
“Hai!” sapa Nadia sambil melambaikan tangan saat sampai di depan pintu kamar Alika.
“Lo kapan sampai, Nad? Kok gue ngga denger bel pintu bunyi?”
“Gue nggak lewat pintu. Gue lompat dari atap.”
“Gaya lo kayak samurai ajah!”
“Emang ada samurai cewek?” Nadia yang mulai kesal dengan candaan sahabatnya itu langsung melemparkan bantal tepat ke arah mukanya.
“Lo mau minum apa? Biar dibawain sama Mbok Min,”
“Nggak perlu. Ini kan udah malem, kasihan Mbok Min. Biar dia istirahat. Ntar gue bisa ambil sendiri.”
“Ya udah terserah lo ajah.”
“Tadi siang kemana ajah sama cowok lo, Al?”
“Cuma nonton di Mall. Habis itu langsung pulang. Gue lagi males, Nad, jalan sama dia.”
__ADS_1
“Tiap hari lo juga males jalan sama dia, Al.” sindir Nadia yang dari tadi sibuk membolak-balik katalog sebuah produk kecantikan tanpa berniat membaca isinya.
“Iya juga sih, Nad.”
“Oh iya, soal cerita lo yang tadi siang itu gimana kelanjutannya?”
“Soal Lian sepupunya David itu?”
“He’em. . .”
“Jadi kemarin itu gue jemput nyokap gue di rumah temennya. Namanya Tante Ratna. Gue sempet ikutan ngobrol sama mereka. Terus Tante Ratna bilang kalau keluarga mereka itu sepupunya David. Jelas ajah gue syok. Terus yang bikin gue hampir gila, pas Tante Ratna manggil anaknya yang ternyata si Rese Lian itu. Jadi dari situ gue tau kalau ternyata Arlian Mahesa itu sepupuan sama David.”
Dunia benar-benar sempit. Dari sekian banyak orang di dunia ini, mereka hanya dihubungkan dengan orang itu-itu saja.
“Woi! Malah bengong! Katanya lo mau gue cerita. Giliran gue cerita lo sendiri malah nggak nanggepin!”
“Gue masih bingung ajah, Al. Kok bisa Lian itu sepupuan sama David?”
“Ya mana gue tau! Gue juga taunya baru kemaren.”
__ADS_1
“Jadi sekarang lo mau gimana?”
“Gimana apanya maksud lo?”
“Hubungan lo sama Lian. Lo masih tetep mau musuhan sama dia?”
“Kalau yang itu gue belum tau, Nad. Cowok itu bener-bener susah buat diajak temenan. Kemaren pas dirumahnya ajah gue juga berantem sama dia.”
“Parah lo! Masak cari musuh di rumahnya dia sendiri?”
“Dia yang mulai duluan.”
“Tapi kalau menurut gue, sebaiknya lo baikan sama Lian. Dia itu sebenarnya orangnya baik kok. Cuma emang agak kaku ajah sifatnya.”
“Kayaknya susah buat gue terima dia jadi temen. Bukan cuma karena sifatnya yang kaku, tapi dia juga masih ada hubungannya sama David. Itu bakalan bikin gue terus inget sama David, Nad.” wajah Alika kembali murung ketika topik pembicaraannya menyangkut tentang David.
Ya, meskipun kecelakaan itu sudah lama berlalu, tapi hati Alika masih tetap sakit ketika harus menyebut kembali nama seseorang yang kini tidur di pelukan bumi itu.
Tak ubahnya orang lain yang memiliki mimpi buruk, Alika juga berharap semoga mimpi tersebut segera berlalu. Karena hanya dengan begitu, Alika bisa kembali melanjutkan hidupnya.
__ADS_1
Akan lebih baik lagi kalau ada nama baru yang bisa mengisi hatinya. Sekalipun orang tersebut tetap tidak akan pernah bisa menggantikan seorang David.