Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 38


__ADS_3

Keesokan harinya di sekolah, perasaan Alika menjadi dag-dig-dug tak karuan setiap kali melihat Lian. Suhu badan yang semula normal, tiba-tiba saja jadi panas dingin dengan sendirinya. Padahal, Lian tidak melakukan apapun yang dapat dijadikan Alika sebagai alasan atas perubahan suhu badannya yang mendadak itu.


Cowok itu hari ini berlagak sok cuek, seperti biasanya saat tanpa sengaja mereka berpapasan di koridor sekolah. Tapi nggak tau kenapa kok malah Alika yang jadi kayak cacing kepanasan. Gelisah nggak jelas.


Lian duduk tenang di bangkunya sewaktu Alika masuk ke dalam kelas untuk mengantarkan Nadia bertemu kekasihnya. Saat keduanya nggak sengaja bertatapan, Alika langsung membuang muka dan berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal kalau cewek itu mau mengakui, di dalam hatinya udah bagaikan lomba kembang api. Dag-dig-dug-duuarr!


Bukan hanya sekali dua kali Alika merasakan perasaan ganjil itu. Dia selalu merasa hatinya berlonjakan saat melihat ataupun berada di dekat Lian. Dia sendiri bingung apa yang terjadi dengan dirinya. Dia yakin perasaan itu sama persis seperti yang ia rasakan pada David.


Perasaan gelisah dan merasa selalu ingin berada dekat dengan cowok yang dia sayang itu. Sampai akhirnya pikiran itu pun terlintas di benak Alika. Dan ia merasa saat itulah waktu yang paling tepat untuk melakukannya. Tidak peduli dengan segala resikonya, Alika sudah mantab untuk mengungkapkan perasaannya kepada Lian.


Malam harinya di dalam kamarnya yang selalu saja dipenuhi dengan nuansa ungu –karena memang cewek ini fans berat pada warna ungu– Alika menekan beberapa nomor dan diapun bertekat untuk menghubungi Lian.


    “Hallo! Ada apa Al? Tumben jam segini lo telpon gue? Nggak takut pulsa lo habis?” sahut Lian dari seberang telepon.


    “Nyerocos ajah lo, Yan. Gue kan belom jawab satupun pertanyaan lo!”


    “Iya juga ya. Hehehe.”


    “Yan, lo lagi sibuk ga? Gue mau ngomong sama lo...”


    “Mau ngomong apa, Al? “


    “Mmm... Yan... Gue...” Alika merasa sangat gugup. Dia bahkan tidak tau harus memulai percakapannya dari mana.


    “Lo kenapa? Ngomong lo jadi gagu gitu,”

__ADS_1


    “Gue nggak papa, Yan. Oh iya, gimana kabar cewek yang lo taksir itu?” Alika mengutuk dirinya sendiri. Kenapa malah pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya.


    “Kok lo tiba-tiba nanyain itu?” Lian heran mendengar pertanyaan Alika.


    “Tiba-tiba gue kepikiran ajah.”


    “Lo sakit ya, Al? Dari tadi omongan lo kacau mulu. Tadi ngomong lo gagu sekarang tiba-tiba lo nanyain hal nggak jelas gitu,”


    “Ngga kok! Siapa yang sakit?”


    “Ya terus apa alasannya lo tiba-tiba tanya kayak gitu?” Lian tambah bingung dengan tingkah cewek itu.


Alika menarik napas dalam-dalam. Kali ini dia harus melanjutkan rencananya. Dia sudah terlanjur basah kenapa tidak berenang sekalian. Lian juga pasti sudah mulai curiga dengan sikapnya. Lebih baik langsung ke pointnya saja.


    “Sebenarnya ada yang mau gue omongin sama lo. Ini menyangkut hubungan gue sama lo.”


    “Bukan itu! Lo dengerin dulu omongan gue!” Alika jadi kesal.


Kenapa Lian malah membuatnya semakin bingung buat ngomong. Cowok itu tidak tau kalau saat ini jantung Alika sedang berpacu dengan kerasnya.


    “Ya udah buruan ngomong!”


    “Gue... Gue...” Alika ragu untuk mengungkapkan isi hatinya. Dia mencoba menerka bagaimana reaksi Lian setelah tau perasaan Alika yang sesungguhnya.


    “Lo kenapa??? Lo jangan bikin gue emosi ya, Al. Buruan ngomong!”

__ADS_1


    “Gue suka sama lo, Yan!”


Deg !!!


Tubuh Lian mematung seketika. Bagaikan mendapat sengatan listrik seribu watt, cowok itu langsung kehilangan setengah kesadarannya. Dia tidak percaya dengan ucapan Alika yang barusan berdengung di telinganya.


    “Lo... kenapa, Al?”


    “Gue suka sama lo! Gue sayang sama lo, Arlian Mahesa!” Ucap Alika dengan mantab.


Lian tidak sanggup mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Lehernya tercekat. Lidahnya serasa kelu. Jantungnya mendadak berdenyut lebih cepat dari biasanya.


    “Nggak lucu, Al! Gue nggak suka bercandaan lo yang kayak gini.”


    “Gue tau lo pasti shock mendengar kata-kata gue ini. Tapi gue serius sama omongan gue. Gue juga nggak tau sejak kapan rasa itu muncul di hati gue. Tiba-tiba ajah gue merasa kalau lo itu spesial buat gue. Dan gue baru sadar kalau gue udah nganggap lo lebih dari seorang sahabat. Mungkin buat lo gue cewek gila karena tanpa malu nyatain perasaan duluan sama cowok. Tapi gue nggak peduli sama semua itu. Yang gue tau, perasaan gue ke lo ini tulus. Gue sayang sama lo.” 


Akhirnya semua isi hati Alika mengalir begitu saja dari mulut Alika saat ia memutuskan untuk menyatakan cintanya kepada Lian. Meskipun semua itu diucapkan dengan kalimat yang panjang dan berbelit-belit, Alika masih tetap nggak nyangka kalau ia bisa ngomong selancar itu pada Lian.


    “Maafin gue, Al. Bukannya gue nggak suka sama lo, tapi gue lebih seneng kalau kita tetep jadi sahabat,” ucap Lian dengan tegas. Meski begitu, suara cowok itu tetap terdengar lembut.


DEG !!!


Kali ini giliran jantung Alika yang mendapat kejutan. Alika langsung merasakan sebilah pisau menyayat hatinya. Wajahnya seketika menjadi pucat. Sampai-sampai ia sendiri lupa apa yang akan ia katakan selanjutnya. Alika sama sekali tidak membayangkan kalau jawaban itu yang keluar dari mulut Lian untuk membalas pernyataan cintanya.


Cewek itu berpikir kalau Lian juga merasakan hal yang sama, mengingat semua sikap Lian selama ini memberikannya harapan kalau semua itu Lian lakukan karena Alika lebih dari sekedar sahabatnya. Tapi kenapa sekarang malah kenyataan pahit yang ada di depan matanya. Apakah selama ini Alika salah mengartikan perhatian Lian untuknya? Ataukah Alika yang terlalu naif menganggap perasaan itu sebagai cinta?

__ADS_1


Berbagai pertanyaan bergejolak di benak Alika. Belum sempat cewek itu mengendalikan hatinya yang kacau balau, tau-tau saja ia malah menutup sambungan teleponnya dengan Lian. Dan tanpa bisa dibendung lagi Alika menangis meraung-raung di dalam kamarnya yang sepi.


__ADS_2