
Alika meregangkan badan sambil menebarkan pandang di Bandara Ngurah Rai, Bali. Perjalanan yang cukup melelahkan meskipun jarak Jakarta – Bali hanya ditempuh dengan dua jam. Apalagi tidak ada hal yang menarik untuk Alika kerjakan di pesawat selain bertengkar dengan Lian.
Mungkin bagi beberapa orang bertengkar bukanlah hal yang diinginkan, tapi untuk Alika beradu mulut dengan Lian selalu membuat hatinya terasa ringan. Terlebih saat tangan cowok itu sesekali mencubit pipinya. Hal itu selalu bisa membuat jantungnya berlomba berdetak.
Meskipun sudah kesekian kalinya menginjakkan kaki di Surganya Indonesia itu, tapi Alika tidak pernah bosan untuk kembali mengunjunginya. Tapi entah kenapa yang satu ini terasa berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang membuat pulau Bali terasa lebih indah di mata Alika.
Dan Alika punya firasat kalau liburannya sekarang akan memberi kesan yang special. Apakah semua itu karena memang tempat itu sudah jauh lebih berkembang atau karena ada Lian yang saat ini sedang menggandeng tangannya.
Up-ps! Lian nyantai banget gandeng tangan gue kayak gini. Dia nggak tau apa kalau sikapnya ini bikin gue salting.
“Tumben amat lo gandeng tangan gue?” Tanya Alika
“Emangnya kenapa? Lo nggak suka gue gandeng tangan lo?”
“Nggak kenapa-kenapa sih. Cuma gue jadi ngerasa kayak adik lo yang umur sepuluh tahun,” kilah Alika yang enggan menyuruh Lian melepaskan tangannya. Karena emang itu yang selama ini Alika harapkan.
__ADS_1
“Hahaha. . . Lo nggak sadar apa? Lo itu emang masih pantes jadi umur sepuluh tahun, Al. Secara lo nggak pernah tambah gede ini.”
“Terus ajah lo ngeledekin gue!”
“Kalian berdua nggak capek apa berantem mulu? Nggak di Bali nggak di Jakarta kerjaan lo berdua cuma ribut.” Celetuk Nadia yang mulai gemas mendengar dua sahabatnya itu terus-terusan beradu mulut.
“Udah cuekin ajah. Ntar juga berhenti kalo bosen.” Tambah Dony sambil memasangkan earphone ke telinganya.
“Nggak gitu juga, Don. Panas ajah di kuping dengerin dua beo ngoceh.” balas Nadia sambil cengengesan.
“Lo ajah sana! Gue no thank’s!” protes Lian sambil kembali menyambar tangan Alika. Cowok itu kemudian menoleh ke arah Alika, “Ngapain lo lepas?”
Bukannya menjawab Alika malah jadi salah tingkah. Dia nggak nyangka kalau Lian bakal menodongnya dengan pertanyaan seperti itu.
“Gue... gue mau ngambil handphone di tas.” Jawab Alika asal-asalan untuk menutupi rasa malunya.
__ADS_1
“Oh ya? Bukannya handpone lo ada di saku celana?”
“Hah? Oh iya, gue lupa.”
“Kayaknya Bali bikin lo jadi pelupa ya?” ejek Lian.
“Bukannya gue pelupa, tapi kalau gue udah di Bali yang gue pikirin cuma...”
Alika tidak jadi melanjutkan kata-katanya saat dia menyadi kalau pertanyaan yang Lian ucapkan sama persis dengan yang David ucapkan setiap kali menggoda dirinya. Semuanya seperti déjà vu.
Suasananya, tempatnya. Dengan langit yang sedikit mendung tepat saat ia dan David tiba di Bandara Ngurah Rai. Dan Alika semakin terhenyak kalau ternyata tanggal dan hari itu sama persis dengan saat terakhir ia berlibur ke Bali bersama David.
Seketika itu juga Alika tidak sanggup meneruskan langkahnya. Ia seperti mengulang semua memori yang pernah ia lewatkan bersama David di tempat itu.
“Lo kenapa, Al?” Tanya Lian heran.
__ADS_1
Alika hanya mematung tanpa menyahut satu kata pun pertanyaan Lian. Bahkan pertanyaan itu terdengar sangat jauh di telingannya.