
...๐บ๐บ๐บ...
Apa ada yang salah dalam penulisanku atau bagaimana ya?
Kok yang baca pada diem-diem aja ga ada jejaknya?
Ramaikan dong apa kek, komentar apa kek, koma apa titik gitu๐.
Hemmm, terkadang aku lelah. Yang baca ratusan, ribuan bahkan jutaan. Tapi yang mau menambahkan ke favorit hanya beberapa.
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah berapresiasi pada karyaku ini.
Terimakasih buat yang sudah meninggalkan like nya.
Terimakasih buat yang udah klik votenya.
Dan terimakasih banyak buat yang udah kasih gift.
Ga tau lagi lah, pokoknya terimakasih banyak๐ญ๐ญ.
Udah ah, Happy reading ya.
Kali ini sih, agak memeras air mata. Dan juga akan, ah... pokoknya mengsedih banget...๐ญ.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Dua bulan semenjak terakhir kalinya Rama menghubungi Bella. Setelah itu, tidak ada kabar ataupun pesan meskipun Rama sempat berkata akan mengirimkan pesan tapi nyatanya nihil.
Malam ini Ayu dan Mimi menginap di rumah Bella karena Ayah dan Bunda Bella sedang sibuk mengurus segala keperluan Bella untuk berangkat ke Jepang dalam pertukaran Mahasiswa.
"Bell, yakin besok kamu mau berangkat?" Tanya Mimi yang berbaring di atas ranjang dan memeluk Bella.
"Iya lah, kata kalian aku harus menjauh dari kedua Kakak beradik itu?"
"Ya tapi tidak harus sampai pergi keluar negri selama bertahun-tahun lamanya Bella. Ini baru 3 semester, berarti 5 semester kamu disana?" Ujar Ayu yang tidak rela ditinggal pergi.
"Ya, kurang lebih Yu. Semoga saja nanti dapat beasiswa lagi dan bisa lanjut lagi ambil kuliah disana yang beda jurusan." Kata Bella dengan entengnya.
" Em~~~, berarti kamu tambah lama dong disana? Terus kita gimana? siapa yang mau kasih kita bahan jadi?" Ayu merajuk dan memeluk erat Bella.
"Wooo! Isi kepalamu Yu, bahan jadi melulu!" Mimi menepak keras lengan Ayu dan ayu pun meringis kesakitan. "Tapi iya Bell, nanti saat kita skripsi yang bakalan bantuin kita siapa kalau kamu jauh disana?" Mimi bertanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kalian bisa bertanya pada dosen pembimbing kan? ada asdos juga yang bisa bantu kalian." Ujar Bella.
" Ini nih beda yang pintar dan yang bebal. Kita walaupun ketemu sama dosen pembimbing, atau seharian di kasih materi sama asdos, entar di jalan kena angin waktu naik ojol, udah ilang kebawa angin itu semua materi Bell. Kamu kan tau gimana kita."
"Hehehehe! iya, isi kepalamu makanan." Bella menyentil kening Ayu " Dan isi kepalamu jalan-jalan." Bella menyentil kening Mimi.
Memang kedua sahabatnya itu tak sungguh-sungguh dalam belajar. Mereka lebih mengandalkan kekayaan orang tua dalam menempuh pendidikan. Bagi mereka asal ada uang semuanya beres.
"Kita bakal kangen berat sama kamu Bell." Keduanya lalu memeluk Bella dengan eratnya.
"Kau belum memberitahu Jimmy?" Celetuk Mimi.
" Belum, aku tau dia pasti akan marah marah tak jelas nantinya. Jadi aku akan memberitahunya besok saja." Kata Bella.
Baru saja namanya disebut, Jimmy sudah menghubunginya. Bella menjadi gugup dan bingung mau menjawab atau tidak. Dia malah melemparkan ponselnya pada Mimi. Jadilah Mimi dengan terpaksa menjawab panggilan Jimmy.
"Bella! kenapa kau tidak memberitahuku sama sekali perihal pertukaran mahasiswa yang kau ikuti?" Jimmy bertanya tapi dengan berteriak membuat telinga Mimi terasa penging bahkan Mimi sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Astaga anak ini, dia begini kalau marah?" Tanya Mimi pada Bella yang kemudian di angguki.
"Hallo Jim, Maaf ini aku Mimi. Bella dia sedang keluar membeli sesuatu. Apa ada pesan?" Bohong Mimi.
" Keluar kemana dia? biar aku cegat. Dan kau kenapa kau menginap di Rumahnya, apa ada acara? Kenapa dia tidak memberitahuku?" Cecar Jimmy yang memberondong Mimi dengan setumpuk pertanyaan.
__ADS_1
"Satu satu tanyanya!" Mimi memekik sebal.
"Dia membeli pembalut! aku menginap karena aku ingin. Dia malas memberitahumu sebab kau pasti akan marah-marah seperti ini! Jadi santailah Jim!" Balas Mimi yang membentak Jimmy.
"Katakan padanya untuk menelfon ku nanti setelah dia sampai." Kata Jimmy yang tanpa ada manis-manisnya lalu menutup panggilan.
"Ih.... Astaga! dia menyeramkan sekali saat marah. Telingaku sampai sakit." Mimi menggosok-gosok telinganya.
"Ya, begitu. perbedaannya sangat jauh dengan kakaknya." Kata Bella.
" Lalu bagaimana Rama, komunikasi kalian lancar kan?" Tanya Ayu yang teringat Rama setelah Bella membandingkannya.
Bella menggeleng kecewa. " Tidak, sudah dua bulan semenjak terakhir kali dia menghubungiku. Ku harap dia baik-baik saja."
Di lain tempat.
" Rama, kau tidak ingin menghubungi pacarmu? mumpung ini malam Minggu dan sinyal juga sedang bagus." Kata Ridho teman Rama.
Rama menunduk sesaat lalu tersenyum simpul. " Bagaimana Ya, sebenarnya aku menginginkan lebih dari sekedar berbicara dengan telepon. Mendengar suaranya hanya semakin membuatku rindu, susah tidur dan ingin segera pulang." Kata Rama.
Ridho terkekeh. "Oh, jadi ini sebabnya kau jarang menghubunginya?"
Rama mengangguk. " Iya, butuh waktu bermalam-malam untuk bisa tak kecanduan dengan suaranya. Nampaknya aku tidak berbakat dalam hal long distance relationship." Katanya sambil membenarkan duduknya di atas pohon.
Bagaimana sinyal tak lancar, mereka duduk di pucuk pohon setelah tadi menghubungi orang tua masing-masing.
"Sudahlah Ram, pulang dari sini langsung lah menikah." Ridho menepuk bahu Rama.
Rama tersenyum menertawakan keadaannya sendiri. " Tidak bisa Do. Pacarku itu masih mahasiswi dan dia siswi berprestasi, dia dapat beasiswa. Taukan Bagaimana ketatnya pengawasan dan persaingan dalam mempertahankan beasiswa?"
Ridho mengangguk. " Iya kau benar, Salah sedikit pasti akan ada yang membesar-besarkan lalu beasiswa akan tercabut. Hmh ... dunia memang keras."
"Untuk itu aku tak mau ambil resiko Do." Ujar Rama terdengar lesu.
" Lalu adikmu yang menyebalkan itu?" Cetus Ridho yang pernah bertemu satu kali dengan Jimmy dan meninggalkan kesan yang menyebalkan baginya. Seorang adik yang menyepelekan kakaknya.
Rama menepuk pundak Ridho. " Jangan sebut adikku menyebalkan Do, biar bagaimanapun dia adikku. Satu-satunya kerabatku. Jika nanti orang tuaku meninggal, hanya dia keluargaku. Apapun sifatnya dia tetap saudara kandungku."
"Aku yang salah, tak seharusnya aku hadir diantara mereka berdua." Kata Rama terdengar menyalahkan dirinya sendiri.
Ridho menggeleng. " Kau tidak salah, kau datang saat Jimmy membuangnya. Setelah Jimmy membuangnya dan melihat betapa bagusnya barang yang di buang, dia menyesal lalu ingin merebutnya lagi darimu. Jelas dia yang bersalah dalam hal ini."
"Benarkah?" Rama mendongak menatap Ridho yang memberikan pembelaan dan semangat padanya.
Ridho mengangguk yakin.
"Tapi di mata Ayahku, aku akan selalu salah Do. Aku akan selalu dipaksa mengalah pada Jimmy. Bahkan jika itu sudah berada di dalam mulutku pun, dia akan memintaku untuk melepehnya agar Jimmy bisa tersenyum memilikinya."
Ridho menepuk-nepuk punggung Rama. " Kau tidak sendirian bro! aku pun sama, tapi parahnya yang melakukan hal itu adalah ibuku. Dia begitu mengistimewakan adikku yang punya kelainan jantung. Walaupun sekarang aku yang menjadi tulang punggung, tetap saja aku ini tak ada artinya."
Begitulah kehidupan keluarga, sejatinya tak ada yang sempurna. Perbandingannya adalah satu banding seribu. Ada keluarga kaya tapi tak punya waktu untuk anak-anaknya. Ada keluarga si miskin yang kesusahan mensejahterakan anak-anaknya. Dan si menengah yang cenderung pilih kasih pada anak-anaknya. Itulah realita hidup.
...๐บ๐บ๐บ...
Di lain tempat.
"By, bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Nenek Mirna yang datang dan duduk di meja makan menemani sang cucu yang sedang berkutat dengan laptopnya.
Robbie tersenyum menyambut kedatangan sang Nenek lalu mengusap perlahan punggung renta tersebut. " Baik Nek, semua berjalan lancar. Beberapa hari lagi keinginan Nenek akan terwujud."
"Terimakasih Sayang. Kau sama seperti Ayahmu, sikapmu lembut dan penyayang. Melihatmu sama seperti aku sedang melihat putraku." Ungkap sang nenek yang matanya sudah menggenang air mata.
"Nek, jangan bersedih. Aku kan memang putranya." Robbie memeluk hangat sang Nenek dan menenangkannya. Menangis terlalu lama tak baik bagi jantungnya.
"Nenek tidak menyangka jika perebutan warisan akan membuat anak-anak nenek menjadi buta seperti ini. Mereka bahkan tega menendang kita hingga jauh kemari." Ucapnya mengenang betapa rumitnya hubungan keluarga mereka.
Robbie menatap teduh sang Nenek lalu menggenggam tangannya dan mengusapnya perlahan menularkan kenyamanan dan kehangatan. "Nek, sudahlah jangan diingat lagi. Yang terpenting kita sudah hidup dengan baik dan tenang disini. Ada aku Nek, aku akan menjaga Nenek."
__ADS_1
" Iya, cuma kau yang bisa Nenek percayai." Ujar sang Nenek.
Memanglah harta membuat buta dan tumpul nurani. Bahkan tak jarang ada kasus dimana sang anak sampai tega membawa perkara pembagian dan peninggalan salah satu orang tuanya kemeja hijau. Memenjarakan sang ibu yang melahirkan agar tak mengganggu perihal penguasaan harta warisan. Sungguh ironis.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Dilain tempat dan waktu yang berbeda di sebuah taman komplek.
"Bella, Katakan padaku! apa kau begitu membenciku sampai merahasiakan tentang keberangkatanmu?" Desak Jimmy mengadili Bella yang duduk manis di bangku taman.
Bella menatap datar Jimmy lalu menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya. Jimmy lantas ikut duduk meski dengan nafas yang menderu karena kemarahan.
" Minum!" Bella menyodorkan minuman dingin pada Jimmy. Jimmy menerimanya meski dengan sorot mata tajam menghakimi.
"Memangnya kalau bilang, kau akan mengijinkan?" Tandas Bella datar.
Jimmy dia merajuk seperti anak TK. Seperti ulat bulu yang terjatuh dari dahan. Dia menggeliat dengan mulutnya 6ang terus merengek.
"A~~, ah~ tidak boleh! Kau harus tetap disini. Tidak boleh..., Jangan pergi ya." Jimmy mengguncang lengan Bella dan merengek-rengek manja.
"Jim, Memangnya kau akan menjadi tulang punggungku? memangnya kau akan mencukupi segala kebutuhanku dimasa depan? Sudahlah, aku juga berhak menentukan masa depanku. Aku ingin meraih mimpiku. Kau kan tau negeri sakura adalah impianku." Kata Bella.
"Aku akan menjadi tulang punggung bagimu, aku yang akan memenuhi segala kebutuhanmu, dan akulah masa depanmu. Untuk mimpimu, kita bisa kesana dan berlibur bersama anak-anak kita nantinya.
PLETAK!!
Bella menjitak kening Jimmy.
"Bodoh! jangan bercanda. Aku serius Jim, aku ingin menyelesaikan pendidikanku disana. Meraih gelar disana."
"Tapi aku juga serius dengan ucapanku. Menikahlah denganku, maka akan terjamin segala kebutuhan hidupmu di masa depan." Ucap Jimmy tak kalah kencang sambil memegang keningnya yang agak sakit.
Bella terdiam mencerna ucapan Jimmy. " Benarkah? kau mau menikah denganku yang jelek dan miskin ini? Aku masih ingat Jim, bagaimana kau menolakku, bagiamana kau mengataiku gendut saat kita masih SD." Bella berhenti sejenak dan tersenyum pias menertawakan kisah lalunya.
" Aku ingat bagaimana dulu kita bermain rumah-rumahan dan paman bilang akan menjodohkan kita. Lalu kau menolaknya dengan mengatakan tak akan pernah mau menikahiku karena aku gendut dan jelek seperti b*b*." Bella mengusap bulir beningnya yang terjatuh.
"Lalu kak Rama datang menghiburku dengan mengatakan kalau aku adalah calon pengantinnya. Aku masih ingat itu. Sekian waktu berlalu, dan aku tak mampu membohongi diriku bahwa aku tak bisa membencimu dan aku mencintaimu. Tapi... lagi-lagi kau menolaknya kan?" Tanya Bella dengan kesedihan yang mendalam kembali merasakan bagaimana sakitnya ditolak dan tak di anggap.
Jimmy terdiam. Kini menelan ludah pun terasa begitu sulit dan lehernya terasa terlilit hingga ia merasakan sesak untuk sekedar menghirup udara. Kenangan Pahit yang Bella katakan seolah menamparnya keras-keras. Membuatnya kembali sadar akan kenyataan bahwa dialah yang selalu membuang Bella.
"Dan sekarang, aku sudah memiliki hubungan dengan Kakakmu. Jadi kumohon hargai aku sebagai pasangan Kakakmu. Aku tidak tau kedepannya nanti hubunganku dan Kakakmu bagaimana, tapi yang jelas aku ingin kita semua baik. Jangan bersikap berlebihan seperti ini kepadaku Jim." Bella menarik jarak dari tempat duduknya. Dia menyisakan beberapa kilan dari Jimmy duduk.
" Bella? kau benar-benar akan pergi meninggalkanku? Lalu apa kau sudah meminta ijin pada kakakku?"
Bella menggeleng dan tersenyum kecut. " Tidak, tapi aku yakin dia pasti mengijinkanku. Dia berpikiran dewasa Jim, dia pasti mendukung mimpiku." Bella berbicara dengan yakin dan menerawang ke langit seolah jiwanya bertemu dengan Rama disana.
Jimmy terdiam memikirkan semuanya. Semua pengorbanannya yang dirasanya sia-sia karena Bella yang pergi meninggalkannya begitu saja.
Bella berdiri dan hendak pergi karena merasa semuanya sudah selesai dibicarakan. Gerakannya terhenti seketika kala Jimmy memeluknya dari belakang dan menempatkan wajahnya di punggung Bella.
Tanpa melihat, tapi begitu terasa. Pria itu menangis di punggung Bella. Terasa basah dan hangat disana. Jimmy menangis menyesali perbuatannya terdahulu dimana dia selalu mengabaikan dan bersikap menyebalkan pada Bella. Mengapa dia begitu lambat menyadari perasaannya sendiri?
" Bella, kau boleh pergi tapi setelah mendengarkan pengakuanku." Jimmy menangis tanpa malu di punggung wanitanya.
Bella hanya bisa terdiam menerima perlakuan lembut Jimmy yang tanpa paksaan. Satu hal yang Bella sadari sekarang. Rupanya dia masih menyimpan segelintir rasa untuk Jimmy. Rasa istimewa yang sulit untuk diabaikan. Tidak munafik begitu sulit bagi Bella untuk menghapus Jimmy dari hidupnya.
"Aku mencintaimu, terserah kau mau berpikiran apa tentangku, tapi aku tulus mencintaimu. Bella, aku sungguh tak bisa jauh darimu, jadi kau boleh pergi tapi jangan abaikan panggilan dariku." Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam lalu kembali menyambung perkataannya.
"Sekali saja, sebelum kau pergi. Tolong peluk aku dengan hangat. Sekali saja kumohon." Suara Jimmy terdengar begitu terisak dan nyaris tak jelas.
Bella berbalik badan dan kemudian menuruti permintaan Jimmy. Tak apa kan kalau hanya sekedar berpelukan?
" Pelukan saja, tanpa ada yang lain. Hargai aku!" Ujarnya sebelum memeluk Jimmy dan Jimmy mengangguk.
Mereka berpelukan tapi disini hanya Jimmy yang begitu sedih dan menangis. Sementara Bella dia hambar bahkan tak merasakan apapun. Mungkin ini karena hatinya telah kebas karena terlalu sering terluka dan nyaris cacat.
"Sampaikan pesanku pada pacarku nanti saat dia pulang bertugas untuk segera menghubungiku. Sampaikan padanya kalau aku sangat merindukannya. Dan kalian jangan bertengkar terus. Yang akur ya?" Pesan Bella sambil memeluk dan menepuk-nepuk punggung Jimmy agar Jimmy segera mereda tangisnya.
__ADS_1
"Iya. Aku berjanji akan memenuhi permintaanmu." Jimmy mengangguk patuh. " Tapi, bisakah peluk aku lebih erat dan lama lagi? ini untuk bekalku selama bertahun-tahun nanti kita tak akan bertemu." Jimmy berbicara dengan air mata yang berlinang.
Mereka berpelukan erat dan perlahan Bella juga merasakan getirnya perpisahan yang akan berlangsung lama. Ini adalah pertemuan terakhir mereka.