
...~~~...
Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati katanya. Mungkin falsafah itu benar adanya bila mata adalah jendela hati. Bella mengingat sendiri akan ucapanya kepada Robbie.
"Apa? biarkan saja seperti air yang mengalir. Lebih dari teman, kurang dari pacar." Perkara itu seolah menggelayut di atas kepalanya. Terus terngiang-ngiang dan sulit melupakannya.
"Aku mengatakan hal itu?" Gumamnya kembali meraba dimana dulu Jimmy juga pernah mengatakan hal yang sama dengannya lalu ingin berbuat semaunya tanpa mau ada ikatan yang mengikat keduanya.
Bella masih di dalam kamarnya, dia sedang berias dan memantaskan diri di depan cermin. "Sudah tidak pucat lagi kan?" Dia bermonolog dan kemudian tersenyum menatap pantulan diri.
"Ah, siap. Apa aku terlalu lama?" Gumamnya melihat jam tangan dimana sudah menunjukkan selama satu jam dia berdandan.
Bella keluar dengan perlahan-lahan, dia masih sangat malu atas kejadian tadi. Kejadian dimana dia sangat agresif kepada Robbie.
Entahlah, tapi bibir tipis Robbie mampu menghipnotisnya dan membuatnya melakukan hal yang tak semestinya.
Saat Bella semakin dekat ke ruang tamu, terlihat Robbie yang tengah tertidur meringkuk di sofa. Langit di luar tertutup kabut putih yang mungkin badai salju akan turun. Suasana remang menghiasi ruang tamu dimana Robbie terlelap dengan begitu nyamannya.
"Kamu pasti capek banget ya? Dari kemarin nungguin aku. Terus hari ini harus wara-wiri antar jemput. Maaf ya Bie, setiap ketemu aku selalu menyusahkan." Lirihnya Bella saat melihat wajah damai Robbie yang terlelap dengan pulasnya.
Bella melepaskan tasnya dan kemudian mengambilkan selimut lalu memakaikannya pada Robbie. Robbie tak bergeming, nampaknya anak itu memanglah sangat lelah.
Hari hampir menuju senja, tapi tetap saja tak ada semburat jingga. Langit hanya menunjukkan kabur putih yang semakin tebal dan membuat Bella harus menyalakan lampu di ruangan tersebut.
Robbie masih berada di sofa, dia meringkuk dengan nyaman. Bella lalu memutuskan untuk membuat makanan sebagai makan malam sambil mendengarkan pantauan cuaca.
"Hhhh, badai salju. Semoga tidak ada apa-apa." Gumamnya sambil memasak. "Ada ayam, bihun, seledri.." Bella terdiam mengabsen sisa bahan yang teronggok di kulkas.
Dia memutuskan untuk membuat soto ayam. tapi berhubung bumbunya tidak lengkap nampaknya lebih bisa dikatakan sebagai sup ayam.
__ADS_1
Semerbak wangi aroma masakan mulai menggelitik hidung Robbie. Dia begitu menikmati aroma wangi ini. Matanya mulai mengerjap perlahan, menyesuaikan sinar yang masuk secara diam-diam. Seulas senyuman nampak di sudut bibirnya. Melihat punggung sang wanita yang tengah bergerak membuat sesuatu.
"Apa? biarkan saja seperti air yang mengalir. Lebih dari teman, kurang dari pacar."
Kalimat tersebut bersarang di kepala Robbie. seperti terngiang dan tak berhenti.
Jika maunya benar demikian itu tandanya untuk sekedar memeluknya pun aku tak ada larangan? Benar kan? Batin Robbie yang kemudian tersenyum-senyum sendiri.
Bella berbalik badan untuk menata makanan. "Ah, Bie? sudah bangun?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Iya aku terbangun karena wangi masakanmu Chagi.." Ucapnya.
BLUSH....!
Panggilan Chagi. itu sontak membuat Bella merona. Memang norak, tapi istimewa. Dia sangat senang dengan panggilan barunya. seperti dalam drama Korea saja batinnya.
"Kamu masak apa?" Tanya Robbie dengan suaranya yang terdengar agak manja.
Kenapa suaranya sekarang terdengar begitu manis?
"Em .. hanya ada ayam. Jadi kita makan soto aja ya. Kamu...."
"Aku tidak pilih-pilih makanan Chagi, asalkan tidak menimbulkan kerancuan, aku tidak ada masalah."Ucapanya dengan santai.
Bella bisa bernafas lega, sebelumnya dia takut bila Robbie tidak menyukai menu yang di buatnya. "Kemarilah, kita makan dulu. Nanti habis makan baru menemui Nenek." Ucap Bella.
"Ayo ..!" Robbie bersemangat dan segera mengambil sumpit. Sementara Bella dia masih belum bisa memakai sumpit untuk makanan yang berkuah begini. Baginya kenikmatan makanan berkuah adalah setiap suap dari kuah itu sendiri.
"Woah....! Ini enak sekali Chagi" Robbie memberikan pujian.
"Iyakah? Habiskan kalau begitu." Kata Bella. "Em... Bie... Kalau kita hanya berdua, jangan panggil Chagi bisa?"
"Kenapa?" Tanya Robbie yang menghentikan suapannya. "Kamu tidak suka aku memanggilmu dengan sebutan itu?" Tanyanya.
__ADS_1
Bella menunduk. " Tidak, bukan begitu.... hanya saja agak aneh bagiku." Ucapnya jujur. Memang agak aneh di telinganya. Bukan panggilannya yang aneh, tapi hubungan kalian yang tak ada kejelasan.
"Tapi bagiku itu biasa dan unik malah. Aku begini-begini juga masih memiliki darah keturunan dari Korea Chagi. Kakek buyutku adalah orang Korea. Kamu tidak melihat bentukan wajahku?"
"Ha-ha-ha, aku tidak bisa membedakan mana Korea, cina, atau Jepang. Bagiku sama saja." Bella meringis mengatakannya.
Dimata Bella, orang berkulit putih dan bermata sipit itu ya sama. Kembar semuanya, walaupun Robbie berbeda, dia memiliki mata yang bulat dan hidung yang lancip yang tak semua bangsa keturunan itu memilikinya. Kebanyakan dari mereka bermata sipit dan hidung minimalis. Tapi Robbie berbeda. Matanya bulat jika harus di golongkan dalam kategori sipit.
"Tidak mau ada penolakan, pokoknya kamu ku panggil Chagi." Final Robbie memutuskan.
Bella hanya tersenyum lalu menggeleng tak percaya. Salah satu karakter dari Robbie yang belum Bella pahami adalah sisi lain dari dirinya yang pemarah.
Mereka makan sambil berbincang-bincang membicarakan masa-masa saat SMA. Kini Bella tau bagaimana Robbie memendam perasaannya.
"Jadi dulu, sewaktu di atap sekolah itu kamu memelukku saat berpamitan itu hanya modus?" Celetuk Bella sambil mencuci mangkuknya dan Robbie membantu mengelap meja makan.
"Modus?" Robbie menjeda lalu menaikkan alisnya dan mendekati Bella. "Bukan lah, memang aku menyimpannya. Memangnya kalau saat itu aku mengatakannya apa kau...?"
"Menerimamu begitu?" Celetuk Bella menyambar ucapan Robbie. "Tidak, tentu tidak. Aku malah akan menjauhimu, berfikiran kalau kamu ini orang aneh dan mungkin juga agak..."
"Gila?" Sambung Robbie sambil tertawa. " Ya, aku gila. Bertahun-tahun mencintai gadis yang sama yang bahkan dia sendiri tak tau perasaanku bagaimana. Sampai-sampai aku memakai cincin ini sudah hampir 3 tahun lamanya hanya demi menjauhkan para gadis dariku." Ucap Robbie sambil mengusap cincin yang melingkar di jari manisnya.
Bella menunduk, ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Sesuatu yang sulit di jelaskan nalar dan membuatnya ragu. Ingin berucap tapi bibirnya kelu.
Bella hanya diam dan menunduk dia menerawang jauh, meraba sendiri perasaannya. Sebenarnya, apa rasaku untuknya?
Ga tau lah bell, entah rasa strawberry atau rasa mangga apel aku juga ga paham... Yang jelas perasaanmu itu akan semakin kacau kalau kamu tahu selama ini Robbie yang menjadi penyokong atas biaya kuliahmu yang kamu pikir semuanya adalah utuh dari pihak universitas.
Robbie mendekat, mengikis jarak hingga nafasnya menerpa kulit leher Bella. Tapi Bella tetap tak bergeming, dia seolah pasrah dan siap menyambut sentuhan hangat Robbie. Matanya memejam perlahan kala Robbie semakin mendekat dan merasakan hidung lancipnya menyentuh pipinya.
Bella menanti sesuatu yang kenyal menyapa bibirnya.
Apakah kali ini dia akan menciumku lagi? Batinnya bergemuruh menahan debaran jantung yang tak menentu.
__ADS_1