Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Aku dapat.


__ADS_3

...🐦🐦🐦...


"Ouh..., dia tertidur?" Tamara tertegun melihat Leon yang tertidur dalam gendongan Rama. "Pak, maaf malah merepotkan Anda." Kata Tamara yang kemudian mengambil alih Leon dari gendongan Rama.


"Tidak apa-apa, it's Ok!" Jawab Rama yang kemudian mengusap pucuk kepala Leon. "Siapa namanya?" Tanyanya dengan wajah yang masih sangat mengagumi baby L.


"Namanya Leon Pak." Jawab Tamara masih menimang Leon dan sesekali mengecup keningnya tanda sayang.


"Dia tampan. Lalu dimana Suamimu?" Tanya Rama yang tak mendapati suami Tamara di dalam rumah.


"Sini Bu, biar saya yang gendong." Kata si Baby sitter yang kemudian meminta Baby L.


Tamara menitikan air matanya dan membuang pandangannya dari Rama. Dia begitu sedih saat kembali mengingatnya. "Bisa antarkan aku dulu ke Rumah sakit?" Ucapnya yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh iya maaf aku malah banyak bertanya yang tak seharusnya." Kata Rama yang memahami perubahan mimik wajah Tamara.


"Tidak apa apa, Ayo!" Kata Tamara yang kemudian berjalan mendahului Rama.


Kisah sedih yang Tamara miliki ini tak semu orang punya. Ini teristimewa dan hanya miliknya. Tamara kehilangan calon suaminya satu jam sebelum pernikahan karena kecelakaan dan sayangnya, Dia juga tengah hamil muda kala itu tanpa sepengetahuan keluarga.


Kehamilannya terbongkar kala perutnya kian membesar dan Tamara mengungkapkan sebuah fakta yang membuat keluarganya mengusirnya dari rumah. Tamara berjuang sendiri untuk memperbaiki hidupnya bahkan dia sampai tak mengambil cuti bersalin. Sebagai gantinya, dia hanya mengambil cuti haid.


Tiga hari itu dia gunakan untuk beristirahat dan merencanakan semuanya. Dan sekarang, disinilah Dia dengan segala rencananya.


Beruntunglah Di sebab Baby L tidak apa-apa. baby L hanya kekurangan ASI.


"Ah, syukurlah.... Dia tidak apa-apa dan hanya kekurangan ASI."


"Apa ini gara gara aku yang mengajakmu lembur?" Tanya Rama yang tak enak hati. Sesekali Dia melirik Tamara yang masih memangku Baby L lalu membelainya dengan penuh kasih sayang.


"Iya mungkin saja pak, soalnya tadi susu baby L habis dari jam 3 sore dan saya kira Ibu akan terlambat sampai pukul 6. Nyatanya malah sampai pukul 9 malam." kata si Baby sitter.


Baru saja Rama hendak berbicara, tapi Baby sitter lagi lagi menyambarnya seolah tahu isi kepala Rama. "Baby L punya alergi laktosa dan fruktosa Pak, Dia tidak bisa meminum susu formula."


Apa itu alergi fruktosa dan Laktosa? Rama mana paham? Dia hanya menganggukkan kepalanya tanpa banyak bicara lagi.


Gara gara aku yang memaksanya untuk lembur, aku hampir saja membuat bayinya sakit. Rupanya begini reaksi bayi jika kekurangan ASI?


Sepanjang perjalanan pulang, Rama hanya terdiam dan menatap semu lampu jalanan. Entah apa yang Dia pikirkan tapi sepertinya Dia sangat merasa bersalah pada Tamara dan juga bayinya.


Mereka sampai dan turun dengan bergantian dimana baby sitter yang menggendong Baby L. Tamara baru saja hendak melangkahkan kakinya, Tapi Rama sudah mencekalnya. "Tamara, aku ingin bicara."


"Ada apa?" Sahut Tamara yang berputar dan membalikkan badannya dan kini menghadap Rama.

__ADS_1


"Em...., Aku memberikanmu cuti bersalin selama 3 bulan." Ucapnya sedikit ragu.


"Apa bapak berniat menurunkan jabatan saya atau bapak mau memecat saya perlahan? Kenapa sangat tiba tiba?"


"Tidak, tidak!" Rama mengguncangkan telapak tangannya berkali kali disertai dengan gelengan cepat. "Aku sama sekali tidak memilki niatan seperti itu, aku hanya ingin menebus rasa bersalahku pada Baby L karena telah membuatnya nyaris jatuh sakit tadi." Jawab Rama.


"Aku sungguh menyesal dan untuk itu aku memberikanmu cuti bersalin dengan gaji full juga bonus bulanannya. Anggap saja itu sebagai hadiah dariku."


"Oh, jika benar begitu aku mau menerimanya asalkan tidak ada maksud lain."


"Ah, tidak ada. aku tulus memberikan hadiah ini."kata Rama. 'Kalau begitu aku permisi dulu." Ujarnya yang kemudian pamir pulang.


Membelah jalanan kota yang mulai sepi pengguna, rama terus saja teringat akan rupa Baby L.


Menggemaskan sekali baby L, baru berpisah sebentar dan aku sudah kangen. Oh... Lucunya...🤗.


...~~~ ...


"Chagi, apa sudah siap?" Tanya Robbie yang sudah berdiri di samping mobilnya.


Semenjak malam pengakuannya dan juga lamaran itu, Robbie memilih untuk mengemudikan sendiri mobilnya. Lalu Pak sasuke, kemanakah ia?


Pak Sasuke beralih profesi menjadi tukang jaga dan rawat bunga peninggalan Nenek Mirna termasuk dalam menjaga kelestarian dan juga benih yang berkualitas.


Jikalau kalian kira mereka masih tinggal satu atap, maka kalian saah, Bella yang keras kepala meminta untuk kembali ke kediaman lamanya demi menghindari suatu hal yang tidak diinginkannya.


Sabar Robbie, namanya juga perempuan, pasti lama kan dandannya?


"Sudah, aku siap." kata Bella yang keluar dari kamarnya tapi tidak ada hal signifikan yang mencolok mata. Semuanya masih sama dan standart saja.


"Wah, cantik sekali pacarku!" Celetuk Robbie yang memuji dengan melebih lebihkan.


"bawel!" Ketus Bella yang menyahuti dengan wajah kusutnya.


Kenpa sih? ada yang salah atau bagaimana? perasaan tadi semuanya baik baik saja? Robbie hanya bisa menggumam dalam hatinya.


"Ayo jalan! lama ih..!" Ketus Bella lagi.


Kali ini Robbie memberanikan diri untuk bertanya, Dia tidak mau menjadi sasaran amukan dan hanya plongak plongok saja. "Ada apa? kenapa mukanya judes gitu?"


"Cowok mana ngerti?" Jawab Bella dengan memalingkan wajahnya.


"Lihat sini kalau ngomong, kamu kenapa? bilang!" Robbie membujuk Bella dengan sabarnya.

__ADS_1


Bella yang tadinya membuang pandangan, kini menatapnya degan wajah sendu.


Ini anak ketempelan atau apa sih? Batin robbie bertanya tanya.


"Mana ngerti kalau kmu aja ga mau cerita. Kash tahu aku ada apa?" Bujuk robbie dengan lemah lembut dan mengusap pipi Bella.


Mata Bella berkaca kaca dan bibirnya mulai mencibik beberapa centi. "Aku dapet." Ujarnya begitu menyedihkan.


"Dapet? Dapet apa?"


"Tuh kan! Cowok mana paham?" Lagi Bella kini menangis menahan sakit. Dia menangis tanpa suara dan hanya isakannya saja yang terdengar telinga.


Dia sampai menangis seperti ini pasti karena sakit. Tapi sakit apa?


"Kamu sakit? iya? Sakit apa? mananya yang sakit?" Tanya Robbie yang mulai ikut panik lantaran terbawa suasana.


"Pinggang, Perut, Pusing, dan dadaku juga sakit." Kata Bella.


"Apa kita perlu tindakan MRI? Sepertinya sakitmu serius, sampai komplikasi begitu?"


"Aku datang bulan! bukan terkena penyakit dalam!" Ucap Bella yang bersungut sungut menahan rasa kesalnya.


"Oh, datang bulan? Harusnya bilang saja kan tidak usah bermain tebak kata? tunanganmu ini bukan dukun. Kau tahu?"


"Karena aku malu Bie kalau mau bilang langsung! M A L U , MALU!" Bella mengatakannya penuh dengan penekanan.


"Ih, lucunya. Ya sudah Ayo kita berangkat." Ujarnya dengan kembali memasang wajah ceria sedangkan Bella degan wajah masamnya.


Tidak langsung menuju ke kampus, tapi Robbie membawa Bella menuju ke mini market. "Ayo turun!" Ajaknya pada sang tunangan yang hanya berdiam diri dan bersandar di jok.


"Tidak, kamu saja. Aku ga mau beli apa apa. Harus berhemat." Jawab bella dengan malasnya.


"Ok!" Ucap Robbie yang begitu bersemangat dan turun dari mobilnya.


30 menit berlalu dan Robbie kembali dengan membawa satu kantung besar belanjaan. "ini buatmu chagi!" Ujarnya sambil menyodorkan belanjaan tersebut.


Ada coklat, pembalut, minuman pereda nyeri haid, permen, dan masih banyak camilan lainya. Bella sampai ternganga di buatnya. Darimana Robbie tahu tentang hak yang di sukainya ketika sedang haid?


Ini merupakan perhatian kecil yang berefek besar bagi Bella. Sekejap saja karena dobrakan dopamin dari luapan rasa bahagianya maka moodnya kembali membuatnya ceria dan tersenyum lebar.


"Makasih sayang!" Ucapnya dengan senang hati dan wajah yang manis.


Apa tadi sayang?

__ADS_1


__ADS_2