Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 43


__ADS_3

Gerimis kecil menyapa pagi hari Ibukota. Cuaca yang sedikit mendung dengan udara yang cukup dingin, membuat siapapun malas untuk memulai aktivitas. Mentaripun nampaknya enggan untuk memancarkan sinar hangatnya.


Hari ini bagaikan hari yang panjang untuk dilewatkan. Langit pun semakin mendung dan titik-titik air yang semula hanya butiran kecil kini mulai berubah menjadi hujan yang lebih deras.


Alika terbangun dari tidurnya yang bisa dibilang hanya sebentar, karena sudah beberapa hari terakhir ini dia sama sekali tidak bisa menikmati waktu tidurnya. Setelah insiden penolakan cinta oleh Lian, cewek itu lebih suka bergadang sambil menonton koleksi-koleksi film miliknya.


Tidak sesuai keinginan, awalnya Alika berniat menonton film untuk mengusir rasa sedihnya, tapi yang ada air mata malah semakin deras membanjiri pipinya. Dan lagi-lagi, Alika harus berurusan dengan ke-tidak-beruntungan, karena pagi ini cewek yang terbiasa bangun siang itu, harus dipaksa membuka matanya saat mendengar suara keriuhan di luar kamarnya.


    “Sepertinya masih tengah malam?” gumamnya saat menyibakkan tirai jendela kamar, dan langit masih terlihat gelap.


Belum ada tanda-tanda semburat merah dari mentari yang biasa menyapanya.


    “Kenapa jam segini sudah ribut-ribut?” gumamnya bingung.


Alika langsung meraih jam beker di samping tempat tidurnya. “Ini masih jam 4.30 pagi, kurang kerjaan banget jam segini udah bikin ribut” 


Alika bermaksud melanjutkan mimpinya, saat seseorang di luar kamar mulai mengetuk pintu kamarnya.


    “Non Alika… bangun, Non! Dipanggil ibuk sama bapak,” suara Mbok Min terdengar samar dan serak. Mungkin karena masih terlalu pagi.

__ADS_1


    “Ada apa, Mbok? Alika masih pingin tidur!”


    “Ndak tau, Non. Kata ibuk Non Alika disuruh bangun sekarang. Kalau nggak, Non Alika mau ditinggal.”


Hah??? Ditinggal??? Memang pada mau kemana?


Dengan langkah gontai, Alika beranjak dari tempat tidurnya. Cewek itu mengutuk dalam hati, kenapa semua yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini hanya kesialan. Apa dia sudah melakukan sesuatu yang salah, atau mungkin dia perlu mengadakan semacam ritual.


Mulai dari pernyataan cintanya yang ditolak, sampai memergoki pacarnya yang dengan tega menyelingkuhinya. Entahlah, mungkin memang saat ini dia perlu membawa diri ke seorang psikiater guna mendiskusikan semua kesialannya ini.


Sesampainya di ruang keluarga, Alika kebingungan melihat koper-koper berjajar rapi di depan orang tuanya yang sedang berdiskusi satu sama lain. Ini ada apa lagi??


    “Eh… anak Mama sudah bangun? Ayo, sekarang kamu mandi, habis itu kemasi barang-barang kamu. Mama sudah siapkan koper di kamar kamu…”


Koper?? Yang mana? Sepertinya tidak ada koper. Aahh… Mungkin mata ini saja yang belum terbangun.


    “Emangnya Alika mau kemana? Terus kenapa Papa sama Mama juga udah nyiapin koper gitu? Kita mau pindahan??” tanya Alika yang masih tampak kebingungan.


    “Alika, Papa ada tugas dinas di Yogya dan Mamamu memutuskan kalau kita semua berangkat ke sana. Liburan sekalian menengok keluarga Mama yang ada di sana.” seperti biasa, Papa menjelaskan dengan singkat dan jelas.

__ADS_1


    “Kenapa nggak ngomongin dulu sama Alika? Kalau Alika punya rencana sendiri gimana?”


    “Sayang… Mama tahu kamu nggak punya acara apapun weekend ini. Soalnya tiap hari kerjaan kamu cuma ngurung diri terus di kamar.” Mama membelai lembut kepala anak semata wayangnya, “Dan juga Mama nggak suka kalau kamu terus-terusan mikir masalah yang cuma bikin kamu murung kayak gini.”


    “Tapi Alika lagi males kemana-mana, Ma…”


    “Ayolah, Sayang… kamu pasti suka liburan di sana. Tempatnya enak kok. Malahan kamu bisa betah tinggal di sana. Nanti kita nggak perlu check-in hotel, karena kita akan menginap di rumah nenek kamu. Dan tempat itulah yang Mama maksud akan membuat kamu betah.”


    “Iya Alika. Kamu bisa menikmati liburan ala pedesaan yang nggak bakal kamu temui di Jakarta ini.” kali ini Papa mencoba untuk ikut membujuk Alika.


Belum terlihat tanda-tanda Alika akan menyetujui rencana orang tuanya. Dia masih sangat enggan untuk beranjak keluar rumah. Mood dan pikirannya masih belum bisa stabil, dan alangkah baiknya kalau dia hanya mengurung diri seharian di dalam kamarnya, seperti yang biasa ia lakukan.


Tapi akan membosankan juga kalau dia hanya tinggal berdua dengan Mbok Min sementara Mama dan Papa nya pergi berlibur ke tempat yang tampaknya jauh lebih menyenangkan.


Setelah berpikir berulang-ulang, akhirnya Alika menganggukkan kepala dan bersedia menuruti orang tuanya.


    “OK. Tapi Alika nggak mau di sana lama-lama. Alika masih ada janji buat jalan sama Nadia. Akhir liburan juga mau ada pensi di sekolah Alika,”


    “Deal! Kita cuma di Yogya beberapa hari saja, sampai Papa selesai dengan Meeting nya.” Mama tampak bahagia. Namun hal itu malah membuat Alika curiga, apalagi yang akan direncanakan Mamanya di Yogya sana.

__ADS_1


__ADS_2