Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 13


__ADS_3

Pelajaran olahraga hari ini sungguh keterlaluan. Pak Sugi yang terkenal paling ketat dalam urusan olahraga, memerintahkan semua anak didiknya untuk berlari keliling lapangan sampai tujuh kali putaran. Anak yang nggak pernah lihai berolahraga seperti Alika pasti langsung ngos-ngosan.


Bahkan ada sekitar lima belas anak yang jatuh pingsan. Tentu saja tidak semuanya pingsan sungguhan. Beberapa dari mereka hanya berpura-pura agar bisa lolos dari siksaan yang dihadiahkan oleh Pak Sugi.


Gila, guru mana yang memberikan hadiah kepada muridnya dengan sebuah siksaan. Semua itu pasti hanya akal-akalan Pak Sugi, dengan mengatakan kalau hal tersebut hanyalah pemanasan sebelum bermain basket.


Padahal tanpa berlaripun basket sudah cukup menguras tenaga, apa jadinya kalau masih harus disuruh lari-larian seperti kuda di pacuan. Sepertinya Pak Sugi memang sengaja memaksa murid-muridnya untuk memeras keringat.


    “Capek gue, Al. Gue mau pingsan ajah,” Nadia yang mulai kewalahan mengatur napasnya langsung menarik bahu Alika –yang saat itu sedang berlari di dekatnya– untuk  mendapatkan pegangan agar dia tidak benar-benar roboh.


    “Lo kira gue nggak capek? Pak Sugi tega banget nyiksa muridnya kayak gini. Dia pikir kita ini mau ikutan lomba marathon apa?”


    “Tau tuh Pak Sugi. Pokoknya gue mau ngadu sama kepsek tentang semua ini. Gue nggak terima disuruh latihan ala wamil gini.”


    Prriittt. . . Prriittt. . .


Terdengar jeritan peluit yang berbunyi sangat nyaring.


    “ Woi, yang di sana jangan arisan dulu. Jam olahraga belum selesai,” Tiba-tiba suara seseorang menggema memenuhi seluruh lapangan basket. Alika dan Nadia langsung gelagapan. 


Namanya Pak Sugi, seorang guru olahraga di SMA Trisaka Bangsa. Laki-laki itu bertubuh pendek dengan perut membuncit. Kepala botak dan kumisnya yang nggak tanggung-tanggung lebatnya.

__ADS_1


Untuk seorang guru olahraga, postur tubuh seperti itu terlihat jauh dari kesan orang yang hobi jogging maupun treadmil. Malah lebih mirip dengan orang yang kerjaannya hanya makan tidur seharian. Sungguh tidak keren.


    “Gila tuh orang! Kita ngos-ngosan gini dibilang lagi arisan. Tunggu ajah pembalasan gue, Pak!” gerutu Nadia sambil kembali melanjutkan larinya. Dalam otaknya, dia berniat untuk mengempiskan roda mobil milik gurunya yang tak kenal ampun itu.


    “Emang lo mau ngapain?”


    “Gue mau kerjain mobilnya,”


    “Berani?”


    “Kagak. Nyuruh cowok gue lah. . .”


    “Dasar lo! Jadi cewek tuh. . .” Alika tidak melanjutkan kata-katanya saat dirasa HPnya sedang bergetar.


+628564xxxx545 ✔


Plg sklh lo temui gw. Gw mau ngomong sm lo.


Alika membaca pesan itu sambil mengernyitkan dahi.


    “Dari siapa, Al?”

__ADS_1


    “Nggak tau. Nggak ada namanya,”


    “Coba sini gue liat!”


Alika mengangsurkan HPnya kepada Nadia. Lalu sahabatnya itu mengeluarkan smartphone miliknya dari dalam kantong celana.


    “Kayaknya gue familiar sama nomor ini,” gumam Nadia sambil memencet-mencet tombol pada smartphone keluaran terbaru itu. “Benerkan! Ini nomornya Lian.” seru Nadia setelah berhasil menemukan nomor yang dicarinya.


    “Yang bener lho?”


    “Cek ajah kalo nggak percaya!”


Kini giliran jari tangan Alika yang memainkan keypad pada salah satu gadget itu. Dan betapa kagetnya dia saat menemukan nama si pemilik pesan tanpa nama yang bukan lain adalah Lian. Musuh bebuyutannya selama ini.


    “Kok dia bisa punya nomor handphone gue?” mata Alika menyipit ke arah Nadia, ada rasa curiga yang dia rasakan pada sahabatnya itu, “Cowok lo yang ngasih kan?”


    “Jangan asal nuduh lo! Siapa tau Lian sendiri yang minta ke Dony.”


    “Buat apa dia nyari tau nomor HP gue?”


    “Ya buat itulah!”

__ADS_1


Alika sekali lagi membaca pesan dari Lian. Kenapa tiba-tiba cowok itu meminta Alika untuk menemuinya sepulang sekolah. Kalau memang ada hal yang ingin dibicarakan, kenapa tidak langsung lewat whatsapp saja. Atau bisa juga dia menelpon Alika langsung tanpa harus memintanya untuk bertemu.


__ADS_2