Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Apa dia marah?


__ADS_3

Robbie terbang kembali ke Indonesia, saat keberangkatannya dia hanya meninggalkan sepucuk surat yang ditulisnya sendiri untuk Bella.


Aku berangkat,


Jika mau pulang, kamu bisa minta sopir untuk mengantarkan. Maaf tidak membangunkan mu. Aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu. Terimakasih untuk ciuman penghantar tidurnya.


Apa yang dirasakan oleh Bella saat ini hanyalah hampa. Tidak pernah sebelumnya dia merasakan sesuatu yang bercampur aduk seperti ini. Sedih, kecewa, rasa tak berdaya, semuanya bersatu dan perlahan melumpuhkannya.


Setelah terbangun, Bella memutuskan untuk kembali pulang ke rumah sewanya. Rupanya Madam Yuki sudah mengirimkan pesan dan menunggunya.


"Bell, hari ini kamu wajib hadir." Ucap Madam Yuki.


"Wajib ya Madam? tidak bisa zooom saja?" Tanya Bella sambil membuka gerbang rumahnya.


"Tidak, ini giliranmu untuk bertatap muka dengan dosen. Beberapa hari tidak hadir, mereka mulai mempertanyakan kehadiranmu sebagai siswi pindahan baru. Dari awal belum pernah bertemu kan? Aku takut itu akan mempengaruhi nilai dan juga jaminan besiswamu."


"Iya, Anda benar Madam. Baik, saya akan segera berangkat." Ucap Yuki yang dengan segera memasuki rumahnya.


...~~~...


Cuaca begitu cerah saat Bella selesai mengikuti kelas. Berbaur bersama dengan orang-orang baru membuatnya sedikit bisa melonggarkan rasa yang mencekam lehernya. Perasaan bersalah karena tak bisa menemani Robbie dan bergantian membantunya.


"Hhh..., aku berhutang Budi pada dia." Gumamnya sambil terus berjalan tapi pikirannya mengambang.


Kesendirian dan diam, nampaknya hal itu yang harus dia biasakan. Tak ada teman dekat ataupun sejawat membuatnya mandiri dalam apapun.


Para ahli di bidang Developmental psychology sering mengatakan bahwa ketika seseorang meninggalkan masa remajanya dan menuju masa dewasa awal, berarti mereka sedang melakukan transisi.


Dunia remaja itu selalu diwarnai dengan dunia pertemanan sehingga tidak sedikit remaja yang terkadang mengalami guncangan mental karena Maslah yang terkait dengan pertemanan tersebut.


Saat mencapai usia pubertas, yaitu sekitar usia 11 tahun pada perempuan dan 12 tahun pada laki-laki, proses penyaringan fungsi otak mulai terjadi. Perilaku yang kerap dilakukan akan memperkuat koneksi antar bagian saraf otak tertentu, sedangkan koneksi antar bagian saraf otak yang lainnya dan tidak diperkuat oleh perilaku yang menunjang maka koneksinya akan melemah dan bisa saja koneksi sudah tidak berfungsi lagi. Proses ini akan terus terjadi sampai usia menginjak 20 tahun.


Dan hal inilah yang sebenarnya sedang Bella alami, dia masih berupaya mengenali dirinya sendiri dan dimana menempatkan dirinya dalam suatu lingkaran sosial. Juga termasuk bagaimana dia mengenali perasaannya.


Sebuah pesan masuk, dan itu sungguh membuatnya terkejut.


Aku tunggu di depan rumah Bell, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan. Jimmy.


"Apa, ji.... Jimmy? dia kemari lagi?" Gumam Bella membaca pesan dari Jimmy.


"Ada apalagi dia kesini?" Bella sungguh bingung dan tak mengerti mengapa Jimmy bisa sampai mendatanginya.


Bella mempercepat langkahnya walaupun tetap berhati-hati dan sedikit takut terpeleset. Sampainya di depan gerbang, benar saja Jimmy sudah berada disana dan langsung memeluk Bella.


"Lepas!!" Bella mengurai pelukan Jimmy dengan kasarnya.


Jimmy terlihat menangis dan berurai dengan air mata.


"Bell, aku senang bisa bertemu denganmu lagi." Ucapnya dengan matanya yang sembab.


Bella masih tidak mengerti dan dia terus memperhatikan setiap pergerakan Jimmy. Jimmy terlihat tidak baik-baik saja. Dia terlihat tertekan dan takut.


" Ada apa?" Tanyanya.

__ADS_1


" Boleh aku masuk?" Tanya Jimmy dengan tatapan memaksa.


"Ayo Masuklah, di luar sangat dingin." Bella memberikan ijinnya.


Mereka masuk dan Bella mulai mengintrogasi Jimmy yang duduk terdiam dan menatapnya nanar. Wajahnya begitu kusut dia seperti orang yang beberapa hari tidak tidur.


"Ada apa? kenapa penampilanmu seperti ini?" Tanya Bella yang menyuguhkan secangkir teh hangat untuk Jimmy.


Jimmy menitikkan air matanya dia benar-benar terlihat frustrasi. "Bell, apa kau mau membantuku?"


"Membantu dalam hal apa? kalau soal uang, aku tidak punya. Juga kamu kenapa sampai kemari. Katakan semuanya dengan jelas!"


"A... aku. .. membuat masalah." Ucap Jimmy dengan mulut yang bergetar.


Masalah? apalagi sekarang? Ini pasti Maslah besar, hingga dia pergi sejauh ini.


"Maslah apa? katakan! aku bukan dukun ya, sampai bisa tau semua tanpa kau katakan." Bella mulai terpancing emosi.


"E... Eva video kami tersebar di sosial media."


"A.... apa? aku tidak salah dengar? video?" Bella terkejut dengan penuturan Jimmy. "Jadi kalian melakukannya sambil merekam gambar begitu?" Imbuhnya.


Jimmy mengangguk.


"Dia merekamnya, dan aku tidak tahu Bella. Aku tidak menyangka jika akan terjadi seperti ini. Semua ini bermula saat laptopnya hilang, dan video kami tersebar di sosial media. Ayah mengetahuinya, dia lalu mengamuk dan menghajar ku habis-habisan. Aku sungguh bingung harus apa?"


"Lalu kamu lari?" Tanya Bella.


"Lari itu tidak menyelesaikan masalah Jim. Kamu harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita. Itulah sebabnya aku tidak suka saat kau dan dia sudah begitu bebasnya melakukan hubungan suami istri." Bella mendadak pusing. Dia kemudian memijit keningnya.


"Dia juga marah, tapi tidak separah Ayah. Ayah menghentikan semua fasilitas yang diberikan untukku. Tapi Kak Rama masih mau membantuku. Dia bilang akan merundingkan hal ini dengan kenalanya di departemen kepolisian."


"Hhhh.....! Akhirnya kau menuai apa yang kau lakukan. Lalu apa tanggapan Eva?" Ucap Bella yang sebelah hatinya menyimpan makian berlebih untuk sahabatnya ini. Hanya saja dia tak tega untuk melontarkannya sekarang.


"Dia meminta aku untuk menikahinya karena dia kepalang malu, orang tuanya juga datang kerumah kemarin. Mereka ingin kami menikah."


"Ya sudah, mungkin bila kalian menikah maka bisa mengurangi sanksi hukum. Kalian bisa terjerat kasus pornografi. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Jim. Bagaimana kalau laptop itu tidak hilang? melainkan Eva sendiri yang menyebarkan?" Ucap Bella.


"Aku juga curiga ke arah sana. Tapi Ayah terlanjur kecewa dan tak mau mendengarkan aku lagi." Ucap Jimmy.


Oh, Ayolah Jim. Ayah mana yang tidak kecewa melihat anaknya menjadi manusia berengsek yang rendah moral dan akhlak begitu?


"Tentu saja!" Bella membentak keras Jimmy.


Bella sungguh meradang di buatnya, dahulu mereka sempat bertengkar karena hal ini. Karena Bella yang menasehatinya tapi malah di anggap sebagai bentuk iri.


"Lalu sekarang apa rencanamu?" Tanya Bella.


"Entahlah, aku tidak tahu. Kepalaku mau pecah rasanya. Apa kau punya obat?" Tanya Jimmy yang memang keadaannya tidak terlihat baik.


"Ada, pereda nyeri." Kata Bella tapi Jimmy segera memotongnya.


"Salep luka, apa kau punya? Ayah mencambukku dengan ikat pinggangnya."

__ADS_1


Astaga! cambuk? jadi dia sudah mendapatkan hukum cambuk? Jika Ayah Dhani sudah bertindak, itu pasti sangat mengerikan.


Bella yang hendak bangkit pun kembali duduk dan menatap nanar orang yang dahulu pernah dicintainya. Ya... walaupun dia tak sepenuhnya yakin akan makna cinta yang melekat pada saat tersebut.


"Buka bajumu, aku akan mengobatinya." Ucap Bella dengan kemudian mengambilkan obat.


Jimmy membuka bajunya, dan benar saja punggungnya sampai membilur biru dan juga ada luka panjang menganga seperti sayatan.


"Kamu dicambuk sampai separah ini? lalu apa kata Bunda?" Tanya Bella sambil mengobati luka Jimmy.


"Bunda tidak membelaku. Tidak ada yang membelaku, hanya kak Rama yang masih berusaha untuk mencari keringanan untukku."


Kasihan.


Itu yang sebenarnya ada di dalam batin Bella. Dia begitu kasihan melihat kondisi sahabat kecilnya.


"Bell, ijinkan aku untuk menetap disini dalam beberapa hari saja ya? Aku ingin menenangkan diriku." Pinta Jimmy.


" Hem...!" Bella mengangguk dan menutup tempat obatnya.


Tanpa di duga Jimmy kemudian menghambur dan memeluknya dengan erat.


Bella terdiam dan hambar. Jimmy menangis di pundak Bella. Dia menyesali perbuatannya yang begitu bodoh.


"Mungkin ini karmaku karena telah banyak menyakitimu dulu." Ucapnya.


"Sudahlah, yang sudah berlalu jangan di ungkit lagi. Pikirkanlah saja masa depanmu setelah ini." Bella menepuk-nepuk pundak Jimmy.


Mengapa aku tidak merasakan debaran seperti dulu? Mengapa aku merasa seperti sedang selingkuh dari Robbie? Ah ini tidak benar...


Bella menggelengkan kepalanya kala tiba-tiba yang ada di kepalanya adalah Robbie. Saat Jimmy memeluknya, dia malah teringat akan kali terakhir sebelum Robbie pergi dimana Robbie memeluknya erat dan menatap hamparan salju yang memutih.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Bella setelah membantu memakaikan baju Jimmy dengan hati-hati.


Jimmy menggeleng.


"Ayo kita makan, aku yang traktir." Ucap Bella yang sebenarnya hanya ingin menghibur sahabatnya.


Bella dan Jimmy lalu memesan taksi dan keduanya berencana untuk makan di luar. Saat taksi datang, bertepatan dengan Madam Yuki yang baru pulang dari universitas. Madam melihat mereka berdua, tetapi Bella tidak melihatnya.


Tak berselang lama dari itu, ponsel Bella berdering.


Bella tersenyum menerimanya dan itu dari Robbie.


"Halo Bella?"


"Iya Hallo Bie, apa kamu sudah sampai?" Tanya Bella perhatian.


"Sedang bersama siapa kamu?" Tanya Robbie dengan tanpa basa-basi.


Bella terdiam sesaat. Dia menjadi degdegan sekarang. Kenapa aku sangat takut kalau dia akan marah?


"Jimmy. Di baru tiba sore ini." Ucap Bella dengan jujur.

__ADS_1


Tak memberikan banyak komentar, Robbie seketika mematikan sambungan teleponnya. Dari nada bicaranya sangat terlihat jika dia tak suka mendengar Bella sedang bersama laki-laki yang bukan dirinya.


Apa dia marah? Dia marah? Tapi kamu juga tak punya ikatan apapun kan? Tapi mengapa aku juga merasa bersalah karena telah bersama laki-laki lain?


__ADS_2