Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 33


__ADS_3

Rasanya baru satu jam yang lalu Alika terlelap dalam tidur, tapi suara ketukan pintu sudah membangunkannya. Dengan mata terpejam, Alika menyibakkan selimut dan menerjang Nadia -yang tidur di sampingnya- untuk membuka pintu kamarnya. Meskipun masih kesal karena ada yang menganggu tidurnya, mata Alika langsung berbinar melihat Lian berdiri di depan pintu kamarnya.


Cowok itu tampak lebih keren daripada biasanya. Balutan kaus hitam lengan panjang dan celana khaki membuatnya terlihat berbeda.  Jantung Alika mulai berloncat-loncatan tanpa sebab. Belakangan ini jantung Alika memang selalu deg-degan tak karuan setiap kali berada di dekat Lian. Sepertinya ada perasaan baru yang mulai mengisi kekosongan hati Alika.


    “Kok lo baru bangun, Al? Jadi liat sunrise kan?” tanya Lian lembut sembari menyibak rambut Alika yang menjuntai menutupi wajahnya.


Betapa terkejutnya Alika pagi-pagi sudah mendapat perlakuan sebegitu manis dari Lian. Untuk menutupi sikap salting, Alika melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kiri Lian.


    “Baru juga jam empat. Masih subuh ini, Yan. Mau kemana pagi-pagi banget gini?”


    “Kalo berangkatnya jam enam mataharinya keburu naik, Al. Kapan liat sunrise nya kalau gitu?”


    “Ya udah gue siap-siap dulu. Sepuluh menit lagi gue nyusul lo di lobi.”


    “OK. Gue tunggu.”

__ADS_1


Setelah meregangkan otot sebentar, Alika bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Lalu cewek itu berganti baju, menyambar jaket yang tergeletak di atas tempat tidur –entah itu miliknya sendiri atau milik Nadia, karena kebanyakan baju mereka sama.


Bukannya membeli satu gratis satu, tapi karena chemistry persahabatan yang kuat-, dan tak lupa membawa kamera yang sudah ia siapkan di atas meja. Di tempat tidur, Nadia masih tampak terlelap sehingga membuat Alika tidak tega untuk membangunkannya. Dia hanya menulis sebuah notes kecil yang kemudian ia tempelkan di atas koper sahabatnya itu.


Begitu merasa sudah siap, Alika segera keluar dan menyusul Lian yang sudah menunggunya di loby hotel. Berapa kalipun Alika menatap Lian, cowok itu tetap terlihat berbeda hari ini. Entah sejak kapan Alika mulai menyadari kalau Lian terasa lebih spesial dari seorang sahabat.


Walaupun sering membuatnya kesal, tapi sebenarnya Lian satu-satunya cowok yang selalu ada saat Alika butuhkan. Lian bisa hadir sebagai sahabat di hari-hari Alika sekaligus kakak yang selalu care dan penuh perhatian. Sikap Lian itu yang membuat benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Alika.


Dan semakin lama, rasa itu semakin membuat Alika bingung untuk menentukan sikapnya. Bagaimana bisa Alika hanya menganggap Lian sebagai seorang sahabat di saat kata hatinya mengatakan kalau dia sudah jatuh cinta pada cowok itu.


    “Nggak perlu. Kan kita pakai mobil perginya.”


Lian tersenyum mendengar jawaban Alika. Dan hal itu membuat Alika semakin salah tingkah.


    “Udah pakai ajah jaketnya. Dari pada lo masuk angin, malah bikin liburan lo jadi berantakan.”  Lian lalu meraih jaket yang dibawa Alika dan memakaikannya pada cewek itu.

__ADS_1


    “OK. Kita berangkat sekarang,” kata Alika bersemangat.


Sebenarnya hal itu hanya usahanya untuk mengabaikan debaran jantungnya yang semakin menggila saja.


Lian tidak menanggapi kata-kata Alika. Dia hanya menyuruh Alika untuk naik ke atas motor yang sudah dinaikinya terlebih dulu.


    “Hah? Kita naik motor? Nggak salah lo, Yan?”


    “Gue mau ngajakin lo buat ngerasain segernya udara Bali di pagi hari. Dan cuma dengan naik ini kita bisa ngerasainnya.”


Dengan sedikit ragu Alika menerima helm yang di angsurkan Lian dan segera membonceng di belakang Lian.


    “Kenapa? Belom pernah naik motor?” tanya Lian sambil menahan tawanya.


    “Nggak usah ngeledek gitu deh. Gini-gini gue juga bukan cewek manja yang maunya cuma naik mobil ajah.”

__ADS_1


    “Baguslah kalau gitu! Pegangan yang erat, gue mau ngajarin lo caranya jadi raja jalanan,”


__ADS_2