
Alika hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Nadia yang panjang lebar. Dia kembali mengamati cowok itu dengan lebih saksama. Dia terlihat sangat tinggi, jadi wajar saja kalau dia terpilih sebagai kapten tim basket. Tapi sayang cowok se-perfect dia punya tabiat buruk yang menjadikan nilai minusnya.
“Astaga! Gue ngomong ngalor ngidul lo malah bengong!” Nadia mengagetkan Alika yang sedang termenung memperhatikan Lian.
“Kok kayaknya gue pernah ketemu dia ya?”
“Masa? Ketemu di mana lo?”
“Gue nggak yakin juga sih. Tapi buat gue muka tuh cowok bener-bener nggak asing. Gue heran, kalau gue liat dia kok gue jadi keinget sama David ya?”
“Udah deh nggak usah mulai lagi. Gue udah cukup bersyukur melihat lo yang mulai bisa menikmati hidup. Jadi nggak usah flash back lagi.”
Alika tidak menyahuti komentar Nadia. Dia masih mencoba menerka apa yang sedang hatinya pikirkan. Kenapa ada sesuatu yang janggal dari cowok itu.
🍃🍃🍃🍃
“Alika pulang!” teriak Alika begitu sampai di ruang tamu rumahnya yang tampak sepi. Sepertinya semua penghuni rumah sedang keluar. Bukannya merasa kesepian, Alika justru merasa lega. Karena saat suasana hatinya sedang memburuk dia lebih suka menyendiri di tempat yang tenang tanpa ada gangguan dari siapapun. Bahkan lalat pun akan menjadi musuhnya kalau membuat suara berisik di sekeliling Alika.
__ADS_1
Alika bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Setelah sampai di kamar, cewek itu melempar tasnya ke atas meja dan berbaring di tempat tidur yang seketika tercium bau softener kesukaannya. Membuat perasaannya sedikit membaik.
Perlahan-lahan rasa kantuk segera datang menghampiri Alika. Sambil memejamkan mata, Alika mencoba mengingat-ngingat kembali raut wajah cowok yang tadi pagi melempar bola ke arahnya. Cowok itu memang kurang ajar, tapi entah kenapa baru pertemuan pertama saja cowok itu sudah memandang Alika dengan tatapan tidak suka. Bahkan mungkin benci. Padahal mereka sama sekali belum pernah kenal.
Alika menghela napas sambil membuka matanya. Sekeras apapun dia berpikir, jawaban yang dia harapkan tidak juga muncul dalam benaknya. Hal itu justru membuatnya semakin frustasi.
TOK !! TOK !!!
Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar Alika. Ternyata dia tidak di rumah sendirian. Hancur sudah rencananya untuk bermeditasi di rumah.
Dengan malas-malasan Alika menyeret kakinya menuju pintu. Saat pintu terbuka ada seorang wanita gemuk paruh baya yang sedang berdiri di depan kamarnya sambil membawa nampan berisi segelas susu coklat dan roti dengan selai kesukaannya.
“Pas pulang dari warung Mbok Min liat garasi rumah udah ditutup. Itu berarti mobilnya Non Alika udah di dalam.”
“Terus ngapain Mbok Min bawa susu coklat sama roti ke sini?”
“Ayam goreng kesukaan Non Alika masih ada di atas meja, jadi Simbok yakin kalau Non Alika pasti langsung masuk kamar. Biasanya kan setiap pulang sekolah Non Alika mampir dulu ke meja makan,” Mbok Min berhenti sejenak memperhatikan wajah anak majikannya yang terlihat murung dan pucat.
__ADS_1
“Kenapa, Non? Non Alika ada masalah di sekolah?”
Alika tertegun mendengar pertanyaan pembantunya yang welas asih dan penuh perhatian. Mbok Min sudah hampir 20 tahun ikut bekerja dengan orang tuanya. Wanita yang selalu memperlihatkan sosok keibuannya itu yang selama ini sudah mengasuh Alika.
Alika memang anak tunggal di keluarga tersebut. Dia tidak memiliki seorang adik ataupun kakak. Namun dengan adanya Mbok Min yang selalu sabar mengasuhnya, Alika tidak pernah merasa kesepian. Hal tersebut yang akhirnya membuat Alika menjadi manja dan kekanak-kanakan.
Sejak kecil Alika sudah terbiasa mendapat perlakuan istimewa dari kedua orang tuanya. Segala sesuatu yang dia inginkan selalu dia dapatkan dengan mudah. Bahkan Mbok Min juga memperlakukan Alika seperti anaknya sendiri.
Karena itu Mbok Min termasuk salah satu orang yang paling mengerti dan memahami sifat nona mudanya itu. Mbok Min seperti sudah mendapatkan ikatan batin tersendiri dengan Alika. Setiap gadis itu dirundung masalah Mbok Min selalu tanggap dan paham dengan suasana hati Alika.
“Bukan masalah Mbok, cuma ada anak yang lagi ganggu pikiran Alika,” jawab sang majikan sambil mengambil nampan dari tangan Mbok Min.
Mbok Min mengangguk. Dia tidak menanyakan detailnya lebih lanjut, karena sedekat apapun dengan keluarga majikannya Mbok Min tidak ingin mencampuri setiap masalah pribadi anggota keluarga tersebut.
“Ya sudah, Non Alika istirahat saja. Simbok mau ke dapur dulu. Masak buat makan malam. Non Alika mau dimasakin apa?”
“Nggak usah Mbok. Alika lagi males makan.” Suara Alika terdengar lesu dan parau.
__ADS_1
“Tapi yang itu harus dihabisin,” tegas Mbok Min sambil menunjuk isi nampan yang dibawa Alika.
“Iya Mbok, makasih.”