
Hari pertama liburan di Bali, Alika dan teman-temannya berencana untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Pulau itu. Tanah Lot dan Danau Bedugul menjadi tempat pertama yang akan mereka kunjungi sebelum berlanjut ke objek wisata lainnya.
Karena waktu liburan di Bali hanya satu minggu, jadi Alika akan memaksimalkan waktunya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata sebanyak mungkin. Dia tidak mau liburannya kali ini berakhir hanya dengan rasa capek dan isi dompet yang terkuras tanpa meninggalkan kesan apapun.
Selesai mencuci muka dan membongkar isi koper untuk mengambil beberapa barang wajibnya yang tidak boleh ketinggalan saat liburan, Alika segera bergabung dengan teman-temannya yang sudah menunggu di lobi penginapan.
“Lian mana, Nad?” tanya Alika sambil celingukan mencari sosok orang yang dicarinya.
“Nggak tau. Kata Dony tadi udah keluar. Tapi sampai sekarang belom juga nongol di sini.”
Alika menghampiri Dony yang sedang memotret sebuah pura kecil yang biasa dipakai penduduk lokal untuk beribadah atau meletakkan sesaji.
“Don, lo liat Lian nggak? Udah siang nih, jadi pergi nggak?”
“Tadi gue liat dia udah jalan duluan pakai motor.” Jawab Dony santai.
“What?!! Jadi dari tadi kita ngapain nongkrong di sini?”
__ADS_1
“Ya nungguin lo lah!” sahut Nadia sewot.
Alika tertawa kecil. Ditariknya tangan sahabatnya itu untuk cepat-cepat meninggalkan penginapan sebelum Nadia benar-benar ngambek dan membatalkan acara jalan-jalannya hari ini.
Mobil Alika melaju ke arah Tanah Lot yang terletak di kawasan Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Jaraknya kurang lebih sekitar 13 km menuju arah barat dari kota Tabanan. Kalau dari Bandara Ngurah Rai tempat tersebut dapat ditempuh dalam satu jam waktu perjalan dengan menggunakan sepeda motor. Itu juga kalau jalanan sedang tidak dalam keadaan macet. Tapi untuk perjalanan dari Ubud membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama karena lokasinya yang lumayan jauh dari tempat Alika dan kawan-kawannya menginap itu.
“Lo berdua itu nggak bisa lihat tempat apa kalau pengen pacaran? Jengah gue liatnya!” protes Alika yang mulai risih melihat dua sahabatnya bermesra ria di depan matanya.
“Duh... yang jauh dari pacarnya sewot mulu kerjaannya,” goda Nadia.
“Pacar yang mana? Seinget gue status single masih jadi trade mark buat hidup gue,” kali ini Alika semakin sewot.
“Gue nggak cinta!” jawab Alika cepat.
“Nggak cinta tapi mau juga pacaran. Hahaha...”
“Terpaksa gue, Don! Kalau bukan ortu yang jodohin, gue juga males kenal sama cowok kayak gitu!” Wajah Alika mulai bête. Mulutnya manyun.
__ADS_1
“Al, kenapa lo nggak jadian ajah sama Lian? Dari pada lo berdua berantem mulu kayak anjing sama kucing,” Nadia senyum-senyum sambil mengedipkan mata ke arah sahabatnya.
“Hah? Ngg... gue jadian sama Lian? Ya nggak mungkin lah,” jawab Alika gelagapan
Nadia cengar-cengir melihat Alika yang biasanya santai sekarang jadi salah tingkah hanya karena pertanyaan darinya.
“Kemungkinan itu selalu ada, Al. Mungkin sekarang lo bilang nggak suka sama Lian, tapi siapa tau ke depannya lo malah pacaran sama dia.”
“Siapa bilang gue nggak suka sama dia,” balas Alika cuek.
“Jadi lo suka sama Lian?” tanya Nadia kegirangan.
“Nggak!”
“Yang bener... tadi ajah lo nyangkal pas gue bilang lo nggak suka sama Lian. Atau jangan-jangan lo udah mulai naksir nih sama Lian?” kata Nadia sambil tertawa melihat wajah Alika yang mulai bersemu merah.
“Lo nggak bisa kecilan dikit apa kalau ngomong? Kasihan pacar lo tuh jadi kebangun tidurnya gara-gara ketawa lo yang ngakak itu,” Alika mencoba menganti topik pembicaraan supaya Nadia tidak semakin menggodanya.
__ADS_1
“Halah... nggak usah belok-belokin topik pembicaraan. Jalannya ajah lurus, kenapa omongan gue lo belokin,”
Alika hanya melotot menanggapi ulah sahabatnya yang rese itu. Meskipun di dalam hatinya ada rasa bahagia membayangkan dia bisa berpacaran dengan cowok yang selama ini hanya jadi sahabatnya itu.