
Alvin meraih tangan Alika dan menarik cewek itu ke dalam dekapannya. Alika yang syok tidak lagi bisa berpikir untuk berusaha melepaskan diri dari pelukan Alvin.
“Aku sayang kamu, Alika. Mungkin buat kamu omongan aku ini susah dimengerti, tapi inilah yang sebenarnya aku rasain ke kamu.”
Alika yang hampir tidak bisa menemukan kesadarannya begitu terkejut saat Alvin mendaratkan ciuman hangat di dahinya. Alika benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Apakah Alika harus memeluk Alvin semakin erat atau malah menampar cowok itu untuk kedua kalinya karena semua sikap cowok itu sudah melewati batas???
Seketika itu juga Alika tersadar kalau semua ini memang salah. Tanpa berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya, Alika melepaskan diri dari pelukan Alvin dan langsung berdiri di hadapan cowok itu. Sikap Alika dan tatapan dinginnya pada Alvin memberikan jawaban yang jelas tentang perasaan Alika pada dirinya. Sudah pasti Alika hanya menganggapnya saudara. Tidak lebih…
“Al… Aku…”
__ADS_1
Alika menunggu kelanjutan ucapan Alvin, tapi ketika yakin cowok itu tidak akan melanjutkan kata-katanya, Alika berkata pelan, “Aku menganggap kamu seperti adik, Vin. Dan akan tetap seperti itu. Tidak lebih.”
“Tapi, Al, kita ini kan bukan saudara sedarah. Jadi apa salahnya kalau aku pengen jadi orang yang selalu ada buat kamu,” Alvin diam sejenak, “Kamu nggak mau kasih aku kesempatan dulu, Al? Seenggaknya kita bisa coba dulu.”
Alika terdiam cukup lama mendengar kata-kata Alvin, “Tetap saja nggak bisa, Vin. Sorry aku nggak mau hubungan saudara ini rusak cuma gara-gara perasaan kamu yang belum pasti itu,”
“Belum pasti apanya, Al?!” bentak Alvin tersinggung mendengar alasan Alika menolak perasaannya, “Aku beneran sayang sama kamu.”
Alika merasa bersalah melihat kekecewaan di mata Alvin. Setelah semua yang Alvin lakukan untuk Alika, cowok itu malah harus menerima balasan yang tidak setimpal dengan pengorbannya. Tapi mau bagaimana lagi, Alika nggak mungkin pura-pura suka pada Alvin, apalagi sampai menerima cinta cowok itu.
__ADS_1
“Ok, Al. Aku nggak akan maksa kamu, tapi aku juga nggak mau kalau kamu nyuruh aku buat ngelupain perasaan aku ini,” Alvin mengucapkan semua itu dengan senyuman dan membuat Alika semakin merasa bersalah.
Melihat kenyataan bahwa Alvin masih bisa tersenyum setelah penolakan yang dilakukan Alika, membuat cewek itu berharap kalau hubungan persaudaraan mereka tidak akan merenggang.
“Ya udah, pulang yuk! Udah malem banget. Orang rumah juga pasti udah kebingungan nyariin kita,” Alvin kembali meraih tangan Alika seraya tersenyum canggung.
Alika mengangguk tanpa kata dan tetap membiarkan Alvin menggandeng tangannya. Bukannya ingin memberi cowok itu harapan, tapi Alika hanya berusaha mengurangi rasa bersalahnya karena sudah memberikan tamparan keras pada hati sepupunya itu.
Cinta memang tak pernah diduga kedatangannya. Alika belum genap seminggu bertemu dengan Alvin, tapi dia sudah mampu menaburkan benih-benih rasa di hati cowok yang selalu saja memberikan kejutan tak terduga pada dirinya.
__ADS_1
Sekarang Alika baru tersadar mungkin seperti inilah perasaan seseorang ketika menolak pernyataan cinta. Apakah sampai sekarang Lian juga masih merasa bersalah terhadap Alika???
Kalau memang benar, seharusnya Alika yang terlebih dulu meminta maaf, karena sangat menyiksa ketika dia mengecewakan orang yang selalu baik pada dirinya. Terlebih orang yang tersiksa itu adalah orang yang sangat Alika sayang.