Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Hari pertama.


__ADS_3


...🌺🌺🌺...


"Kau tidak ingin menghubungi pacarmu?" Tanya Ridho yang baru saja selesai menunaikan ibadah shalat isya.


Tak ada salahnya kan menghubungi? perkara nanti dia akan terbelit rindu atau terjerumus dalam lubang insomnia karena terbayang wajah sang kekasih sih bisa dipikir belakangan.


"Em... besok jatah kita hanya berjaga di pos kan? tidak ikut masuk ke dalam?" Tanya Rama.


Yang dia maksud di dalam adalah hutan liar yang menjadi sarang beberapa orang pedalaman yang sedang bentrok.


"Iya, kita hanya bertugas menjaga pos di jalan besar saja." Jawab Ridho. " Soal pulsa, kau tenang saja kita tinggal bilang komandan." Kata Ridho sambil terkikik geli.


" Komandan, komandan! yang jelas laporannya harus pas." Ketus komandan yang ternyata masih terjaga dan mereka pikir sudah terlelap.


Mempertaruhkan nyawanya, berjuang menjaga keamanan perbatasan di tempat dimana perang antar saudara terjadi bukanlah perkara yang mudah. Rama di tuntut selalu siap dan waspada setiap saat dan setiap waktu. Tak boleh lengah dan mengeluh lelah.


"Siap Ndan!" Cicit Ridho terkekeh.


Rama pada akhirnya menghubungi sang Bunda untuk menanyakan kabar Bella terlebih dahulu. Tapi bukannya dia senang, justru kesedihan melingkupinya.


"Asalamualaikum Bun." Sapa Rama pada sang Bunda.


"Walaikumsallam sayang. Kamu bagaimana kabarnya? sehat Nak? Sudah makan?"


"Sudah Bun, Bunda baik-baik saja kan?"


"Baik sayang, hanya agak masuk angin saja. Tadi kelamaan di bandara."


"Di bandara? ngapain Bun?"


" Oh, iya Bunda lupa mau cerita. Tadi Bunda mengantarkan Bella, Dia diterima sebagai peserta pertukaran Mahasiswa di Jepang. Jadi tadi berangkat dan bunda mengantarnya."


Rama terdiam sesaat. Dadanya terasa terhimpit batuan. Dia begitu sesak dan bingung untuk berucap.


Pacarnya pindah kuliah dan tak memberikan kabar? tak ada pamit? tak ada meminta ijin?


"Oh, anak itu memang pintar Bun, tapi aku tak menyangka jika dia akan terpilih." Kata Rama menutupi kekecewaannya.


Rama tertunduk merasakan ruang hampa di dalam hatinya. "Bun, kalau dia menghubungi Bunda, katakan salamku padanya ya?"


Rama berharap sang Bunda mau menjadi penyalur antara dia dan pacarnya yang belum di kenalkan kepada keluarga.


"Iya, atau tidak kita...."


Tanpa meminta ijin dari Rama, Bunda suci langsung menggabungkan panggilan menjadi panggilan grup dan terhubung dengan Bella.

__ADS_1


"Hai Bun, baru aja pisah udah kangen aja." Ucap Bella tanpa melihat ada berapa gambar yang terhubung.


" Bell?" Secuil nama yang di sebut Rama meski dengan bibir yang membeku.


Sinyal ditempat Rama tidak begitu mendukung untuk melakukan video call dan putus-putus.


"Kak Rama?" Bella tertegun menatap layar ponselnya yang memunculkan gambar pria yang mengisi ruang kalbunya.


Panggilan terjeda hanya di Rama. Memang ditempat Rama sedang mendung gelap dan sinyal berubah menjadi buruk.


DUAR...!


Terdengar suara tembakan dan seketika panggilan Rama terputus.


Bunda Suci dan Bella yang masih terhubung dengan video call keduanya begitu terkejut mendengar suara tembakan tersebut.


"Bun, apa? kenapa ditempat Kak Rama?" Bella bertanya kepada Bunda suci dengan matanya yang berkaca-kaca.


Pikiran Bella sudah berkecamuk tak menentu. Berbagai macam asumsi terbang menghampiri. Bella dengan mata yang basah bercucuran air mata hanya bisa menatap sendu layar ponselnya.


"Tante juga tidak tahu sayang. Kita doakan yang terbaik saja. Tante yakin Rama tidak apa-apa. Dia baik-baik saja sayang. Dia baik-baik saja."


Bunda menepis segala pemikiran negatif perihal kemungkinan buruk yang bisa menimpa putra sulungnya. Doanya mengudara hatinya tak berhenti meminta pada yang Maha Esa untuk keselamatan putranya.


"Sudah dulu ya, Bunda akan tanya komandan." Bunda Winda mengakhiri panggilan dengan tergesa-gesa tanpa persetujuan Bella. meninggalkan kegalauan bagi gadis yang sedang berada ditempat asing.


Di sebuah hotel di Sapporo.


Bella seorang diri menjadi khawatir tak menentu dan panik. Dia teringat juga terakhir kali Rama menghubungi menggunakan nomor asing. Bella mencoba menghubunginya sudah dengan menangis tersedu. Segala pemikiran buruk sudah bersarang di otaknya.


"Lindungi dia... Lindungi dia ya Tuhan." Bella mengusap air matanya yang berjatuhan.


Bella mulai menghubungi nomor yang belum tersimpan di ponselnya. Satu dua kali tak di angkat dan Bella terus mencobanya sampai pada akhirnya panggilan di angkat.


" Iya hallo!" Kata Ridho menjawab.


"Ha... Hallo..., Kak?" Belum selesai Bella bertanya, sambil terisak dan membuat suaranya menjadi tak jelas.


"Iya, siapa ya?" Tanya Ridho.


"Ini aku Bella pacarnya Kak Rama."


" Oh, Bella! Bell Maaf disini sedang kacau! Tapi Rama baik-baik saja, dia sedang menolong teman kami yang terluka tembak dengan komandan. Sudah dulu! nanti aku hubungi lagi!!"


TUT! Panggilan berakhir.


Bella merasakan kelegaan tapi juga ketidak percayaan. Dia ragu dengan ucapan Ridho.

__ADS_1


Di pos penjagaan.


"Ram, pacarmu nangis." Kata Ridho yang membantu mencarikan kain kasa untuk menghentikan laju pendarahan temanya yang baru di bawa ke pos bersama tim medis.


Mereka meneduh karena hujan lebat.


"Kau bilang apa padanya?" Tanya Rama yang juga membantu memegangi temanya dengan menjadikan pahanya sebagai bantalan.


"Bilang kau baik-baik saja dan akan menghubunginya lagi nanti." Jawab Ridho.


" Bagus!" Rama mengangguk.


" Bagus, bagus! lihat aku tertembak begini malah kalian ngerumpi." Protes temannya yang mendapatkan luka tembak.


Lalu dimana komandan?


Komandan sudah sibuk mengatur dan menurunkan bala bantuan untuk mengatasi kerusuhan. Rupanya para pemberontak melakukan serangan malam hari dan memanfaatkan keadaan saat hujan lebat.


Mereka mengubah strategi, tapi belum apa-apa sudah ketahuan oleh para anggota pasukan yang berjaga dan mengakibatkan baku tembak di tengah hujan yang mengganggu jarak pandang.


Semalaman, Bella tidak bisa tidur memikirkan apa yang sedang menimpa kekasihnya. Hari pertamanya menginjakkan kaki di Sapporo malah merupakan hari yang menyesakkan dadanya.


Bella tak pernah menyangka dia akan begitu tersiksa dengan keadaan seperti ini. Keadaan was-was yang seolah siap membunuhnya setiap saat. Lalu, pikiran mulai berkelana.


Bella memikirkan hal seperti ini,


"Bagaimana nanti jika kami hidup bersama? apa jantungku akan kuat setiap kali mengkhawatirkan suamiku yang menjaga perdamaian dan bersaing dengan maut?" Bella menerawang.


"Apa aku bisa, memiliki hati sekuat baja? Merelakan yang kucinta demi tanah air dan negara?"


Segala kemungkinan buruk hinggap dan membuatnya bertambah gelisah. Bella hanya mondar-mandir sampai pagi menjelang.


Pagi hari, udara dingin menyerang saat Bella membuka pintu lobi hotel.


WUS...!


Angin berhembus kencang membuat Bella bergidik kedinginan.


Pertama kali menghirup hawa dingin dari salju membuat hidungnya memerah dan bersin bersin. Bella terserang flu di hari pertama di Jepang. Kurang tidur, kelelahan, dan juga rasa cemas yang membuatnya tertekan semakin membuat fisiknya lemah.


Saat di kelas untuk perkenalan diri, Bella jatuh pingsan dengan kepalanya yang membentur lantai terlebih dahulu. Bella di bawa keruang kesehatan kampus dan di periksa. Dokter hanya menyatakan bahwa Bella butuh istirahat lantaran kelelahan.


Tapi, hal itu sudah membuat seseorang yang berada di balik meja kerjanya marah-marah pada asistennya.


"Kerja begini saja tidak becus! ini baru hari pertamanya dan kau sudah tak bisa menjaganya!" Robbie mengamuk dan menggebrak meja kerjanya.


"Kau mau ku pecat!!" Seru Robbie meluapkan kemarahannya atas ketidak becusan utusannya dalam mengawasi Bella.

__ADS_1


__ADS_2