Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 47


__ADS_3

Alika mencicipi sedikit minuman yang ada di hadapannya. Ada perpaduan rasa jahe dan juga teh. Seketika rasa hangat memenuhi seluruh badannya, membuat badan menjadi lebih rileks dan nyaman. Alika belum pernah menemukan minuman semacam ini di rumahnya. Mungkin ini salah satu minuman khas Kota Yogya.


Saat Alika dan keluarganya tengah asyik bercengkerama, tiba-tiba ada deru motor yang cukup berisik di halaman depan rumah. Setelah mesin motor dimatikan, barulah terdengar ucapan salam dari si pemilik motor berisik itu.


    “Assalamu’alaikum…”


    “Wa’alaikumssalam… Kamu dari mana saja Alvin? Pagi-pagi sudah keluyuran,”


    “Alvin tadi nganter temen ke kost, Ma.”


Seorang cowok bertubuh tinggi tegap berdiri di depan Alika sambil memegang sebuah helm yang dipenuhi dengan stiker-stiker tulisan yang tidak begitu jelas makna katanya.


Dilihat dari wajahnya, cowok itu sepertinya lebih muda dari Alika. Muka yang masih terlihat imut, dan gaya yang super nyentrik. Jaket jeans dengan lubang di kedua sikunya. Celana khaki tiga perempat yang bagian bawahnya sudah compang-camping atau memang sengaja dimodel seperti itu.  Serta kaos oblong bergambar Doraemon???


Benar-benar style yang aneh, mana bisa celana semacam itu dipadu padankan dengan kaos Doraemon? Sepertinya cowok ini perlu belajar fashion dengan Alika. Dengan gaya seperti apapun, yang jelas cowok ini masih terlihat seperti ABG yang baru memasuki masa pubertasnya.


    “Eehhh… Mau kemana kamu? Ini kenalan dulu sama adik kamu yang dari Jakarta. Pasti kamu sudah lupa dengan dia kan? Dulu waktu kecil kamu sering main bareng sama dia…”


Alika mengulurkan tangan yang langsung disambut hangat oleh cowok itu, “Alika.”


    “Alvin. Kamu yang anaknya Tante Lula ya?”


    “Iya…”


    “Tambah cantik ya, Ma?” ucap cowok itu sambil mengerlingkan matanya ke arah Alika.


Spontan Alika kaget dibuatnya. Sepertinya ini cowok punya bibit yang kurang bener.

__ADS_1


    “Hush! Kamu ini… Dia itu umurnya lebih tua dari kamu. Jadi, kamu harus sopan sama dia.”


Alika sedikit kecewa, kenapa umurnya harus dibawa-bawa segala. Apa penting umur dalam menentukan urutan keturunan? Toh sekarang sudah jaman modern, tidak menjadi masalah apakah orang yang kita kenal ini lebih muda atau lebih tua.


    “Alvin juga sudah sopan sama dia, Ma. Alvin kan ‘belum’ apa-apain dia,”


Alika tersentak mendengar ucapan sepupunya itu. Apa maksudnya dengan ‘belum’ di-apa-apa-kan?


    “Udah ya, Ma… Alvin capek, ngantuk, mau bobok dulu. Dan jangan bangunin Alvin kalau belum jam 3 sore.”


Cowok itu langsung melenggang pergi setelah mengucapkan rentetan pesan pada Mamanya.


    “Ya Ampun, Vin… jam 3 sore? Kamu mau mimpi apa tidur selama itu!”


    “Anakmu sudah perjaka ya, Mbak. Sepertinya wajah ganteng Bapaknya bakal jadi warisan dia. Hahaha…”


    “Biasa saja, Mas. Tapi bandelnya itu lho yang nggak ketulungan. Ampun… kalau sudah kumat ngeyelnya,”


    “Justru itu lho, Mbak, seninya punya anak jagoan. Dari pada cuma dengerin anak sama mama ngomongin soal make-up.”


    “Jadi Papa, nggak ikhlas nih punya anak secantik Alika,” cewek yang langsung merasa tersindir dengan omongan Papanya itu langsung berdiri dan berpura-pura melotot di depan Papanya.


    “Hahaha… langsung ngambek nih ceritanya,” goda Papanya


    “Nggak juga. Oh ya, tadi katanya Papa ada meeting. Kapan berangkatnya?”


    “Hahaha… iya-iya. Jadi Papa diusir ceitanya? Oke, Papa mau meeting habis itu langsung bernostalgia ke Malioboro bareng Mamamu.”

__ADS_1


    “Yah… terus Alika sama siapa dong?”


    “Salah sendiri Papa di usir,”


    “Lho bukannya Papa emang ada meeting kan sama relasi Papa?”


    “Iya, Sayang. Ya sudah Papa berangkat dulu. Kamu jangan bikin repot di sini.”


    “Kamu juga ikut suamimu, La?” 


    “Iya, Buk. Lula juga sekalian mau ikut belajar bisnis, biar besok nggak jadi beban buat suami.”


    “Terus Alika piye?” tanya Nenek sambil menerima jabatan tangan dari anak bungsunya.


    “Alika biar di rumah, Buk. Dia juga belum istirahat.”


    “Ya sudah kalau begitu. Kalian hati-hati di jalan.”


    “Nggih, Buk. Titip Alika ya, Buk. Marahi saja kalau memang dia bikin repot Ibuk sama Mbak Har.”


    “Alika nggak senakal itu, Pa…” keluh Alika sambil mencoba mencubit lengan papanya.


Semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat tingkah Alika yang merasa dipermalukan oleh Papanya sendiri. Alika memang anak yang manja, tapi dia tidak suka kalau sifatnya itu dijadikan bahan lelucon orang-orang. Sekalipun itu kedua orang tuanya sendiri.


Dan saat Alika merasa dipermalukan seperti ini, dia akan langsung memasang tampang sok galak tapi bagi orang yang melihatnya justru tampak lucu dan menggemaskan.


Entah itu orang-orang yang sudah sering melihat sifat Alika ini, ataupun orang yang baru saja bertemu dengan cewek itu. Seperti cowok yang saat ini sedang diam-diam memperhatikan Alika dari kejauhan.

__ADS_1


Cowok itu merasa penasaran bagaimana sifat Alika yang sebenarnya. Dan jauh di dalam hatinya, cowok itu mulai tertarik dengan Alika yang saat ini sedang tidak sadar kalau dia tengah diperhatikan.


__ADS_2