Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Ayo menikah


__ADS_3

...🐣🐣🐣...


Entah kapan malam ini berakhir, yang aku tahu semalaman aku tertidur begitu nayaman dengan Dia yang membawaku kedalam hangat dekapan.


"Apa kau mimpi indah semalam?" Tanyanya sambil tersenyum kepadaku.


Semalam? memangnya aku semalam ngapain? Batinku yang berharap harap cemas dan jujur saja aku takut jika mungkin saja semalam aku mengigau atau menyebutkan sesuatu yang kotor barangkali?


"Memangnya kenapa, ada apa semalam?" Tanyaku dengan wajah bodohku oh iya dan jangan harapkan jika penampilanku akan mirip seperti pra pemain drama korea yang tetap terlihat cantik dan aestetik meski baru membuka mata.


Dia tersenyum dan seperti sedang merahasiakan sesuatu dariku. Aku semakin terlihat bodoh dibuatnya. Alih alih menjawab pertanyaan ku Dia malah semkin mengeratkan pelukannya.


"Tidak tidak ada apa apa, aku senang saja bisa melihat wajah cantik calon istriku ini, calon ibu dari anak anakku yang tertidur sambil mendengkur." Jawabnya yang tak membiarkan aku sedikitpun bisa berkutik dari pelukannya. Dia sengaja melakukan ini agar aku tak bisa menyerangnya ataupun mengajukan protes sebab kini wajahku sudah terbenam dalam dadanya.


Jujur ku akui, Dia merupakan sosok pengayom yang berjiwa hangat. terkadang saat bersamanya seperti ini, aku selalu saja bisa terjebak dalam hayalan manisku dimana aku mengarungi hidup berdua dengannya si berandal SMA.


"Apa~~? kau bicara apa? aku tak bisa mendengarnya." Ujarnya yang masih menggodaku bisa kurasakan bagaiman dia tertawa sekarang dari getaran suaranya yang terdengar jelas di telingaku.


Detak jantungnya pun aku bisa mendengarnya, irama dan deru nafasnya pun bisa kurasakan berhembus meniup di pucuk kepalaku. "Jangan bergerak biarkan seperti ini saja dulu." Katanya.


Kukira dia polos, ternyata dia merupakan penggoda ulung. Apalagi yang bisa ku lakukan selain menurut dengannya kali ini? Tidak ada, sungguh tidak ada selain menikmati waktu kebersamaan kami yang seperti ini yang serasa berhenti.


Sayangnya seruan alam semesta harus membuat dekapan kami terurai. "Bie, lepas~~, aku mau ke kamar mandi." kataku malu malu.


"Sana, pergilah aku akan memesan makanan." Katanya yang kemudian melepasku.


Aku masuk kedalam kamar mandi dan meninggalkannya untuk misi memenuhi panggilan alam semesta. Tidak lama hanya satu jam sekalian aku mandi dan saat aku keluar aku sungguh di buat tercengang olehnya.


Tunangan ku ini telah mempersiapkan banyak barang barang yang terbungkus rapi. Barang barang yang tak bisa ku tebak apa isinya.

__ADS_1


"Bie, apa ini? katanya mau pesan makanan?" Tanyaku yang malah justru disambut degan senyuman cerahnya.


"Ini makanannya." Dia menunjuk nampn yang berisi sarapan kami diatas meja kecil di sebelah lemari.


"lalu kotak kotak ini?"


"Ini hadiah untukmu Chagi, karena sudah mau menemaniku memancing meski gagal kemarin." Ucapnya.


Hanya memancing, dan aku dapat hadiah sebanyak ini? Tidak, kurasa ada yang lain.


"Tidak, ini aneh. ini terlalu berlebihan jika dikatakan sebagi hadiah karena menemanimu memancing." Aku menggeleng.


"Happy birthday Chagi!" Ucapnya dengan begitu bersemangat dan memberikanku pelukan hangat.


ulang tahun? Ah~~~~ iya, ini adalah hari kelahiranku, hari ulang tahunku dan aku melupakannya. Karena sibuk memikirkan kuliah, sibuk mengalihkan rasa rinduku pada Ayah dan Bunda, aku sampai melupakannya.


"Kamu tahu?" Tanyaku dengan nada terkejut.


Aku terharu dan menangis saat bisa berbicara dengan Ayah dan Buna. Rupanya ini sudah menjadi proyek mereka bersama sejak sebulan yang lalu. Pantas saja mereka susah dihubungi dan selalu banyak alasan. Ternyata mereka telah bekerja sama untuk memberikan kejutan ini.


"Buna ada di itali?" Tanyaku yang sangat terkejut mana kala Buna memamerkan tempat dimana mereka menginap.


"Buna, apa Buna menang undian atau apa, kenapa bisa sampai ke Itali?" Tanyaku.


"Ini hadiah dari calon menantu Buna sayang. katanya sebagai ucapan terimakasih karena telah melahirkan mu ke Dunia, dan juga sebagai ucapan kado ulang tahun pernikahan Ayah dan Buna."


Astaga...! ternyata ini yang mereka lakukan di belakangku? Jika sudah begini apa aku bisa menolaknya untuk menjadi imamku? Aku memang bukan manusia yang taat beragama. tapi aku juga tau kriteria lelaki seperti apa yang sepatutnya bisa ku jadikan imam.


"Ayah, Buna..., selamat hari ulang tahun pernikahan." kataku sambil menitikkan air mata.

__ADS_1


Sedih, biasanya kami selalu merayakan hari ini bersama sama dengan mengadakan makan malam dan juga potong kueh bersama. Tapi sekarang kami terpisah dan melakukannya hanya melalui video call.


"Selamat hari ulang tahun sayang.. nak, Robbie sudah mengajak ayah bicara dari beberapa waktu yang lalu. Dia ingin segera menghalalkanmu. Dia ingin hidup bersamamu dan dia berkata ingin menikahimu untuk membahagiakanmu. Ayah rasa Dia pria yang bertanggung jawab dan baik. Ayah memberikan restu padanya untuk menikahimu. Ayah rasa itu lebih baik dari pacaran." Ayah menjeda ucapannya dan meneteskan air matanya. Cinta pertamaku, Ayahku, kini tengah memberikan wejangan padaku.


"Menikahlah sayang, ayah memberikan restu. Ayah rasa dia bisa membantu pendidikanmu meski tanpa Beasiswa. Tentunya jika ada pihak yang tidak senang melaporkannya kepada dekan." Ayah berbicara dari dalam hatinya sambil bercucuran air mata dengan Buna yang tampak lebih tegar dam mengusap pundaknya di sampingnya.


"Jaga anak Ayah baik baik Bie." Kata Ayah saat kamera menghadapnya.


Dia hanya mengangguk dan mengusap air mataya. Apa ini? Apakah ini sebuah lamaran resmi atau pinangan?


"Bie, bisa kau jelaskan semua ini? Sejak kapan kau membicarakan ini dengan Ayah?"


"Chagi, jangan marah. Aku membicarakan ini sedari awal bertemu dengan Ayah dan Buna. Aku mencintaimu Chagi, dan rasanya aku tidak bisa untuk selalu menjaga jarak denganmu. Itu sebabnya sedari awal memang niatku adalah langsung untuk menikah, bukan hanya sekedar pacaran." Jawabnya yang terdengar tulus padaku.


Tapi, apa ini? dia sampai menitikan air matanya? Apa Dia pikir aku akan menolaknya?


Aku memeluknya dan mengusap punggungnya. "Ayo kit menikah, dan jadikan hubungan kita ini LEBIH DARI PACAR" Kataku yang disambut euforianya yang teramat heboh.


Dia melepaskan pelukanku, berlari mengelilingi kamar, melompat, dan berteriak teriak kegirangan. Dia lalu menggendongku dan menciumi wajahku. Terlihat dan terasa sangat bahagia.


"Ayah dan Buna kau biarkan mereka pergi ke Itali, lalu kita kemana?" Cetusku yang hanya asal asalan berharap tangisnya akan mereda karena pengalihan topik pembicaraan.


"Di kamar saja." Jawabnya dengan bibirnya yang berbicara di ceruk leherku.


Aku tertawa dalam hati. Rupanya lelakiku ini adalah pria yang berhati lembut dan hangat. Dia sangat manis ketika begini.


"Tidak, jika di kamar saja nanti aku cepat hamil. Aku ingin menyelesaikan dulu kuliahku Sayang.." Kataku yang masih menepuk punggungnya.


"Aku suka itu. Sayang... terdengar manis kan?" Ucapnya mengulang kata SAYANG.

__ADS_1


Satu panggilan sayang saja sudah bisa membuatnya sebahagia ini. Bahagiamu sederhana Bie.


__ADS_2