Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 66


__ADS_3

Tidak tahan melihat Alika yang terus saja menggodanya, Lian langsung menarik cewek itu dan ******* habis bibirnya. Kali ini Alika tidak lagi menahannya seperti waktu di pantai tadi. Dia melepaskan semua perasaannya lewat ciuman itu.


    “Sekali lagi lo ngomongin sepupu lo itu, gue nggak segan-segan menghabisi bibir lo ini.” bisik Lian setelah ia menyelesaikan ciumannya.


Alika hanya menjulurkan lidahnya dan langsung menghambur keluar mobil tanpa menunggu Lian membukakan pintu untuknya.


Matahari sudah mulai condong ke arah barat ketika Lian dan Alika sampai di tempat tujuan. Setelah sekitar setengah jam keduanya terguncang-guncang di atas kendaraan akhirnya mereka bisa melihat ke-Agung-an Tuhan yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Di balik semak-semak tinggi, salah satu surga tersembunyi itu menampakkan diri.


Tak seperti deretan pantai-pantai berpasir putih di Gunungkidul lainnya, Pantai Kesirat mempesona dengan karakternya sebagai pantai bertipe tebing karang. Tak ada pasir putih atau pemandangan buih ombak yang menepi di pantai ini. Hanya suara-suara deburan ombak yang pecah menabrak sisi-sisi karang.


Layaknya surga tersembunyi di Gunungkidul, Pantai Kesirat tak terlalu ramai sore itu. Hanya ada beberapa orang yang terlebih dulu sampai dan mendirikan tenda untuk bermalam, serta beberapa bapak-bapak yang terlihat memancing di ujung selatan tebing.


Garis pantai Kesirat yang langsung jatuh ke laut lepas dan jenis ikannya yang beragam adalah penyebab pantai ini populer di kalangan penggemar rock fishing. Bahkan jauh sebelum pantai ini dikunjungi para wisatawan. Sebuah pondok sederhana sengaja dibangun di tebing bagian selatan yang merupakan spot terbaik memancing ikan.

__ADS_1


    “Keren ya, Al, pantainya.”


    “Iya, Yan… Nggak kalah sama Bali. Kalau tau gini ngapain kemarin kita jauh-jauh ke Bali ya?”


    “Kan lo sendiri yang ngajak liburan ke sana. Lupa lagi lo?”


Alika hanya meringis mendengar sindiran Lian. Cowok itu kalau sudah bête benar-benar susah dirayunya. Masih untung dia tidak mendorong Alika dari atas tebing yang saat ini sedang mereka daki.


Setelah bersusah payah mengatur napas, mereka sampai juga dipuncak tebing yang menawarkan pemandangan yang begitu mempesona.


Tebing pantai yang menghadap ke barat menjadi lokasi yang pas untuk menyaksikan matahari kembali ke peraduan, seolah tenggelam ke dalam lautan. Senja di Pantai Kesirat semakin dramatis dengan sebuah pohon yang condong ke arah laut, seakan melambai ke arah matahari, mengucapkan selamat tinggal.


Alika dan Lian berdiri mematung seolah terhipnotis keindahan gradasi warna kuning terang hingga biru pekat hasil karya Tuhan. Cahaya keemasan yang mewarnai langit barat dan memantul di perairan pun semakin redup seiring datangnya malam, menyisakan siluet hitam dua anak Adam yang berdiri menyaksikan tenggelamnya sang surya.

__ADS_1


    “Gue sayang lo, Al. Lo maukan jadi pacar gue?” tanya Lian dengan suara lembut sambil berbisik di telinga Alika yang saat ini tengah terpaku di pelukannya.


    “Lo serius atau cuma PHP-in gue seperti kemaren?” Alika merasa perlu memasang sikap was-was agar kejadian tempo hari tidak terulang lagi.


    “Lo pikir gue masih sempet bercanda, setelah berhari-hari gue nahan kangen yang nggak ada habisnya.”


    “Iya-iya… gue percaya. Lo jadi cowok nggak ada romantisnya ya…”


    “Kalau lo cuma pengen cowok romantis, gue bisa kasih semua itu. Tapi sekarang gue butuh jawaban pasti dari hati lo.”


Alika menimbang sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala.


    “Gue juga sayang sama lo, Yan. Baik itu dulu, sekarang atau sampai kapanpun. Gue akan tetep sayang sama lo.”

__ADS_1


Lian mengecup lembut leher Alika dan membuat cewek itu bergidik. Rasanya seperti tersengat aliran listrik, kaget namun juga menggelitik.


Dan senja sore itu mereka tutup dengan menghabiskan malam romantis sambil menikmati hidangan laut di sebuah pondok makan yang berdiri tak jauh dari Pantai Kesirat.


__ADS_2