
Tak butuh waktu lama, rombongan Alika sudah berdiri di depan sebuah penginapan di kawasan Ubud. Alika memang memilih Ubud sebagai tempat penginapan mereka. Selain tidak jauh dari bandara yang hanya membutuhkan waktu satu jam perjalanan, Ubud juga menawarkan pemandangan alam yang sangat khas.
Ubud merupakan kawasan daerah seni yang juga sering disebut sebagai desa yang memiliki taraf internasional. Lokasinya yang terletak di antara kawasan persawahan dan kawasan hutan diapit oleh jurang-jurang dan sungai, yang membuat lokasi kawasan ini menggambarkan panorama alam yang begitu indah.
Selain itu, kehidupan dari sebagian masyarakat Ubud sehari-hari tidak lepas dari unsur seni dan budaya. Bahkan sebagian masyarakatnya ada juga yang bermata pencaharian sebagai seniman.
Setelah menurunkan koper-koper dari bagasi taxi, Alika beserta teman-temannya langsung bergegas menuju sebuah penginapan atau lebih tepatnya disebut cottage dengan gaya bangunan khas Bali itu.
Mereka tak perlu berlama-lama mengurus administrasi karena memang sebelumnya Alika sudah membuat reservasi terlebih dahulu. Jadi mereka tinggal mengkonfirmasikan di bagian recepsionist dan chek-in untuk satu minggu ke depan.
Yah, karena mereka sedang libur akhir semester jadi mereka memutuskan untuk menghabiskan seminggu liburan sekolah di Bali. Dan sisanya akan mereka gunakan untuk menikmati hiruk pikuk kota Jakarta.
“Lo satu kamar sama gue kan, Nad?” tanya Alika saat mereka menemukan nomor kamar yang mereka pesan.
__ADS_1
“Iyalah. Lo kira gue mau sekamar sama cowok gue. Udah nggak punya moral apa,”
“Ya kan gue cuma tanya, Neng. Nggak perlu nge-gas juga dong!”
“Atau lo mau sekamar sama gue, Al?” goda Lian yang senang melihat Alika kembali ceria seperti biasanya.
“Kalau lo udah pengen menghadap Raja Neraka, ayo ajah!”
“Gue jatuh cinta sama cewek kayak dia? Pasti udah kebalik otak sama dengkul gue!”
“No problem kalau lo nggak mau jatuh cinta sama gue. Tapi gue pastiin lo bakal sayang sama gue setelah kita pulang dari Bali.” Alika menjulurkan lidahnya untuk mencemooh Lian.
“Kalau gue sampai sayang sama lo, gue bakalan dengan senang hati daftarin diri buat jadi pasien rumah sakit jiwa.”
__ADS_1
“Segitu yakinnya lo nggak bakal naksir gue?”
“Jelas. Naksir sama cewek manja kayak lo? Udah pasti gila gue,"
“Dan lagi kalau kalian berdua nggak berhenti ribut, gue sumpahin lo berdua married sebelum lulus sekolah!” sahut Dony dengan segera.
“Eits, kalau itu sampai kejadian, gue bisa bikin lo nggak jadi married sama Nadia. Hayoo... Lo mau seumur hidup lo meratapi nasib gara-gara gagal married sama cewek yang lo puja-puja itu?” ancam Lian. Tentu saja cuma untuk menggoda Dony.
“Woi... Stop!!! Tuh kan, Don. Gara-gara lo mereka jadi berantem beneran! Udah gue mau masuk duluan. Gue capek, gue mau istirahat.” Nadia langsung masuk ke kamar sebelum mendengar keributan Alika dan Lian lebih lama lagi.
“Eh, gue ikutan dong! Gue eneg liat muka ini cowok lama-lama,” kata Alika sambil menyusul Nadia masuk ke kamar.
Sepeninggal dua cewek itu, diam-diam Lian memikirkan ucapan Alika. Masa iya dirinya bakal jatuh cinta sama mantan pacar sepupunya itu?
__ADS_1