Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 53


__ADS_3

Setelah menempuh perjalan kurang lebih satu jam, Alvin menghentikan motornya di depan sebuah mini market dan menggandeng Alika untuk masuk ke dalam. Alvin mengambil beberapa snack dan mengambil sebuah jaket???


    “Kamu pakai ini biar nggak kedinginan,” Alvin memakaikan sebuah jaket biru gelap dengan kerah berbulu pada Alika.


Alika terkesima, ternyata cowok itu tidak seburuk yang dia pikirkan. Minimal Alvin masih punya rasa tanggung jawab.


    “Kita sebenarnya mau kemana, Vin?  Dari tadi aku nanya nggak pernah kamu jawab!”


    “Tenang saja, Al, sebentar lagi juga sampai.” Alvin membelai lembut wajah Alika.


    “Kamu mau ganti sandal sekalian? Ukuran kaki kamu nomor berapa?”


    “Nggak perlu. Pakai ini juga nggak papa kok,”

__ADS_1


    “Udah pilih ajah! Aku tau kalau itu nggak sesuai sama style kamu.”


Alika mengangguk membenarkan kata-kata Alvin. Meskipun menjaga gengsi untuk tidak meminta pada orang yang lebih muda itu penting, tapi naluri fashion Alika mengalahkan gengsi yang setinggi langit itu.


Setelah urusan berbelanja dan berbenah diri selesai, Alika dan Alvin kembali melanjutkan perjalan, menaiki tanjakan yang lebih tajam. Dalam keadaan seperti itu Alika tidak punya pilihan lain selain mempererat pelukannya pada Alvin. Sialnya, jantung Alika tidak mau berdetak normal. Bahkan suara dentumannya pun bisa terdengar andai saja tidak dikalahkan kerasnya deru sepeda motor Alvin.


Kurang lebih tiga puluh menit sebelum Alvin akhirnya menginjak pedal rem. Alika turun dari motor dan mengamati keadaan sekitarnya. Walaupun malam sudah larut, Alika masih bisa melihat kerlipan lampu-lampu kota Yogyakarta di malam hari. Menara-menara cahaya bandara Adi Sutjipto dan lampu-lampu kendaraan yang nampak bergerak lambat. Sangat indah. Seperti bintang yang menyebar megah di dataran bumi.


    “Ini namanya Bukit Bintang,” Alvin memandang lembut ke arah Alika yang sedang tekpukau melihat keindahan ciptaan Tuhan yang belum pernah dia temukan di kota tempat tinggalnya, “Nggak nyeselkan ikut ke sini?”


Alika hanya bisa menggeleng sambil terus mengagumi pemandangan yang terbentang di hadapannya. Dulunya dia berfikir kalau bukit seperti ini hanya bisa ditemukan di kawasan Puncak Bogor maupun Bandung. Namun ternyata di Yogyakarta juga memiliki tempat seindah ini. Walaupun tempat itu dipadati pengunjung, tetap saja suasana romantis terasa kental menyelimuti bukit itu.


Di Bukit Bintang ada beberapa restaurant dan warung-warung sederhana yang menjajakan berbagai jenis makanan. Namun, yang menjadi favorit para pengunjung adalah jagung bakar yang memang sangat cocok untuk dimakan di saat seperti ini.

__ADS_1


Alika juga ingin segera mencicipi jagung bakar itu, sebelum akhirnya Alvin membawanya masuk ke dalam sebuah café yang terletak di tepi bukit. Dari situ Alika bisa melihat seluruh kota Yogya dan juga Candi Prambanan yang terlihat lebih menawan saat malam hari.


    “Duduk sini, Al.” Alvin menarik sebuah kursi panjang dan mempersilahkan Alika untuk duduk di sampingnya.


    “Makasih, Vin. Tumben kamu baik kayak gini?”


    “Aku kan memang selalu baik sama kamu,” ucap Alvin seraya menyibakkan helaian rambut yang menjuntai di wajah Alika.


Lagi-lagi Alika harus terdiam mendengar ucapan Alvin barusan. Ada yang salah dengan cowok itu, kenapa tiba-tiba dia berubah jadi se-romantis ini??? Alika punya firasat yang kurang mengenakkan.


Entah itu hal yang baik atau tidak, hatinya mengisyaratkan kalau dia tidak akan siap menerima apapun yang dilakukan Alvin nantinya. Dan meskipun saat ini hanya cahaya redup yang menerangi wajahnya, tapi Alika yakin kalau wajahnya kini menyemburkan warna merah bak tomat yang sudah matang.


    “Kamu tunggu di sini dulu ya. Aku mau pesan minum,”

__ADS_1


__ADS_2