Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 28


__ADS_3

Lian melirik sejenak ke arah Alika. Ia melihat kepala cewek itu hampir berbenturan dengan kaca mobil, dan dengan sigap tangannya segera meraih kepala cewek itu sebelum sempat menyentuh kaca di sampingnya. Lian lalu merebahkan kepala Alika di dadanya.


Dia mengusap lembut kepala cewek itu sambil terus memperhatikan wajah Alika yang tertidur pulas. Alika benar-benar terlihat cantik saat matanya terpejam seperti sekarang ini. Dan tanpa sadar Lian semakin merapatkan cewek itu ke dalam pelukannya.


Ada perasaan aneh yang bergemuruh di hatinya saat menyadari betapa dekatnya dia sekarang dengan Alika. Muncul perasaan bahagia yang selama ini belum pernah ia rasakan. Detak jantungnya tiba-tiba mulai berdetak tidak beraturan. Seperti hendak mengucapkan sesuatu yang selama ini ia tahan di dalam hatinya.


    “Sudah sampai, Mas.” suara Pak Putu memecahkan lamunan Lian.


    “Oh... Iya, Pak. Tolong bangunin teman-teman saya ya,”


Pak Putu mengangguk.


Pelan-pelan Lian melepaskan kepala Alika dari sandarannya. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Alika sambil berusaha membangunkan cewek yang masih terlelap itu. Nampaknya Alika terlalu lelah untuk membuka mata. Dan membangunkan Alika sepertinya bukan hal yang tepat.

__ADS_1


Di samping dia pasti akan membuat banyak ulah, membangunkan Alika juga salah satu hal yang gampang-gampang susah. Karena cewek yang suka banget tidur tanpa mengenal waktu itu, kalau sudah terbuai mimpi akan susah bangunnya.


Kalaupun terbangun, Alika pasti akan seperti orang ngelindur. Melakukan sesuatu tanpa sadar, entah itu merugikan orang lain ataupun tidak.


    “Alika nggak mau bangun, Yan?” tanya Nadia sambil menguap karena dia juga baru saja bangun dari mimpinya.


    “Iya nih. Apa ditinggal di mobil ajah ya?”


    “Ya janganlah, Yan. Kasihan kalau dia sampai di apa-apain orang.” timpal Dony


Nadia tampak ragu dengan kata-kata Lian. Dia tidak tega kalau harus meninggalkan sahabatnya tidur sendirian di dalam mobil.


    “Ya udah lo di sini ajah jagain Alika. Biar gue sama Dony ajah yang jalan ke danau.”

__ADS_1


Dony mengangguk menyetujui ucapan pacarnya itu, “Bener tuh yang diomongin Nadia. Biar gue sama Nadia yang manfaatin moment ini buat quality time. Dan lo manfaatin kesempatan ini buat jagain Tuan Putri tidur. Kapan lagi lo bisa berduaan sama Alika tanpa ada perang mulut.”


Kali ini Nadia cengar-cengir. Ia yakin kalau Alika bangun nanti dan tahu Lian yang ada di sampingnya selama dia tidur, pasti sahabatnya itu akan menggila dan mengamuk-ngamuk pada Lian. Hal itu pasti lebih seru dari pada mereka hanya beradu mulut.


Akhirnya Lian hanya pasrah tanpa bisa memprotes kedua sahabatnya yang sepertinya kompak untuk menikmati masa pacaran mereka di Bali.


    “Ya udah. Tapi lo berdua jangan kelamaan pacarannya. Bisa gawat kalau nenek sihir ini bangun dan tau cuma gue yang ada di mobil sama dia.”


    “Nenek sihir apa Tuan Putri?” goda Nadia


    “Lo nggak mau pergi sebelum gue berubah pikiran?” ancam Lian


Nadia dan Dony terkekeh-kekeh melihat Lian yang mulai bête dengan tingkah mereka.

__ADS_1


Setelah Nadia dan Dony turun dari mobil, sekarang hanya tinggal Lian dan Alika berdua. Meskipun dalam posisi duduk, Alika tertidur pulas di samping Lian. Lian heran, bagaimana bisa ada cewek yang bisa tidur di mana saja. Apalagi untuk tipe cewek semanja Alika.


    “Lo manis juga kalau nggak banyak tingkah kayak gini. Gimana bisa gue lama-lama benci sama lo?” gumam Lian sambil menyeka ujung rambut yang menutupi wajah Alika.


__ADS_2