
Alvin hanya tersenyum simpul melihat tingkah Alika. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya, yang jelas Alvin mulai melihat Alika sebagai sosok cewek yang menarik dan membuat debaran jantungnya menjadi tidak beraturan.
Belum pernah Alvin merasakan hal semacam ini, bahkan dengan teman-teman cewek seumurannya. Yang mengherankan, justru hati Alvin mulai bergetar saat dia melihat Alika pertama kali di rumahnya.
Masih terlalu dini untuk menyimpulkan perasaan cowok itu sebagai rasa suka atau semacamnya. Mungkin saja Alvin hanya mengagumi Alika yang lebih dewasa dari dirinya.
“Kita ke Taman Sari dulu ya, Al.” Seru Alvin di antara suara bising kenalpot motor yang dikendarainya.
Alika tidak menyahut ajakan Alvin. Dia sedang asik menikmati kehidupan kota yang sangat berbeda dengan yang biasa dilihatnya di Jakarta. Di Yogya, semua penduduknya selalu tersenyum ramah, saling menolong satu sama lain, sangat tampak kalau sifat welas asih sudah menjadi pakem kuat bagi warga Yogya.
Pantas saja Mamanya juga tidak segan membantu siapapun yang membutuhkan pertolongannya. Hal itu membuat Alika semakin kagum dan bangga pada sosok orang yang sudah melahirkannya itu.
Kurang dari setengah jam, Alika sudah sampai di sebuah tempat wisata yang tadi disebut Alvin dengan nama Taman Sari. Alika tidak menyangka kalau Taman Sari itu sebuah taman air yang sangat megah. Tentunya bukan sebuah bangunan taman yang modern, tapi taman yang satu ini merupakan sebuah bangunan yang penuh dengan nilai historical sehingga pantas jika disebut sebagai bangunan yang sangat megah.
Gemericik air, keindahan arsitekturnya yang kuno, dan pemandangan yang menakjubkan membuat Taman Sari sangat mempesona. Lorong-lorong dan bangunannya menjadikan Taman Sari penuh rahasia yang akan terus dikuak.
__ADS_1
Tamansari merupakan sebuah komplek sistematis yang lebih banyak menonjolkan artistik pada bagian kolam dan air. Tamansari kemudian banyak disebut sebagai Istana Air (water castle) yang karena nilai arsitektur dan keunikan pada lekukan bangunan dan air yang terisi di kolam.
Salah satunya adalah Sumur Gemuling (Gumuling) dimana nilai artistik pada bagunan tersebut lebih banyak menunjukan sisi kesejukan air. Dulu, antara Istana Air Tamansari dan Sumur Gemuling merupakan taman-taman yang indah dan sejuk, namun sekarang hanya tersisa taman kecil yang berada di paling belakang Istana Air Tamansari.
Walaupun tak seindah dan sesejuk ketika jaman dulu Istana ini dibuat, namun keunikan dan artistik dari bentuk bangunan Tamansari bisa menyenangkan untuk dinikmati.
Cuaca yang panas tidak menjadi persoalan, apalagi ketika melihat kolam-kolam air yang menyegarkan dan menyejukan seolah memanggil untuk segera berendam. Namun karena memang Istana Air Tamansari ini merupakan bangunan cagar budaya, tidak lagi diperbolehkan untuk berendam.
“Kamu suka, Al?” tanya Alvin di sela-sela perjalanannya mengelilingi bangunan Taman Sari.
“Suka banget, Vin. Tempatnya adem, penduduknya juga ramah-ramah,”
Tangan Alika bagaikan terkena sengatan listrik. Sekujur tubuhnya mematung seketika. Dia tidak tau apa yang harus diucapkannya. Apakah dia harus melepaskan genggaman tangan Alvin atau justru membiarkannya saja.
Yang jelas, saat itu Alika merasa tangan Alvin begitu dingin. Sangat kontras dengan cuaca siang yang terik. Jangan-jangan Alvin sedang sakit! Cowok yang saat ini hanya mampu menundukkan kepalanya itu tampak memerah wajahnya.
__ADS_1
Bukannya sakit, ternyata cowok itu sedang tersipu malu. Benar-benar masih ABG. Hal itu membuat Alika ingin tertawa, tapi urung ia lakukan karena hatinya juga sedang panas dingin setelah tangannya di genggam erat oleh Alvin.
“Biasa ajah. Emang apa spesialnya kalau gandengan tangan?”
Kekecewaan tampak jelas diraut wajah Alvin. Cowok ini memang tidak bisa menyembunyikan isi hatinya. Mudah ditebak.
“Ya udah kalau gitu,”
Alvin hendak melepaskan genggamannya tapi Alika malah menahannya semakin erat. Entah apa maksud dari sikap Alika itu. Dia sepeti tidak rela kalau cowok yang dua tahun lebih muda darinya itu melepaskan tangannya.
“Gini ajah nggak papa. Kepala ku juga sedikit pusing, gawat kan kalau aku malah pingsan di sini.”
“Kamu capek? Mau istirahat dulu?”
“Nggak perlu kok. Pelan-pelan saja jalannya biar nggak capek.”
__ADS_1
Alvin manggut-manggut mendengar jawaban Alika. Dalam hati dia meloncat kegirangan, itu berarti dia bisa lebih lama bergandengan dengan Alika. Dan perjalanan mengitari bangunan Taman Sari pun akan menjadi tour yang sangat menyenangkan meskipun Alvin sudah puluhan kali menyambangi tempat itu.
“Kamu udah punya pacar, Al?”