Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 55


__ADS_3

Sekeluarnya dari café, Alvin membawa Alika ke tempat yang lebih terbuka dan menyewa sebuah tikar untuk alas duduk mereka. Alvin serta merta menghempaskan badannya di atas tikar itu. Wajahnya terlihat sangat puas karena berhasil mengungkapkan permintaan maafnya di hadapan banyak orang.


Sesaat hanya kesunyian yang menyelimuti mereka. Tidak ada satupun yang berani memulai pembicaraan. Tidak bagi Alika yang sedang berusaha mengatur gejolak perasaannya, dan tidak juga Alvin yang masih merasa bingung harus memberikan penjelasan apa kepada Alika. Dua remaja itu hanya terdiam dan berkutat dengan pikirannya masing-masing.


    “Alika,” suara Alvin memecah keheningan. “Apa kamu pernah merhatiin benda-benda yang ada di atas itu?”


Alika mendongakkan kepalanya ke atas. Hal pertama yang dia lihat adalah bulan. Malam itu bulan bersinar begitu terang, bintang-bintang juga berhamburan. Tampak sangat indah dan mengagumkan. Kata kagum membuat Alika berpikir tentang Alvin yang ada di sebelahnya.


Cowok seumuran dia bagaimana bisa membuat kejutan seperti itu. Untuk meminta maaf di depan publik seperti itu perlu keberanian yang besar. Kalau dia tidak sungguh-sungguh, mana mungkin semua itu bisa dia lakukan. Apa mungkin Alvin…


Alika membuang jauh-jauh pikirannya yang sempat terlintas sesaat. Sungguh aneh Alika sempat berpikir kalau cowok yang tak lain adalah sepupunya itu menaruh rasa pada dirinya. 


    “Memangnya kenapa di atas sana?” sahut Alika seraya memandangi Alvin yang merebahkan diri di sampingnya.


Si perempuan memperhatikan si laki-laki selagi si laki-laki memperhatikan bintang-bintang. Diam-diam Alika tersenyum memikirkan hal itu. Alika baru tersadar kalau Alvin ternyata lebih tampan dari yang selama ini dia lihat.


Cowok itu tiba-tiba memalingkan wajahnya ke arah Alika. “Bukankah semua itu indah, Al?”

__ADS_1


    “Ya. Sangat. Aku belum pernah lihat yang seperti ini di Jakarta. Mungkin karena terlalu banyak polusi, jadi bintang nggak pernah terlihat sebanyak ini di sana.”


Alika dan Alvin berbaring menghadap angkasa. “Aku tahu tentang rasi bintang.”


    “Serius???” Tanya Alika tidak percaya


    “Asal kamu tau, Al, di sekolah kalau urusan antariksa aku jagonya. Tanya saja sama Mama kalau kamu nggak percaya,”


    “Sombong… Coba kamu jelasin ke senior kamu ini tentang rasi-rasi bintang itu,”


Alvin lantas mengenalkan Alika pada banyak rasi bintang. Dia juga menceritakan sejarah tentang nama-nama rasi bintang, seperti Hercules, Andromeda, Orion. Alika terkesima mendengarkan Alvin berbicara, cowok yang satu ini memang penuh kejutan. Sesekali Alika meliriknya.


Alika seperti sedang terbuai dengan sikap-sikap Alvin yang tidak pernah jelas maksudnya. Dia merasa nyaman saat bersama dengan Alvin seperti ia sudah sangat lama mengenal cowok itu, tapi disisi lain Alika juga merasa kalau Alvin itu hanya sepupunya dan tidak boleh lebih dari itu.


    “Kamu dengerin aku nggak, Al??” tegur Alvin, setelah entah untuk keberapa kalinya dia menangkap basah Alika sedang melamun dan tidak menggubris semua omongannya.


Alika tersentak, dia gelagapan menjawab pertanyaan Alvin, “Iya… Iya aku denger. Kamu ngomongin soal bintang-bintang itu kan?”

__ADS_1


    “Bintang yang mana?”


    “Yang barusan kamu omongin itu,”


    “Aku nggak ngomongin bintang. Aku nanya kamu mau pulang kapan. Ini udah hampir jam 12.” kilah Alvin 


    “Masa??? Tapi kok di sini masih rame?”


    “Tempat ini emang nggak pernah sepi, Al. Kamu kesini jam 3 pagi pun tetep masih banyak yang nongkrong di sini,”


Alika menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di tempat itu sebentar lagi.


    “Thank’s ya, Vin” ucap Alika tiba-tiba.


    “Untuk apa?”


    “Buat semua ini,” Alika melebarkan kedua tangan tangannya, berusaha menggambarkan kalau dia ingin memeluk seluruh angkasa.

__ADS_1


    “Aku pernah baca buku polaris. Katanya, bintang-bintang yang sedang kita tatap saat ini, mungkin saja sudah mati. Dan cahaya kelap-kelip ini hanyalah sisa dari cahaya bintang yang sudah mati itu. Cahayanya belum sirna. Aku menganggap bintang-bintang itu ingin membuat makhluk di bumi merasa senang saat melihat cahaya mereka. Aku bisa belajar dari bintang-bintang itu.”


Alvin tidak menyahut apapun. Cowok itu menatap Alika sangat dalam. Tatapan yang akan membuat Alika merasa tertusuk kalau saja Alika melihat mata itu. Alvin sangat ingin mengutarakan sesuatu yang sekarang ia rasakan. Sesuatu yang sudah terlalu lama ia simpan di dalam kegelapan hatinya. Jauh sekali di sana. Sesuatu yang dulu pernah dia rasakan tapi sudah dikuburnya dalam-dalam. Dan sekarang cewek yang berbaring di sampingnya ini membuat perasaan itu kembali tertarik ke luar.


__ADS_2