
“Ngapain ngajakin gue nonton kalau cuma disuruh liatin lo sama Dony pacaran? Lo pikir gue kambing congek?!” kata Alika yang saat ini tengah ditarik-tarik Nadia untuk memasuki salah satu gedung bioskop di Pondok Indah Mall.
“Ya ampun, Alika! Gue sama Dony cuma mau hibur lo biar bibir manyun lo itu ilang. Baik kan gue sama Dony?”
“Iya, Al, bentar doang. Biar muka cantik lo itu nggak ketekuk lagi,” sambung Dony tak mau kalah ngototnya.
“Bener ya kalian nggak bakal pacaran di depan gue?” Ancam Alika sambil mencubit lengan Nadia.
“Aww!! Iya gue nggak bakal pacaran di depan lo. Gue sama Dony bakal duduk di belakang lo.” Goda Nadia yang langsung mendapat cubitan bertubi-tubi dari Alika.
“Udahlah, Al, apa untungnya lo mikirin Lian terus? Dia juga nggak marah kan sama lo? Dia ajah udah bisa bersikap biasa sama lo, kenapa lo masih menghindar terus dari dia?”
Raut wajah Alika muram. “Gue masih belum berani buat ketemu Lian, Don. Masih ngerasa nggak enak. Gue jadi canggung kalau lihat mukanya dia.”
__ADS_1
“Ya udahlah, Al, hapus pikiran lo itu detik ini juga! Nggak perlu lo capek-capek mikirin si Lian terus. Sekarang kita mau nonton film apa? Horor? Komedi? Action? Apa Romance?” tanya Nadia yang sudah tidak sabar ingin segera melenggang masuk ke dalam bioskop.
“Gue terserah ajah. Yang penting no romance.”
“Ok. Gue beli tiketnya dulu. Kalian mau popcorn?”
Alika mengangguk pada Dony yang hendak pergi ke loket penjualan tiket. “Gue ke toilet dulu, Nad. Lo tunggu sini ajah.”
“Yakin lo nggak mau gue temenin?”
Alika bergegas mencari toilet terdekat yang ada di Mall itu. Sesekali dia harus berhenti untuk menghindari tabrakan dengan orang lain, karena siang itu kondisi Mall sedang cukup ramai. Banyak pengunjung yang berseliweran dimana-mana.
Ketika tiba di toilet, Alika langsung menghambur ke depan wastafel dan mencuci mukanya. Memang tujuan Alika ke tempat itu bukan untuk urusan kamar mandi, dia cuma ingin membasuh mukanya untuk menghilangkan tanda-tanda air mata yang hendak menetes dari matanya.
__ADS_1
Semenjak insiden penolakan oleh Lian, Alika berubah menjadi cewek yang cengeng. Sedikit-sedikit nangis. Dia juga menjadi lebih sensitif. Jadi gampang tersinggung kalau ada omongan atau sikap yang tidak ia suka.
Dan yang sering menjadi pelampiasannya tak lain adalah Nadia dan Dony. Karena memang cuma mereka yang hobby menggoda dan cari gara-gara dengan Alika.
Selesai mencuci muka dan merapikan rambut yang mulai berantakan, Alika berjalan keluar toilet. Tapi, baru beberapa meter kakinya melangkah cewek itu mendapat kejutan yang cukup membuatnya tercengang. Alika membelalakkan matanya untuk memastikan ia tidak salah lihat.
Seorang cowok yang sangat familiar di matanya tampak sedang berjalan sambil berangkulan mesra dengan seorang cewek menuju foodcourt yang berada tepat di hadapan Alika berdiri sekarang.
Cowok itu terlihat sangat bahagia bersendau gurau dengan si cewek. Yang mengherankan, kenapa cowok itu bisa ada di tempat seperti ini. Karena baru satu jam yang lalu cowok itu memberi kabar pada Alika kalau dia ada urusan senat di kampus.
Tak salah lagi, cowok itu adalah Radit. Kekasih Alika sekaligus calon tunangan Alika – itu menurut orang tua Alika.
Perlahan Alika berjalan mendekati pasangan sejoli itu. Dia tidak lagi bisa merasakan apakah kakinya saat ini sedak berpijak pada lantai atau tidak. Pikirannya kelewat shock melihat pemandangan yang sangat sulit ia percaya.
__ADS_1
Meskipun sampai sekarang Alika tidak juga mencintai Radit, tapi dia juga tidak bisa terima kalau sampai ada yang menyelingkuhinya. Alika sangat menjunjung tinggi komitmen yang ia buat, dan sekarang komitmen itu telah dilanggar sendiri oleh kekasihnya.