
“Gila lo, Al! Kok lo senakat itu sih?!” teriak Nadia saat mendengar semua cerita Alika tentang pernyataan cintanya kepada Lian semalam. Alika yakin seisi kelas pasti bisa mendengar ucapan sahabatnya yang cablak itu.
“Lo bisa kecilin suara lo nggak! Lo mau bikin malu gue di depan anak-anak?” desis Alika.
“Sorry, Al. Gue nggak percaya ajah lo berani lakuin itu.”
“Gue emang kelewat PD, Nad. Gue nggak pernah mikir panjang dulu sama semua tindakan gue.”
“Ya udah, nggak usah lo sesali. Semua udah kejadian ini. Yang penting lo udah ungkapin semua isi hati lo ke dia. Dari pada di pendem malah jadinya makan ati sendiri kan?”
Alika tidak menggubris ucapan Nadia. Pagi ini Alika memang sedang tidak berselera untuk masuk sekolah. Kalau saja bukan karena paksaan Mamahnya, dia pasti sudah memilih untuk mengurung diri di kamar seharian. Dia merasa enggan untuk menemui Lian. Lebih tepat lagi dia merasa malu kalau harus bertemu dengan Lian.
__ADS_1
“Gue harus gimana sekarang, Nad? Gue malu banget kalau nanti ketemu Lian. Gue cewek, gue yang nembak duluan, dan endingnya gue malah ditolak sama dia. Mau ditaruh dimana muka gue ini?” Alika menghela napas dalam-dalam.
Pikirannya sedang kalut. Rasa sedih, kecewa, malu semua berpusar membentuk badai di otaknya yang kecil itu. Akibatnya Alika tidak sanggup menyembunyikan raut muka murung dari wajah cantiknya.
“Gimana kalau lo coba lupain perasaan itu? Dan lo balik lagi jadi sahabatnya kayak dulu.”
“Kayaknya gue nggak bisa lakuin itu Nad. Gue terlanjur sayang sama dia. Gue selalu ngerasa happy kalau deket sama dia. Dan gue bisa jadi diri sendiri kalau lagi sama dia.”
Alika percaya kalau dia melakukan hal yang tepat. Dan tidak ada yang perlu dia sesalkan. Alika telah menemukan ketulusan dan kejujuran dalam diri Lian. Alika juga merasa kehadiran Lian memberi banyak arti dan perubahan pada dirinya.
“Terus gimana hubungan lo sama Radit? Lo yakin nggak coba buat cinta sama dia?”
__ADS_1
Alika menggeleng lemah, “Gue bener-bener nggak bisa cinta sama Radit. Dan gue juga nggak bisa kalau harus lupain perasaan gue ke Lian.”
Perlahan air mata mulai mengalir di pipi Alika. Dia tidak sanggup lagi menahan kesedihan yang semakin lama semakin menusuk hatinya.
Nadia yang sedari tadi duduk di hadapan Alika, buru-buru menyeka air mata cewek itu. Ia idak mau satu kelas tau tentang permasalahan Alika. Nadia mengusap lembut bahu Alika, berusaha meredakan kesedihan yang sedang bergejolak dalam hati sahabatnya itu.
Dia tahu betul kekecewaan yang dihadapi Alika. Tapi tindakan nekat Alika benar-benar membuat Nadia shock dan nggak habis pikir. Parahnya lagi, Alika bersikeras untuk tidak melupakan perasaannya kepada Lian. Dan hal tersebut membuat Nadia tidak sanggup berkomentar apa-apa.
“Gini ajah, Al. Lo nggak perlu lupain perasaan lo ke dia. Cukup lo rasain sendiri. Karena sayang sama orang itu bukan hal yang salah. Tapi lo juga nggak boleh menaruh harapan sama dia, belum tentu kan dia bakal berubah pikiran sama keputusannya semalem. Yang jelas lo nggak boleh jauhin dia gara-gara masalah ini. Tetep anggap dia sebagai sahabat lo yang sering lo ajak berantem. Ok Sayang?”
Alika tersenyum getir mendengar nasehat sahabatnya. Jauh di lubuk hatinya, Alika berusaha menguatkan diri agar tetap percaya kalau suatu saat nanti Lian pasti akan membuka hati untuknya.
__ADS_1