
“Kamu udah punya pacar, Al?”
Deg !
Jantung Alika serasa berhenti sejenak mendengar pertanyaan Alvin yang menurutnya sangat sensitif. Yah, memang Alika selalu sensitif kalau sudah menyangkut masalah percintaannya.
Apalagi yang bisa membuatnya lebih merana dibanding persoalan yang satu itu? Diselingkuhi pacar dan cinta bertepuk sebelah tangan. Sepertinya Alika bukan termasuk tipikal orang yang hoki jika berurusan dengan hati.
“Ngapain kamu nanya itu? Sepertinya itu bukan pertanyaan dari seorang tour guide.”
Alika menghindari jawaban langsung dan lebih memilih untuk membelokan topik pembicaraan.
“Itu emang bukan pertanyaan dari guide kamu, tapi itu pertanyaan dari sepupu kamu yang mau lebih akrab sama kamu,”
“Akrab juga nggak sampai segitunya, Vin.”
“Emangnya pertanyaan itu privacy banget ya? Sampai-sampai saudara sendiri nggak boleh tau,”
“Bukan itu maksudnya… Aku nggak suka ngomongin masalah itu sama anak yang usianya saja lebih muda dari aku. Mana ngerti kamu urusan percintaan orang dewasa gitu,”
__ADS_1
“Dewasa apanya? Kamu juga masih ABG, Al. Kamu sama aku saja lebih manjaan kamu kan?”
Alika tersinggung dikatakan manja oleh cowok yang dianggapnya masih ingusan itu.
“Manja nggak bisa jadi tolak ukur kedewasaan seseorang. Manja itu lebih tergolong ke kebiasaan orang itu sendiri.”
“Terus di mata kamu dewasa itu yang seperti apa? Apa yang seperti ini??”
Saat melewati sebuah lorong yang gelap, Alvin mendadak mendorong Alika hingga membentur dinding yang ada dibelakangnya. Dan karena cowok itu memang lebih tinggi dari Alika, membuatnya bisa leluasa memandang wajah Alika yang saat ini hanya bisa membelalak kaget tanpa bisa berbuat apa-apa.
Wajah Alvin hanya berjarak sejengkal di depan Alika, sorot matanya yang tajam menusuk dalam hingga membuat cewek itu tak berani menatapnya dan seketika menutup kedua matanya.
Alvin tidak menghiraukan ancaman Alika. Dia malah semakin mendekatkan wajahnya ke arah cewek itu.
“Kamu cantik, Al. Kamu juga manis kalau lagi kayak gini,”
Dengan senyum penuh kepuasan karena berhasil menggoda Alika sampai tak berkutik seperti itu, perlahan Alvin melepaskan tangannya dari cewek yang masih menutup rapat kedua matanya itu. Alvin terkekeh-kekeh melihat ekspresi wajah Alika yang panik sekaligus ketakutan.
“Hahaha… Alika… Alika… Katanya kamu sudah dewasa tapi baru begitu saja kamu sudah ketakutan seperti itu…”
__ADS_1
PLAKKK !!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Alvin. Alika Tak bisa lagi menahan kekesalannya. Bukan hanya sekali itu dia dibuat kesal oleh Alvin, sejak pagi cowok itu tak henti-hentinya menggoda Alika. Dan candaannya kali ini sudah melewati batas. Alika berlari keluar meninggalkan Alvin. Tidak peduli Alvin berkali-kali memanggilnya.
“Al… Alika…!”
Alvin berlari mengejar Alika yang sudah berhenti di depan sebuah taksi dan bersiap masuk ke dalam sebelum akhirnya Alvin berhasil mencegahnya.
“Al… Maafin aku. Oke aku kali ini emang kelewatan. Tapi please maafin aku,” pintanya.
“Maafin kamu?! No thank’s!!!”
Tanpa memperdulikan ucapan Alvin selanjutnya, Alika bergegas masuk ke dalam taksi. Bunyi dentuman yang keras terdengar jelas saat Alika menutup pintu taksi yang hampir saja membuat tangan Alvin terjepit.
Sesaat sebelum Alika menutup pintu taksi, Alvin melihat air mata yang jernih perlahan membasahi pipi Alika. Rasa sakit dan menyesal seketika menyeruak di dalam hati Alvin.
Begitulah hari itu berakhir dengan tidak mengenakkan. Sejak kejadian itu Alika tak sepatah katapun berbicara dengan Alvin, baik di dalam rumah maupun saat mereka pergi jalan-jalan bersama. Sampai kedatangan seseorang yang tak disangka-sangka oleh Alika maupun Alvin.
Seseorang yang rela terbang jauh dari Jakarta hanya untuk menebus kesalahannya dengan sahabat yang sudah dia lukai perasaannya.
__ADS_1
Seseorang yang akan menjadi rival terberat Alvin untuk mendapatkan kata maaf dari cewek yang sudah ia alirkan air matanya. Seseorang yang akan membuat Alika menjadi dilema untuk menentukan pilihan hatinya. Seseorang itu adalah Lian.