
Alika segera duduk di tempat yang ditunjuk Lian yang tak lain adalah dihadapannya yang berarti juga Alika bisa merasakan dekapan hangat Lian, itupun kalau cowok itu memang mau memeluknya.
Angin pantai yang dingin membelai lembut wajah cewek itu. Alika memejamkan matanya dan menikmati hembusan angin yang menyejukan. Meski perasaannya sedang kacau balau, tapi bisa dekat dengan Lian seperti ini saja sudah membuatnya senang.
“Lo tetep pejamin mata lo sampai gue ijinin buat buka.” Tiba-tiba Lian menutup mata Alika dengan kedua telapak tangannya.
“Lo mau apa, Yan! Awas ajah kalau lo berani ngerjain gue!” protes Alika sambil berusaha membuka telapak tangan Lian yang menutupi wajahnya.
“Sssttt!!!! Diem ajah dan percaya sama gue.” Bisik Lian dengan lembut tepat disamping telinga Alika. Lian tidak sadar kalau sikapnya itu membuat wajah Alika bersemu merah.
__ADS_1
“Satu... Dua...” Lian mulai menghitung, “Tiga! Lo boleh buka mata sekarang.”
Kelopak mata Alika perlahan terbuka. Dari ufuk timur tampak semburat merah yang perlahan naik ke atas. Alika langsung berseru tertahan melihat pemandangan yang mengagumkan tersebut. Ini pertama kalinya Alika melihat langsung sunrise di Pantai Sanur.
Meskipun terbilang cukup sering mengunjungi Pulau Dewata ini, tapi dia belum pernah sekalipun pergi ke Pantai Sanur untuk melihat bangunnya sang surya di pagi hari. Karena tidak mau kehilangan moment yang langka seperti ini, kamera yang sedari tadi tergantung di lehernya segera ia arahkan untuk mengabadikan fenomena luar biasa itu.
“Sumpah, Yan, keren banget. Nggak nyesel gue bangun pagi-pagi buta cuma buat pergi ke tempat ini,”
“Iya-iya. Gue lagi nggak mau ribut sama lo. Gue mau nikmatin moment indah ini sampai gue puas.”
__ADS_1
“Tapi buat gue, wajah lo yang bersemu merah gini kelihatan lebih indah, Al.” kata Lian sambil memeluk Alika dari belakang.
Dan benar saja, apa yang sedari tadi terbayang-bayang di benak Alika akhirnya menjadi kenyataan. Lian, si balok es –begitu julukan Alika untuk cowok yang jangankan tertawa, tersenyumpun jarang ia tampakkan- itu benar-benar memeluknya.
Oh My God! The dream is come true! Alika merasa wajahnya semakin terasa panas mendengar kata-kata Lian. Alika tidak tau apa yang akan dia lakukan dalam keadaan seperti ini. Dia tidak ingin melepaskan pelukan Lian. Bahkan dia berharap Lian akan memeluknya lebih lama lagi. Sekarang hembusan angin pantai tak lagi terasa dingin di badan Alika, karena pelukan Lian telah menggantikannya dengan berjuta kehangatan yang memenuhi hati Alika.
Kalau lo selalu ingin liat indahnya sunset karena lo punya banyak kenangan sama David, mulai sekarang gue mau bikin lo ngerasaain hangatnya cahaya sunrise, Al. Dengan begitu lo bisa ngelanjutin hidup lo yang terasa dingin tanpa David. Kata Lian dalam hati sambil mempererat pelukannya pada Alika.
“Lo inget baik-baik pesen gue ini, Al. Saat kita melihat indahnya cahaya sunset, kita jangan pernah lupa kalau esok cahaya itu akan berubah menjadi hangatnya sunrise. Lo ngertikan maksud gue?” bisik Lian lembut ditelingan Alika.
__ADS_1
Alika mengangguk. Dalam hati dia membenarkan kata-kata Lian. Alika bersyukur, dia selalu dikelilingi orang-orang yang baik dan selalu perhatian dengannya.