
Lho kok? Lapangan kosong. Alika celingukan ke sana kemari mencari orang yang baru saja membuatnya mati gaya. Tapi sepertinya orang itu sudah pergi saat ia menundukkan kepala tadi. Mungkin Lian merasa terganggu dengan kehadiran Alika.
Alika lalu melangkah meninggalkan lapangan. Perasaannya saat ini sedang kacau. Membuat perutnya kram dan sekujur tubuhnya tegang. Alika menuruni tangga dengan buru-buru karena ingin secepatnya sampai di kelas.
Dia berusaha terlihat santai untuk menutupi kegugupannya. Namun hal itu malah membuatnya tidak sadar kalau dia sedang berjalan ke arah yang berlawan dengan kelasnya.
Saat membelok di sebuah tikungan, tiba-tiba saja ada seseorang yang mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya masuk ke dalam sebuah gudang.
Alika kontan memekik kaget dan menoleh ke samping. Lian?! Ternyata cowok itu yang menculiknya. Untuk beberapa saat Alika hanya bisa mematung tanpa mengeluarkan kata-kata. Kakinya terasa lemas begitu menyadari sorot mata Lian yang sangat tajam.
“Lepasin gue!” cepat-cepat Alika menghentakkan genggaman tangan Lian yang membuat pergelangan tangannya sakit.
“Sejak kapan lo berani diam-diam merhatiin gue?”
Alika tidak sanggup menjawab pertanyaan Lian. Dia hanya diam sambil membuang pandangannya ke tumpukan kursi rusak yang ada di gudang itu.
“Kok diem? Nggak bisa jawab?” tanya Lian sambil tersenyum sinis.
“Bukan urusan lo! Lagian siapa bilang gue ngeliatin lo?”
“Gue nggak bilang lo ngeliatin gue. Tapi lo merhatiin gue. Iya kan?”
__ADS_1
Kali ini Alika bagai tercekik mendengar ucapan Lian. Cowok itu benar-benar membuatnya kesal. Kenapa setiap kata yang keluar dari mulut cowok itu pasti memancing kemarahan Alika. Sepertinya tidak ada kosa kata yang manis dalam kamus hidup Lian.
“Yan, lo itu sebenernya ada masalah apa sama gue? Salah gue apa sampai lo benci banget sama gue? Dari pertama lo ketemu gue, tidak sekalipun lo bersikap baik sama gue.” Sorot mata Alika menajam. Habis sudah kesabarannya untuk menghadapi sikap keras kepala Lian. Cowok itu memang tidak bisa di kasih hati.
Tiba-tiba Lian menarik tangan Alika dan membuat cewek itu berada sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan saking dekatnya, Lian bisa merasakan hangat nafas yang berhembus dari hidung Alika.
“Nggak semua hal tentang gue harus lo tahu.”
“Gue juga nggak pernah mau tau soal lo! Asal lo tahu ajah, gue bener-bener muak sama sikap lo yang sok angkuh itu. Sikap lo yang suka nyari ribut sama gue, bikin lo kelihatan childish. Kalo lo emang mau benci sama gue, silahkan! Gue juga nggak rugi nggak pernah kenal sama cowok kayak lo!”
Suara Alika mulai bergetar saking kesalnya. Ia membuang muka dan pergi begitu saja setelah berhasil menarik tangannya dari cengkraman Lian.
Lian tertegun. Ia tidak mengira kalau Alika akan bersikap seperti itu padanya. Lian buru-buru mencegah tangan Alika yang hendak membuka pintu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Notes
Hay... Hay Readers... Mohon dukungan nya untuk Author dan novel ini lewat kerelaan kalian mem- VOTE novel "Lika-liku Cinta Alika".
__ADS_1
and than... Please... Please... Please... tekan LIKE setelah selesai membaca karya tercinta Author ini yaa...!!! xoxo >_<