Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 57


__ADS_3

Sekarang hati Alika sudah terasa lebih tenang, cewek itu bangun sebelum sang surya menampakkan sinarnya. Udara pagi masih sangat dingin namun menyegarkan. Dan hal tersebut tidak membuat niat Alika untuk menghibur seseorang yang sudah dia kecewakan menjadi surut.


Yah, setelah insiden penolakan yang ia lakukan, Alika tidak henti-hentinya dihantui rasa bersalah. Hasilnya, cewek itu langsung mengiyakan begitu saja tatkala Alvin bertanya, “Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan dini hari? Kita lihat bangunnya matahari,”.


Selain penasaran bagaimana melihat sunrise di dataran pegunungan, karena sebelumnya ia pernah melihat pemandangan menawan itu di tepian pantai, Alika juga tidak ingin mengecewakan sepupunya itu untuk kesekian kalinya. 


    “Kita berangkat sekarang?” tanya Alvin yang tampaknya sudah tidak terlalu memikirkan kejadian semalam. Terdengar dari nada bicaranya.


    “Sebenernya aku masih pengen tidur, tapi apa kamu mau menunggu??”


Alika telah gagal menyembunyikan rasa kantuknya. Cewek itu beberapa kali menguap di hadapan Alvin, sebab cewek itu hanya punya waktu 3 jam untuk memejamkan matanya.

__ADS_1


    “Nggak.” Jawab Alvin singkat sembari mengangsurkan helm pada Alika.


Alika menerimanya dengan malas. Sejujurnya cewek itu masih sangat-sangat mengantuk, tapi naasnya dia juga tidak punya keberanian untuk menolak ajakan cowok yang saat ini sedang menyeretnya ke tempat terpencil hanya untuk melihat bangunnya sang mentari.


Tidak seperti yang dibayangkan Alika, tempat yang akan dia datangi berada jauh dari rumah neneknya. Melewati jalan berkelok sekaligus menanjak, menuruni turunan yang curam serta masih minim penerangan.


Andaikan Alvin berniat untuk menghabisinya saat ini juga karena merasa tidak terima dengan penolakannya, Alika tidak akan mampu berbuat apa-apa. Jalanan yang dia lewati akan menjadi TKP yang sempurna untuk sebuah tindak kriminal.


Alika bergidik membayangkan semua imajinasi liarnya, dia yakin kalau Alvin tidak akan mungkin berbuat segila itu untuk menuntaskan sakit hati hanya karena penolakan cinta.


Mendengar namanya membuat Alika membayangkan betapa banyaknya buah-buahan yang tumbuh di tempat itu. Dan sesaat setelah Alika melangkahkan kakinya ke dalam gerbang, barulah Alika tersadar kalau di tempat yang dinamai dengan kata ‘Kebun Buah’ itu ternyata hanya berisi segelintir pohon buah. Justru yang banyak adalah tanaman-tanaman khas daerah pegunungan seperti pohon kayu putih dan pohon jati.

__ADS_1


Kosong, sepi dan sunyi. Tiga kata itu sudah cukup untuk menggambarkan tempat yang saat ini digadang-gadang sebagai agrowisata-nya kota Yogyakarta.


Tidak mengherankan karena saat Alika dan Alvin sampai di tempat itu, jam masih menunjukkan pukul 05.05 WIB, masih terlalu dini untuk mengunjungi sebuah tempat wisata. Hanya orang-orang berjiwa pejuang yang rela bangun sepagi itu demi mendatangi sebuah tempat wisata.


    “Masih sepi gini, Vin? Mau ngapain kita ke sini?” tanya Alika yang mulai menaruh curiga pada sepupunya itu.


    “Jelaslah… ini kan masih subuh.”


    “Jangan-jangan kamu…,”


    “Iya. Aku mau balas dendam sama kamu yang udah bikin aku patah hati,” jawab Alvin seraya mempercepat langkahnya meninggalkan Alika.

__ADS_1


Jantung Alika kembali berdegup kencang. Bukan lantaran kecapaian mengikuti Alvin yang hendak membawanya entah kemana, melainkan tiba-tiba saja cewek itu merasa ketakutan mendengar perkataan cowok yang sudah ia tolak cintanya.


Ternyata Alika salah, Alvin masih menyimpan sakit hatinya dan mungkin saja ini saat yang tepat bagi cowok itu untuk membalas semua perlakuan Alika.


__ADS_2