dengan nominal besar lalu di berikannya pada si sopir.
"Ini, sebagai hadiah dariku. Berikan untuk anak dan istrimu. Kau butuh waktu berapa hari?" Tanya Robbie setelah memberikan uang tersebut dan kemudian merapikan jasnya kembali.
Karena kebaikan hati majikannya si sopir menjadi tak enak hati dan mengurungkan niatnya untuk meminta ijin berlama-lama. "Em... Hanya satu hari ini saja Pak."
"Tadi katamu beberapa hari?"
__ADS_1
"Tidak pak, tidak jadi. Hanya satu hari ini saja." Jawab si sopir dengan sungkan.
Robbie tertawa lalu menepuk pundak si sopir. " Jangan sungkan, aku akan memberikan libur 3 hari buatmu. Salam untuk istri dan anakmu ya." Katanya yang kemudian kembali bersandar.
"Oh, terimakasih banyak Pak. Saya benar-benar berterima kasih. Semoga bapak mendapatkan kebaikan yang berlipat-lipat." Si sopir begitu senang akan kemurahan hati sang majikan muda.
"Aku masih muda dan belum menikah. Jangan panggil Pak? Panggil Tuan saja bisa?"
"Ba... baik Tuan."
Sopir ini belum bekerja lama dengan Robbie. Dia adalah anak dari sopir yang sebelumnya yang tak bisa bekerja karena mengalami saraf kejepit. Untuk pengobatan sopir yang pertama pun, Robbie tetap menanggungnya. Robbie bukanlah lelaki yang tak bernurani.
...🌺🌺🌺...
Di sebuah kampus universitas.
Satu polemik yang harus Bella alami. Perbedaan budaya, iklim dan juga sastra. Bella sangat kesepian, hari-harinya hanya di habiskan untuk ke kampus, pulang dan berkutat di depan laptop.
Sampai satu bulan setelah kejadian itu, dia belum juga menjalin komunikasi dengan Rama ataupun Jimmy. Sepertinya kedua Kakak beradik itu mempunyai kesepakatan yang tak Bella ketahui.
Hingga malam hari saat Robbie hendak mengikuti kuliah di jam malam, tak sengaja dia melihat Bella yang baru saja keluar dari convenion store. Bella terlihat membawa beberapa bungkus mi instan dan juga telur.
Bella berjalan sambil melahap sosis di mulutnya. Robbie tersenyum melihatnya baginya sudah sangat rindu akan sosok gadis yang dahulu di selamatkan ya dari aksi pembulian. Bella berhenti kala menemukan seekor kucing kecil yang berada di pinggir jalan.
" Manis, eh bahasa Jepangnya apa ya?" Dia menggumam dan kemudian mengingat sesuatu dalam bahasa Jepang. " Oh, kawaii neko!" Ucapnya sambil tersenyum manis dengan tangan yang mengusap si kucing dan membagi sosinya.
"Ah, kasihan sekali kamu. Tidak ada ibumu, Kawai. Em ku beri nama Kawai ya? mau kan?" Bella berbicara pada kucing yang sibuk memakan sosis pemberiannya.
"Apa tidak apa-apa aku bawa pulang ya? Dia akan jadi temanku. Kawai, kita pulang ne? di luar dingin." Ucapnya yang kemudian menggendong si kucing yang di beri nama KAWAI tersebut.
"Meong..!" Si Kawai hanya mengeong tapi itu sudah cukup membuatnya merasa tak lagi kesepian.
"Ne..!" Sahutnya senang dengan menggendong si kucing yang menggemaskan.
Robbie tersenyum saat melihat tingkah Bella. Dia sengaja berhenti dan bahkan turun dari mobilnya untuk memastikan apa yang di lihatnya.
Bella menyipitkan matanya kala langkah kakinya kian mendekat pada sosok lelaki yang bersandar dan duduk di atas kap mesin mobilnya.
" Robbie?" Seru Bella memanggil Robbie dengan sangat antusias.
__ADS_1
"Hai! Bell!" Sapa Robbie yang berpura-pura antusias melihat Bella seolah tak pernah melihatnya. Padahal dari semenjak Bella datang, Robbie tak pernah absen memeriksa keadaan Bella melalui rekaman CCTV.
"Ka... kamu? ini beneran kamu kan? Robbie kan?" Bella mendekat dan meraih kedua tangan Robbie dengan begitu senangnya seolah dia memenangkan lotre puluhan M.
Robbie mengangguk dan tersenyum senang. " Iya Bell, masih ingat aku?" Tanyanya.
"Ish, Masa iya aku lupa dengan dewa penolong ku. Kamu disini juga?"
"Iya, aku pindah kesini sudah hampir 3 tahun." Jawabnya bohong. Yang benar adalah Robbie itu wara-wiri untuk menyelesaikan beberapa urusan pelimpahan hak waris sampai ke tiga negara. Australia, Indonesia, dan Jepang.
"Wah, aku tidak menyangka kita bakal ketemu disini. Kamu kemana aja By? kenapa ga pernah chat aku?" Tanyanya dengan mata yang tak bisa di kondisikan. Pelupuknya sudah penuh menggenang.
Bella, lama dia menantikan kabar dari orang yang banyak membantunya menemukan jati diri. Membantunya menemukan keberanian dan tak lagi mengalami penindasan. Rasanya dia masih belum cukup untuk mengatakan terimakasih atas semua yang Robbie lakukan.
Robbie yang melihat Bella menangis dia ikut terenyuh, bagaimanapun juga dia tak bisa berbohong. Dia sangat merindukan gadis yang teramat mirip dengan adiknya yang telah lama berpulang.
"Jangan menangis disini, nanti air matamu beku." Ucap Robbie dengan kebiasaannya yaitu mengusuk pucuk kepala Bella.
Bella mengulum senyumnya. " Abisnya, janji mau kasih kabar tapi malah ngilang." Bella berbicara dengan nada merajuk bibirnya maju beberapa centi.
"Biasa aja mulutnya. Jadi gemesh kan?" Robbie menepuk jidat Bella dengan tangannya. Tentunya tidak keras sama sekali karena itu tepukan sayang dan luapan kegembiraan.
"Huh, dingin. Masuk yuk! kita bicara di dalam." Bella mengajak Robbie.
Lagi dan lagi Robbie tersenyum melihatnya. " Terimakasih, tapi sepertinya lain kali saja. Aku buru-buru. Jadi ini rumahmu?"
"Rumah sewa By. wah sayang sekali padahal aku masih ingin berbincang-bincang denganmu." Ujar Bella menyayangkan.
"Em.." Robbie memainkan mulutnya. " Nanti ku hubungi lagi ya. Kita bisa bicara lewat panggilan telepon." Kata Robbie.
Bella tak menaruh curiga dengan apapun. Dia pikir selama Robbie tak menghubunginya mungkin karena suatu hal. Tapi ketika Robbie mulai menghubungi seseorang dengan benda pipihnya. Ponsel Bella bergetar.
" Angkat dong, kenapa pesanku tak pernah di balas?" Tanya Robbie yang dengan jahilnya mencibikkan mulutnya.
Bella hanya diam melongo melihat nama di ponselnya. Dia menamainya SI BRENGSEK. sebab apa? sebab setiap jam makan nomor itu mengirimkan pesan. Setiap Bella bersedih, nomor tersebut seolah mengajaknya untuk berinteraksi dan mengembalikan moodnya.
" Jadi ini kamu? Selama ini kamu yang selalu kirim pesan ke aku?" Bella menelisik.
Robbie tertawa. " Sudah ya, besok lagi. Aku buru-buru. Bye ..!" Lagi-lagi dia pergi setelah mengusuk pucuk kepala Bella.
__ADS_1
Dan yang ditinggalkan oleh Robbie hanya bisa melongo tak percaya.
.