
Tapi dari sekian banyak benda di ruang tamu mewah tersebut, ada sebuah bingkai foto keluarga yang luput dari pandangan Alika. Dia tidak menyadari keberadaan foto yang menempel tepat di atas sebuah almari jati yang berisi koleksi gelas-gelas kristal yang indah.
“Mari, Neng, ke sebelah sini.” Ajak si penjaga rumah yang langsung membuyarkan kekaguman Alika pada ruangan tempatnya berdiri.
Alika mengangguk dan segera mengikuti si penjaga rumah menuju sebuah ruang keluarga yang terletak di sisi sebelah kanan ruang tamu rumah itu.
“Hai, Sayang!” seru Mama Alika yang segera menyadari kedatangan putrinya.
“Selamat sore, Tante!” Alika memberi salam pada seorang wanita muda yang tampak seumuran dengan mamanya.
“Sore, Alika. Silahkan duduk! Tante senang kamu mau datang ke rumah tante,” sapa wanita itu dengan ramah.
Alika tersenyum simpul, “Mama kesini naik apa? Kok Alika yang diminta jemput,”
“Tadi mama sama papa lagi makan siang di luar terus ketemu sama Tante Ratna. Oh iya, kamu belum kenal ya sama Tante Ratna. Tante Ratna ini ternyata tantenya David, pacar kamu dulu.”
Alika seperti kembali mendapatkan tamparan keras di hatinya. Nama yang selama ini selalu membuatnya menderita justru harus kembali dia dengar dari mulut mamanya sendiri. Tidak sepatah katapun keluar dari mulut Alika.
Yang cewek itu tau, dia hanya ingin sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak mengalir dikedua pipinya. Apa jadinya kalau dia menangis bahkan meraung-raung di depan Tente Ratna dan mamanya. Bisa-bisa Alika malah terlihat konyol dan menyedihkan.
“Tadinya mama kamu lupa sama Tante. Padahal kita pernah ketemu dipemakamannya David. Tapi sepertinya mama kamu terlalu banyak relasi jadi dia tidak bisa mengingat orang seperti Tante."
“Mbak Ratna ini bisa saja. Saya memang orangnya pelupa. Susah kalau harus mengingat sesuatu yang tidak menjadi rutinitas saya.”
__ADS_1
Alika tidak lagi menghiraukan percakapan mamanya dengan Tante Ratna. Bagaimana mungkin mereka membicarakan orang yang sudah tiada dengan begitu nyamannya apalagi ada orang yang begitu kehilangan orang tersebut di depan mata mereka.
Apakah mamanya sendiri sudah lupa dengan kesedihan yang selama ini di alami Alika atas meninggalnya David. Atau mamanya benar-benar tidak tau kalau Alika masih belum bisa melupakan sosok itu.
“Kamu kenapa sayang? Kok dari tadi diem ajah?” tanya Mama Alika sambil menyenggol tangan putrinya yang putih pucat.
“Kamu pasti bosen ya dengerin obrolan Ibu-Ibu yang membosankan ini?”
“Nggak kok, Tante.” jawab Alika sambil tersenyum. Tentu saja senyum itu hanya untuk menutupi hatinya yang sedang kacau.
“Tante panggilkan anak tante ya? Dia juga seumuran sama kamu kok. Siapa tau dia bisa nemenin kamu ngobrol atau jalan-jalan keliling rumah.”
Tante Ratna lalu berjalan ke arah tangga dan berteriak memanggil anaknya, “Ian. . . turun sebentar. Sini mama kenalin sama anaknya temen mama.”
Tak lama kemudia seorang cowok bertubuh tinggi tegap keluar dari kamar lantai dua dan menuruni tangga yang berada di sisi kiri ruang keluarga. Cowok yang hanya mengenakan celana pendek selutut tanpa memakai atasan apapun itu berjalan menghampiri Alika dan orang-orang yang sedang bercengkerama di sofa depan televisi.
Alika seketika berbalik mendengar suara yang tak asing ditelinganya tersebut. Suara soprano yang khas dimiliki cowok yang mulai beranjak dewasa tapi juga belum meninggalkan masa ABGnya. Suara yang sama persis dengan suara cowok yang ia dengar tadi pagi di sekolah. Suara si cowok angkuh yang tidak mau minta maaf apalagi mengakui kesalahannya. Suara itu, Lian.
Dan betapa terkejutnya si cowok saat bertatapan muka dengan seorang cewek yang kenyataannya sangat ingin dia hindari. Cewek yang jauh di lubuk hatinya sangat dia benci dan selalu dia salahkan atas kematian sepupunya satu tahun yang lalu.
“Ngapain lo di sini?!” tanya cowok itu dengan ketus.
“Nggak nyangka gue bakal ketemu lo lagi di sini.” Balas Alika tak kalah juteknya.
__ADS_1
“Jadi kalian sudah saling kenal?” tanya Tante Ratna heran.
Tanpa diberi aba-aba Lian dan Alika spontan menjawab bersamaan. “Nggak! Dan nggak bakal mau kenal!”
Tante Ratna dan Mama Alika bingung melihat tingkah anak-anak mereka. Baru sekali bertemu tapi sudah seperti musuh yang bertahun-tahun memendam dendam.
Sementara itu, tanpa menunggu waktu yang lama, Alika segera tahu kalau cowok yang berdiri di depannya itu tidak mengharapkan kehadirannya atau malah cowok itu memang membencinya.
“Kalian ini kenapa? Baru bertemu tapi sudah ribut-ribut begini. Ayo kenalan dulu,” Tante Ratna menarik tangan putra semata wayangnya agar mau berjabatan tangan dengan Alika.
Lian dan Alika sama-sama membuang muka. Lian sepertinya enggan menjabat tangan seseorang yang tidak disukainya. Apalagi Alika, cewek itu paling anti bersalaman dengan orang yang jelas-jelas tidak pernah mau mengenalnya.
“Ya sudah kalau kalian memang tidak mau saling kenal. Kalau begitu saya permisi pulang saja Mbak Ratna. Daripada anak kita berantem di rumah ini.” Mama Alika yang sadar dengan suasana hati putrinya segera berpamitan pada si pemilik rumah.
“Kok buru-buru, Mbak? Baru juga sebentar ngobrolnya.”
“Lain waktu kita sambung lagi, Mbak. Sepertinya anak-anak sedang tidak baik moodnya,” seloroh Mama Alika sambil sesekali melirik anaknya yang masih saja menekuk bibirnya. “Ayo Alika kita pulang sekarang.”
“Tante, Alika pulang dulu.”
“Hati-hati di jalan, Sayang.”
“Lian, kapan-kapan temenin mama kamu main ke rumah tante ya!”
__ADS_1
Lian hanya membalas dengan anggukan malas seperti yang biasa ia tampakkan tanpa berniat untuk mengiyakan tawaran Mama Alika. Jangankan untuk pergi ke rumahnya, di sekolah saja sebisa mungkin Lian menghindari cewek itu agar tidak pernah bertemu ataupun menyapanya.
Tante Ratna diam-diam mengamati perubahan sikap Lian yang mendadak menjadi galak saat bertemu dengan Alika. Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam hatinya. Entah apa yang sudah terjadi di antara Alika dan putranya, tapi dari tampangnya saja sudah ketahuan kalau Lian memang kurang menyukai anak temannya itu.