
Dalam beberapa menit café itu semakin dipadati pengunjung yang kebanyakan membawa serta pasangan mereka. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena bukit se-romantis itu memang paling pas dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu bersama sang pacar.
Meskipun banyak tempat lain yang menawarkan nuansa lebih romantis, menikmati jagung bakar ditepi bukit bersama kekasih pasti akan memberikan kesan tersendiri. Selain harganya yang tidak menguras kantong para remaja yang rata-rata masih mengharapkan uang jajan dari orang tuanya, café ini juga menyediakan beragam hidangan yang nggak akan ditemui di café-café elite ala ibu kota dan tentu saja anti mainstream.
Di café yang menjadi idolanya kawula muda Yogya ini sesekali juga menampilkan live perfomance dari band-band lokal maupun penyanyi solo yang sengaja disewa oleh café ini untuk memberikan hiburan gratis bagi para pengunjung yang datang.
Seperti saat ini, beberapa pegawai café terlihat sibuk menata setting panggung yang hanya berjarak lima meter di depan tempat duduk Alika. Café ini tergolong unik, karena panggung biasanya akan terletak dipaling ujung depan agar pengunjung tidak bisa terlalu dekat dengan si penyanyi, demi menjaga ketertiban dan mencegah hal-hal yang tidak diingikan terjadi.
Namun sesuatu yang lain justru ada pada café ini, Caffe d’Bukit Bintang meletakkan panggungnya di tengah-tengah area café sehingga siapapun bisa dengan leluasa berinteraksi dengan si pengisi acara tersebut. Dan Alika sungguh bersyukur karena mendapatkan tempat duduk yang stategis itu.
Alika merapatkan jaketnya, cewek itu langsung tersenyum sumringah begitu melihat seorang pelayan datang membawakannya dua gelas minuman yang masih panas dan sanggat cocok untuk menghangatkan badan di cuaca yang dingin seperti ini.
“Halo para pengunjung sekalian, selamat malam,”
__ADS_1
Sebuah suara terdengar dari atas panggung diikuti suara berisik yang perlahan mereda.
Alika mendongak terkejut tatkala mendengar suara yang tak asing itu. Benar saja, Alika melihat Alvin sudah berdiri di atas panggung sambil memegang sebuah gitar. Pantas saja sedari tadi Alika mencarinya, Alvin tak juga menampakkan batang hidungnya.
Sekarang apa lagi yang Alvin rencanakan dan apa pula yang akan cowok itu lakukan di tengah panggung seperti itu. Memikirkan semua itu membuat hati Alika menjadi was-was.
“Malam ini saya akan mempersembahkan sebuah lagu untuk orang yang sudah sering saya kecewakan beberapa hari ini. Maaf atas semua sikap aku yang udah bikin kamu marah,” kata Alvin sambil menatap lekat ke arah Alika.
Sorakan riuh menyambut pidato pembukaan tersebut dan Alika bisa merasakan beberapa pasang mata tertuju ke arahnya. Alika merasa sangat malu dan tidak berani memandang ke sekelilingnya. Semburat merah menjalar cepat ke pipi Alika, dan cewek itu hanya mampu menundukkan wajah sambil berpura-pura memainkan handphone di tangannya.
Selama menyanyikan lagu itu, Alvin tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Alika. Cowok itu bahkan sempat tersenyum manis disela-sela lagunya. Yang lebih mengagetkan lagi, Alika ngga pernah menyangka kalau cowok sebengal Alvin bisa punya suara sebegitu merdunya. Dan jago main gitar pula!
Dari dulu Alika selalu menaruh perhatian lebih pada cowok yang bisa memetik alat musik berdawai itu. Apalagi kalau cowok itu memainkan sebuah lagu yang khusus ditujukan kepadanya. Bisa-bisa hati Alika lumer mendadak.
__ADS_1
Here I am way to you
I hope that someday you will realize
That I can see forever in your eyes
And I’m wishing my dream will come true
I am lost without you
You are my everything
Saat Alvin berhasil menyelesaikan lagunya, Alika hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Dia nggak tau apa maksud cowok itu menyanyikan lagu favoritnya di hadapan semua orang.
__ADS_1
Mungkin saja dia benar-benar ingin mempermalukan Alika di depan umum, karena sesaat setelah lagu itu berakhir Alvin turun dari panggung dan berjalan menghampirinya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Alika, cowok itu langsung menyambar tangan Alika dan mengajaknya keluar café. Sontak saja semua pengunjung bersorak menggoda mereka. Anak ini memang tidak bisa dikendalikan.