
Lian kali ini tidak lagi menahan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Alika yang diluar perkiraannya. Alika memang dijodohkan, tapi Lian sendiri juga tidak tau kalau sahabatnya itu sangat membeci pacarnya yang sekarang.
“Jahat lo, Yan, bahagia di atas pendeeritaan gue!”
“Sorry... Sorry... Gue nggak bermaksud ngetawain lo. Gue nggak nyangka ajah lo ternyata sebenci itu sama Radit. Tapi, lo itu kadang ajaib juga, Al. Kok bisa lo nggak sedikitpun cinta sama Radit meskipun lo udah lama pacaran sama dia. Harusnya kan lo udah mulai mikirin ke arah yang lebih serius. Barangkali lulus sekolah lo langsung pengen jadi Nyonya Radit.”
“Amit-amit! Sebenernya, Gue dari awal emang nggak pernah cinta sama dia. Karena gue sukanya sama orang lain.”
Kali ini giliran Lian yang mendapat sambaran petir di pagi buta saat mendengar kata-kata Alika. Entah mengapa seperti ada harapan yang lepas dari genggamannya.
“Lo suka sama cowok lain? Siapa? Kok lo nggak pernah cerita sama gue?”
“Kepo amat lo, Yan! Nggak semua yang gue rasain harus gue ceritain ke lo kan?”
__ADS_1
“Ya seenggaknya kan gue bisa tau apa cowok itu beneran tulus sama lo apa nggak. Siapa tau tuh cowok satu spesies sama si Radit.”
“Baik amat lo sama gue. Biasanya juga lo cuek gue mau jalan sama siapa ajah.”
“Itu kan dulu. Kalau sekarang udah beda, Al.”
“Apa bedanya?”
Lian tidak berani mengutarakan jawabannya. Pertanyaan Alika sama saja dengan todongan pistol baginya. Sekali dia salah mengucapkan kata-katanya, semua isi hatinya akan terbongkar.
“Apa lo juga perhatian kayak gini sama cewek yang lo suka?”
“Kok lo tiba-tiba nanyain itu?”
__ADS_1
“Nanya aja nggak boleh? Sok privat amat lo.”
“Gue selalu perhatian sama cewek itu. Apapun bakal gue lakuin selama itu buat kebaikan dia. Karena buat gue, dia bukan sekedar cewek yang gue suka. Tapi gue terlanjur sayang sama dia.”
Alika termangu-mangu sambil menghayati cerita yang diungkapkan Lian. Saat Alika melirik wajah Lian, dia sempat menangkap ada kesedihan dari mata cowok yang biasanya galak itu.
“Ya udah, lo ungkapin ajah perasaan lo yang sebenarnya. Kalau lo nggak pernah ngomong soal perasaan lo ke dia, gimana dia bisa tau perasaan lo, Yan?”
“Nggak perlu, Al. Gue udah cukup bahagia bisa liat dia bahagia sama kehidupannya.” Ucap Lian lirih.
Alika hanya terdiam mendengar cerita Lian. Dia bingung dengan apa yang akan dikatakannya. Dia juga heran kenapa tiba-tiba hatinya terasa sakit saat Lian bilang ada cewek yang dia suka. Seperti kekecewaan yang melanda hatinya saat ini. Tapi Alika tidak mau menampakkan perubahan suasana hatinya itu dihadapan Lian.
“Al, duduk sini. Tuh mataharinya udah mau naik,” kata Lian yang sudah duduk di sebuah batu karang besar di tepian pantai.
__ADS_1
Alika segera duduk di tempat yang ditunjuk Lian yang tak lain adalah dihadapannya yang berarti juga Alika bisa merasakan dekapan hangat Lian, itupun kalau cowok itu memang mau memeluknya.
Angin pantai yang dingin membelai lembut wajah cewek itu. Alika memejamkan matanya dan menikmati hembusan angin yang menyejukan. Meski perasaannya sedang kacau balau, tapi bisa dekat dengan Lian seperti ini saja sudah membuatnya senang.