Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 49


__ADS_3

Kota Yogyakarta mulai tersinari teriknya matahari. Jalanan juga tampak penuh sesak dengan berbagai kendaraan berlalu lalang di sekitar tempat wisata yang ada. Kota Yogya memang terkenal dengan pariwisatanya yang beraneka ragam. Mulai dari wisata alam hingga wisata kuliner.


Bahkan hampir di setiap sudut kota ini layak dijadikan tempat melancong bagi para tourist. Spot-spot untuk ber-selfie ala anak muda juga tak kalah banyaknya. Jalan Malioboro, Alun-Alun Kota, Keraton Yogya, Titik Nol, semua itu tak luput dari bidikan lensa para fotografer yang tertarik dan penasaran dengan keindahan kota ini.


Belum lagi pantai-pantai berpasir putih yang membentang di balik deretan pegunungan kars yang menjadi land marknya kota Yogya. Semua itu membuat Alika bersemangat untuk melakukan petualangan yang ia harapkan bisa membantu menghilangkan segala kemelut percintaannya.


Di hari kedua liburannya, Alika berpikir akan menjelajahi kota Yogya yang selama ini hanya dia kenal lewat cerita-cerita Mamanya maupun browsing di internet. Sebenarnya sudah lama Alika ingin melihat langsung keindahan dan budaya kota Yogya, tapi karena kesibukannya di sekolah akhirnya keinginan itu harus rela ia tunda. Dan baru sekarang kesempatan itu datang.


Namun lagi-lagi Alika harus rela menerima ke-tidak-beruntung-an harinya. Di sebuah bangku alun-alun utara kota Yogya, Alika tampak kesal menatap layar smartphone nya karena menunggu Alvin yang datang terlambat.


Hari ini cowok itu yang bertugas menjadi tour guide nya. Tapi sampai Alika menunggunya selama satu jam belum juga ada tanda-tanda cowok itu akan menghampirinya. Alika kembali menekan-nekan layar smartphone keluaran terbaru itu. Dia mencoba menghubungi Alvin yang tidak jelas kemana perginya.

__ADS_1


Sesaat sebelum Alika meninggalkan rumah, Alvin hanya berpesan untuk menunggunya di Alun-Alun Utara Kota Yogya. Cowok itu berkata akan segera menyusul setelah urusan kamar mandinya selesai. Akhirnya Alika mengalah –berhubung itu urusan kamar mandi, yang tentu saja bukan hanya sekedar mengguyur badan– dan dengan berat hati menebeng mobil Papahnya yang kebetulan searah dengan tujuannya. Apa mungkin cowok itu mencoba mempermainkannya sekarang???


Sialnya, Alika tidak meminta Papahnya untuk menemani sampai Alvin datang menjemputnya. Dada Alika semakin sesak memikirkan hal itu. Saat dia mencoba untuk kembali menghubungi Alvin, dari kejauhan tampak seorang cowok berlarian ke arahnya.


    “Hei Al, maaf ya aku telat.” ucap Alvin sambil ngos-ngosan.


    “Kamu gila ya! Sudah sejam lebih aku nungguin kamu, tapi kamu baru nongol sekarang. Dari mana saja kamu?! Kenapa juga HP kamu nggak bisa dihubungi?”


Alika tidak menggubris penjelasan Alvin tentang motor mogoknya. Dalam hati cewek itu terus saja menggerutu kesal karena harus menunggu seseorang lebih dari satu jam. Alika bukan tipe orang yang sabaran, lima menit pun akan terasa sangat lama bagi Alika jika itu hanya dia gunakan untuk menunggu.


    “Mbaknya yang cantik… ini jadi jalan apa nggak?? Atau kita mau pulang saja?” Alvin mencoba merayu Alika yang masih cemberut sambil menghindari tatapannya.

__ADS_1


    “Ya udah kita pulang saja kalau kamu masih ngambek kayak gini,”


    “Kita jalan!”


    “Nah… gitu dong. Ayo naik, kamu mau diantar ke mana dulu?”


    “Dari sini yang deket kemana? Aku males kalau naik motor sambil panas-panasan!”


    “Hahaha… Alika, kalau kamu nggak mau kepanasan harusnya tadi naik mobil. Apa sekarang kamu mau naik bus trans Yogya itu?”


Alvin menunjuk sebuah bus kecil berwarna biru dengan motif batik –desain khas kota Yogya– yang sedang berhenti di halte untuk menaikkan penumpang.

__ADS_1


Melihat kondisi bus yang penuh sesak, Alika langsung menggelengkan kepala. Dia segera menyambar helm yang dibawa Alvin dan mendaratkan pantatnya di atas jok motor yang ngomong-ngomong terasa sangat panas meskipun baru sekejap dipanggang matahari.


__ADS_2