
...~•~...
"Maaf..." Ucap Bella dengan mencolek colek dagu Robbie.
"Tau ah, makanya apa apa tuh di cari tau dulu kebenarannya. Jangan asal main mutusin sendiri." Ketus Robbie yang berbicara dengan nada yang naik satu oktaf.
"Ya maaf sayang, aku kan cemburu." Ucap Bella yang semakin menempelkan tubuhnya. "Awas ah, kamu belum mandi." Robbie sengaja menolaknya dengan halus.
Gantian kamu Chagi, aku akan mengerjaimu. Batin Robbie yang menyembunyikan senyuman tipisnya. tipis sekali sampai Bella tidak menyadarinya.
"Sayang..." Bisik Bella yang semakin menempel seperti lepehan permen karet.
Malu ya Bel? udah banyak gaya ngamuk ga jelas taunya salah sasaran.
"Hem!" Robbie hanya berdehem dan memijit pangkal hidungnya seolah sedang memikirkan beban berat.
Kok cuman Hem sih? Apa dia benar-benar marah?
Iyalah marah, orang idungnya lu tabok.
"Besok, aku tidak ke kampus." Ucap Bella sengaja memancing dan menunggu reaksi dari suaminya yang nyatanya masih datar datar saja.
Pak Sasuke hanya menatap keduanya melalui pantulan spion dalam. Dasar pengantin labil, begini jadinya kalau masih muda sudah menikah. Sering heboh tidak jelas.
"Siapa?" Celetuk Robbie.
"Aku, aku besok mulai lagi kelas online." Bella menjelaskan.
"Siapa yang tanya?" Sambung sang suami yang kemudian membuang pandangannya keluar jendela.
Hahahaha senang sekali aku bisa ngerjain kamu begini Chagi. Kita lihat segemesh apa kamu sama aku.
"Ih~~~Sayang, kok gitu sih? menyebalkan!" Bella kemudian mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya ke dada lalu ikut membuang pandangannya keluar jendela.
Di lain tempat.
"Ciluk Ba...!" Saudara gelak tawa bersahutan dari dua manusia berjenis kelamin sama berbeda generasi.
Leon si gumpalan daging yang suka meneteskan liur itu nyatanya mampu menghipnotis Rama untuk menjadi sosok yang adiktif terhadap bayi mungil tersebut.
"Ini kopinya Pak." Tamara menyajikan kopi di depan meja tempat Rama duduk dan bermain dengan Leon yang berada di pangkuannya.
"Terimakasih." Sahut Rama sambil tersenyum senang dan kembali bermain bersama dengan Leon.
"Tam, sekali sekali aku boleh ya mengajak Leon pulang." Kata Rama yang tiba-tiba meminta ijin untuk membawa bayi orang pulang.
"Jangan! em... maksud saya tidak Pak saya takut nanti dia akan rewel. Dia kan sama sekali tidak minum susu formula." Tolak Tamara yang beralasan cukup masuk akal.
Rama tersenyum lalu menatapnya. "Ya sama kamu dong." Ucap Rama.
"Pak, sejujurnya saya tidak enak seperti ini terus. Bapak selalu mengantar jemput saya seolah saya ini tanggung jawab Bapak."
"Ya memang kamu tanggung jawab saya. Kamu kan karyawati saya." Kata Rama.
"Tapi kan Pak, karyawan dan staf bapak yang lain juga banyak, tapi kenapa cuma saya yang bisa bapak antar dan jemput? Saya capek pak jadi bahan gunjingan di kantor. Mereka semua tidak suka, ya walaupun diantara kita memang tidak ada apa-apa."
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak ada apa-apa, selagi kamu tidak menyusahkan dan merugikan mereka lalu apa masalahnya?"
Rama tetap saja tidak mau memahami sisi Tamara. Tamara selama ini selalu menolak tapi Rama yang selalu memaksa untuk mengantar dan jemput ia setiap hari.
"Tam, aku juga ga tau kenapa. Tapi sehari aja aku ga ketemu sama Leon itu rasanya udah kayak ga enak. Kayak yang penat banget." Kata Rama sambil terus menimang Leon yang asik duduk di pangkuannya dan bermain dasi dari atasan Mamanya.
"Leon....!" Seru salah seorang ibu ibu yang datang sambil membawakan sebuah bungkusan.
"Ah, iya Bu... ada apa?" Tanya Tamara yang seketika berdiri menyambutnya.
"Ini, tadi Bu RT ada acara pengajian dan membagikan makanan. Ini jatah untuk Leon ya, Leon...!" Serunya lagi memanggil bayi tampan yang juga meresponnya dengan memberikan senyuman.
"Oh ia makasih banyak ya Bu. Nggak mampir dulu?"
"Enggak, ibu mau langsung pulang si Bapak udah minta di kerokin." Katanya yang kemudian pergi.
Tamara kembali duduk di kursi yang berada di teras depan rumahnya itu. Sering berkunjung tapi juga tak pernah berbincang di dalam rumah, keduanya sering mendapatkan perhatian dari para tetangga yang melintas.
"Tuh Leon dapet apa itu ya?" Desis Rama yang mengangkat tubuh Leon dan melongok bungkusan yang ada di atas meja tersebut.
"Sini, Leon sama Mama sayang. Bapak kalau mau itu makan aja. Biasanya sih nasi." Kata Tamara.
"Terus kamu?" Tanyanya lagi saat Tamara hendak masuk untuk mengambilkan piring dan sendok.
"Nanti saya gampang, bisa buat Mi instan aja." Jawabnya sambil tersenyum.
"Ah enggak Tam. Kamu kan menyusui, harusnya kamu yang makan makanan bergizi. Jangan makan makanan junk food." Kata Rama yang mengingatkan.
"Emm... pak, sebaiknya bapak kurangi deh waktu main ke sini." Kata Tamara yang juga jarinya sibuk membelai si buah hati yang mulai mengantuk.
Tamara menggeleng cepat.
"Bukan Pak, tidak begitu. Maksud saya hanya berjaga-jaga saja. Saya sudah katakan sebelumnya bahwa banyak yang menggunjing kedekatan kita." Tamara berbicara sambil menunduk dan tak berani menatap wajah atasannya yang berubah menjadi lebih baik setelah pertemuan pertamanya dengan Leon.
Rama berdiri dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Ya sudah, kita bicarakan besok saja." Katanya yang kemudian mengusap pucuk kepala Leon yang terlelap dalam pangkuan Tamara.
"Om pulang dulu ya sayang." Lirihnya berpamitan pada bayi yang terlelap itu.
Saat itu juga, secara otomatis keduanya mengikis jarak sebab Rama membungkukkan badannya untuk mengecup kening Leon sedangkan Tamara yang gugup dan kikuk tak bisa berbuat banyak selain menahan nafasnya dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
Menguar bahkan menggelitik di hidung kala Rama mendekat mengikis jarak. Tak dapat dipungkiri bahwa Rama selalu bisa menampilkan pesonanya sendiri. Dia selalu menunjukkan kepada lawan jenis akan sosoknya yang berwibawa dan gagah. Pembawaannya yang tenang seolah menjadi nilai tambah yanng bisa melumpuhkan lawan.
"Besok, siapkan rapat jam 11. Jangan lupa." Katanya sebelum akhirnya meninggalkan rumah Tamara.
Punggungnya kian menghilang, deru mesin mobilnya pun tak lagi singgah di pendengaran. Tamara dapat bernafas lesa sekarang.
"Huh...., kamu kasih apa itu Nak Bosnya Mama?" Tanyanya pada Leon yang masih setia memejamkan matanya.
"Di pelet mungkin Bu sama Baby L. Orang saya saja yang baru satu bulan sudah klepek-klepek sama Baby L apalagi Bosnya ibu yang sudah berbulan-bulan lamanya." Ujar Mbak Nina baby sitter Baby L.
"Atau, jangan jangan dia suka sama Ibu kali."
"Hust! enak saja. Tidak mungkin Mbak, saya ini wanita yang sudah punya anak tapi tak punya suami, mana mau keluarganya menerima saya dan anak saya ini yang asal usulnya tidak jelas. Mungkin saya akan sendirian dan hanya fokus untuk membesarkan Baby L sendirian Mbak."
"Tapi Ibu masih sangat muda, yakin Bu tidak mau mencari pendamping?"
"Kalaupun sayanya mau, sudah pasti Keluarga mereka akan menolak Mbak. Karena saya dan anak saya yang tidak jelas."
__ADS_1
"Jangan berputus asa Bu, jodoh itu Allah yang atur."
Tamara terdiam duduk sendirian dan memikirkan perkataan dari Mbak Nina. Dia hanya bisa mengusuk wajahnya kasar dan menengadah menatap langit-langit teras yang berbatasan dengan bintang dan rembulan malam. Dalam hatinya Tamara hanya berharap yang terbaik untuk masa depan anaknya.
Di tempat lain.
Temaram lampu kamar setelah para penghuninya selesai membersihkan diri masih menyala dalam redupnya.
Robbie yang masih kesal memilih untuk segera membersihkan diri dan segera berbaring membelakangi Bella. Sedangkan Bella, dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai Bathrobe.
Apa sudah tidur? secepat itu? Gumam Bella yang kemudian melongok melihat sang suami yang sudah memejamkan matanya. Dia bahkan sampai menggerakkan tangannya di depan wajah sang suami.
"Tidurlah, sudah malam!" Kata Robbie tiba-tiba.
Bella tertegun beberapa detik hingga kemudian dia memiliki satu kejutan yang di persembahkan untuk snag suami.
"Ya.." Jawabnya yang terdengar lesu.
Bella bangkit, Dia mengeringkan rambutnya hingga setengah basah. Mengoleskan misk di bagian tertentu tubuhnya. Sedikit riasan tipis juga di pakainya, tak terlupakan perona bibir yang menambah daya pikat sensualitas.
Selesai dengan ritualnya, perlahan Bella mulai menaiki ranjang dan ikut menelusup masuk kedalam selimut sang suami.
Menguar lembut aroma misk yang perlahan terbawa angin pendingin ruangan. Aroma yang berbeda, yang tenang tak begitu tajam tapi juga memabukkan.
"Selamat malam sayang." Kata Bella dengan suaranya yang lembut. "Selamat tidur." Ucapnya dengan mencium dagu sang suami.
Robbie mendengus kesal, pasalnya dia menunggu kecupan di bibir, bukan di dagu. Seketika dia membuka matanya dan mengalihkan tangannya yang sedari tadi bertengger menutupi keningnya.
Tapi betapa terkejutnya dia saat Dia bergerak secara tidak sengaja menyentuh sesuatu yang halus mulus tanpa pembungkus. Sesuatu yang biasanya terbalut rapat.
"Chagi.." Panggilnya dengan suara yang terdengar bersemangat. Dia seketika membalikkan badannya dan kini menghadap sang istri yang memunggunginya.
"Hem?" Sahut Bella dengan menyembunyikan senyuman di wajahnya.
Robbie menelusupkan kepalanya kedalam selimut untuk memastikan sesuatu. Matanya terbelalak sempurna kala melihat ciptaan Tuhan yang Esa telah siap menyambutnya dengan penuh suka cita.
Tak banyak bicara lagi dia langsung melepaskan sendiri pakaiannya dan melemparkannya ke sembarang arah. Terasa ranjang bergerak dengan hebohnya saat Robbie lagi lagi kesusahan untuk membuka celananya.
"Pelan pelan saja sayang, santai saja. Ini permulaan bagi kita kan?"
Robbie mengangguk. "Sejak kapan kau mempersiapkannya?"
"Sejak mandi tadi." Jawab Bella yang sekarang sudah berada di bawah Kungkungan sang suami yang *****4* lembut bibirnya.
"Sejak aku mandi tadi."
Jemari Robbie mulai bergerak aktif dan menekan tengkuk sang istri agar ciuman mereka semakin dalam. Bella pun menjadi pro dan membalas dengan penuh totalitas.
Silaturahmi antara dua benda bersejarah seharusnya sudah terjadi dari malam pertama seminggu yang lalu. Hal yang tertunda itu kini memunculkan gelora yang teramat membara hingga membuat keduanya saling terengah-engah kehabisan udara.
Tak puas hanya bermain disekitar wajah, Robbie kini mulai menjelajah sesuatu yang sudah menjadi hak milik lagi sah baginya. Dia teramat senang dan bangga saat benda pusakanya berhasil menerobos sesuatu yang sempit, hangat dan kenyal.
"Sakit .." Rintih Bella dengan bulir air mata yang menghiasi kedua mata indahnya.
"Sebentar dan maaf. Tapi aku akan membuatmu senyaman mungkin Chagi. I love you!" Bisik Robbie dengan iringan lengkuhan mana kala pusakanya memulai aksi brutal.
Berpeluh dan lelah hingga akhirnya sang suami terlelap dan mendengkur halus sambil memeluk tubuh sang istri yang juga basah akan keringat. Keduanya terlelap tanpa balutan dan hanya selimut sebagai penutup pemandangan.
__ADS_1