Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 1


__ADS_3

 


Satu tahun berlalu sejak kejadian menyakitkan malam itu. Sejak kehidupan baru Alika tanpa seorang David di sampingnya. Alika mulai menata kembali hari-harinya dan belajar melupakan mimpi buruk tersebut. Meski bukan berarti dia akan melupakan semua kenangan bersama cowok yang selalu menatapnya dengan penuh cinta itu.


Kenangan bersama David terlalu berharga untuk ia kubur di bagian terdalam hatinya. Kenangan itu terlalu indah untuk ia lupakan begitu saja. Maka akan lebih baik kalau semua kenangan itu tetap bersemayam di dalam benaknya, begitu juga dengan cintanya untuk cowok tersebut yang akan selalu tersimpan rapat di lubuk hatinya.


Alika percaya meskipun kini raga David tidak lagi bisa menjaganya, tapi jiwa cowok itu akan selalu hadir untuk menemaninya. Seperti di saat pesta ulang tahunnya malam ini.


Alika bisa merasakan kalau cowok yang kini tidur dalam pelukan bumi itu datang untuk ikut merayakan pertambahan usianya. Karena sepintas cewek yang saat ini berusia 18 tahun itu melihat sosok –lebih tepatnya lagi bayangan, atau halusinasi, atau apapun namanya– itu berdiri di antara kerumunan para tamu sambil tersenyum bahagia.


“Saengil Chukahae, Al...!”


Tiba-tiba saja suara nyaring seseorang menyadarkan Alika dari lamunan. “Hei,” balasnya pelan sambil celingukan mencari sosok yang sepintas sempat menyita pikirannya.


“Cari siapa, Al?”


“Hah? Oh, nggak cari siapa-siapa kok, Nad.”


Untuk beberapa saat Alika terdiam. Dia sebenarnya masih mengharapkan kalau cowok yang dia cintai benar-benar datang di hari specialnya ini.

__ADS_1


“Tuh kan lo bengong lagi. Udah nggak usah kebanyakan ngelamun gitu. Mending sekarang lo ikut gue karena ini udah waktunya lo buat tiup lilin.”


Tanpa menunggu jawaban maupun penjelasan dari sahabatnya, Nadia –satu-satunya sahabat terbaik Alika– langsung menyeret Alika hingga cewek itu berdiri di depan kue ulang tahunya.


Seluruh tamu undangan yang datang ke pesta bersorak sambil menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Alika. Tak henti-hentinya senyum mengembang mengiasi wajah cewek yang malam ini menjadi ratu pada acara tersebut. Sejenak Alika melupakan halusinasi yang beberapa waktu lalu sempat menyita perhatiannya.


“Make a wish dulu, Al...!”


Alika hanya meringis sambil menjulurkan lidahnya, “Sorry, lupa! Hehe…”


Tak lama kemudian Alika memejamkan matanya. Di dalam hatinya, cewek itu memohon. Ia menginginkan malam ini bisa bertemu dengan David, orang yang sampai detik ini masih ia cintai, sekalipun ia hanya bertemu dengan cowok itu di dalam mimpi.


Alika segera meniup lilinnya setelah ia selesai membuat permohonan. Tepuk tangan menghiasi moment tersebut. Papa dan Mamanya juga memberikan pelukan serta ciuman di kedua pipi Alika.


Malam ini benar-benar malam yang spesial untuk Alika. Dan ia berharap dengan bertambahnya usia, hal ini bisa menjadi awal kebangkitan dari masa lalunya yang kelam.


“Lo tadi make a wish apa, Al?” tanya Nadia disela-sela perbincangan mereka berdua.


“Rahasia dong! Masa kayak gitu diomong-omongin.”

__ADS_1


“Ya elah, Al… sama gue aja masih pake rahasia segala lo!” kata Nadia sambil mencubit pipi Alika.


“AAWWW!!! Sakit, Nad!” Alika memekik kesakitan lantaran Nadia terlalu keras mencubit pipinya.


“Pokoknya malam ini gue mau ketemu sama David. Meskipun cuma di dalam mimpi. Itu permohonan gue,”


Tiba-tiba saja Nadia merasakan kesedihan yang mendalam mendengar Alika kembali menyebutkan nama itu. Apalagi setelah sekian lama Alika tidak pernah mengungkit-ngungkit kekasihnya yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia ini.


Wajah yang selama ini bersinar ceria, kini kembali dihiasi awan mendung. Seakan kejadian satu tahun yang lalu kembali terbayang di mata Alika.


“Lo masih belum ikhlas melepas kepergian David?”


Alika menyeka beberapa butir air mata yang sempat jatuh membasahi pipinya. “Gue nggak tau, Nad. Rasanya semua itu seperti mimpi buruk buat gue. Gue masih tetep ngerasa kalau malam ini David ada di sini buat nemenin gue.”


“Lo nggak boleh gitu, Al. Kalau lo nggak bisa mengikhlaskan David, mungkin dia juga belum bisa tenang di sana."


“Gue kangen banget sama dia, Nad.” Kali ini Alika tak sanggup lagi menahan air matanya. Untuk kesekian kalinya cewek itu menangis pilu di pelukan sahabatnya.


“Gue ngerti perasaan lo, Al. Tapi biar gimana pun juga lo harus ikhlasin David pergi. Dia nggak mungkin lagi bisa kembali ke sini.” Nadia merasa iba melihat sahabatnya itu terus terpuruk ke dalam kesedihannya.

__ADS_1


PRAANG!!!


__ADS_2