
Jujur saja pagi ini Alika masih enggan untuk datang ke sekolah barunya. Dia masih ingin berdiam diri di rumah selama beberapa hari lagi. Bahkan si jam beker malang kembali dimatikan saat benda itu berteriak-teriak nyaring untuk membangunkan Alika.
Dan seperti naluri seorang Mama pada umumnya, melihat si anak masih terlelap di tempat tidur langsung membuatnya mengomel tanpa henti. Memang seorang Mama lebih cocok menggantikan tugas jam beker untuk Alika, buktinya cewek yang hobi banget bangun siang itu mau juga beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi.
Satu jam kemudian, Alika sudah berdiri di depan pintu gerbang SMA Trisaka Bangsa yang tentu saja sudah tertutup rapat bagi siswa yang datang terlambat seperti dirinya. Tapi bukan Alika namanya kalau sampai kehabisan akal. Cewek itu berbalik arah menuju pagar samping bangunan itu yang notabene tingginya lebih rendah dari pada pagar depan.
Entah ini memang struktur bangunannya yang unik atau guru-guru di sekolah ini yang otaknya masih perlu diperbaiki. Kalau ada sekolah yang tinggi pagar sampingnya lebih rendah dari pada pagar depan, otomatis semua siswa yang datang terlambat akan memilih tempat ini sebagai jalur alternatif mereka. Salah satunya adalah cewek ini.
Setelah mengambil jarak sebagai ancang-ancang, Alika segera berlari dan memijakkan kaki kanannya pada salah satu sisi pagar untuk tumpuan dan segera menyelesaikan aksi panjatnya dengan cekatan.
Tak perlu waktu yang lama, sekarang cewek itu sudah berdiri dengan tegak di dalam area sekolah. Tapi tunggu dulu, kok nyasarnya bisa ke lapangan basket ya? Bisa gawat kalau sampai ketahuan salah satu guru yang sedang mengajar olahraga.
__ADS_1
Untung saja lapangan tersebut sedang sepi dari kegiatan olahraga atau semacamnya. Sepertinya lapangan itu hanya khusus digunakan untuk pertandingan antar sekolah.
Alika kemudian melenggangkan kakinya menuju kantor administrasi untuk menanyakan di mana ruang kelasnya. Maklum saja, ini kali pertama cewek itu menginjakan kaki di SMA Trisaka Bangsa, karena semua urusan kepindahan beserta administrasinya di urus oleh Mama dan Papanya.
“Aaaww!!!" Alika memekik kesakitan saat tangannya menangkap bola yang baru saja sukses mencium kepalanya.
Rupanya ada orang lain di tempat itu selain Alika. Tapi dimana orangnya? Kok nggak kelihatan. Oh, itu dia. Di tenggah-tengah lapangan basket ternyata ada seorang cowok yang postur tubuhnya terlihat tegap menjulang. Seperti atlet yang sering wara-wiri di layar kaca. Rambutnya dipotong cepak bergaya undercut. Kulitnya putih bersih dan berperawakan tinggi.
“Eh, lo yang di situ! Cepet balikin bolanya ke sini!” teriak si cowok ganteng.
Teriakan itu cukup lantang hingga mampu menampar Alika dari khayalannya dan kembali ke alam nyata.
__ADS_1
HAH?! Cowok sakit jiwa. Dia sendiri yang sembarang melempar bola ke kepala orang, bukannya minta maaf sekarang malah nyuruh-nyuruh balikin bola.
“Kalau minta sesuatu nggak bisa pakai kata tolong ya?”
“Udah nggak usah sok drama. Tinggal balikin aja susah.” cemooh cowok itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Kayaknya nggak semua murid yang masuk ke sekolah elite ini punya sopan santun ya? Buktinya masih ada saja cowok sejenis lo yang nggak tau kata maaf.”
“Heh! Nggak usah sok ceramah! Gue paling males ngomong sama cewek rese kayak lo.” bentak cowok itu sambil berjalan ke arah Alika.
Astaga! Nggak salah denger? Dia ngatain gue cewek rese? Cowok itu pasti nggak pernah ngaca dulu sebelum menghina orang.
__ADS_1