
Alika sengaja duduk sendirian di pinggir pantai. Di bawah cahaya bulan yang tampak redup, Alika memejamkan matanya sambil menikmati debur ombak yang sesekali menyambar kakinya. Dingin dan menusuk.
Berbeda dengan dulu saat ia duduk pantai itu bersama David. Angin laut terasa lebih lembut dan hempasan ombak akan terasa lebih hangat. Semua itu bukan karena sedang musim panas, melainkan karena ada David yang senantiasa memeluk dan mendekap tangannya.
Karena terlalu larut dalam lamunan, Alika tidak sadar ada seseorang yang kini duduk di sebelahnya dan sedang menatap ke arahnya lekat-lekat.
“Lo ngapain malem-malem bengong sendirian di sini?” Suara itu menyentakkan Alika.
Alika segera membuka matanya dan jantungnya serasa terlonjak keluar saat tahu yang sedang duduk di sampingnya adalah David.
Sesaat tubuhnya diam membeku. Cowok yang ditatapnya itu merenggut setengah kesadaran Alika. Hanya suara ombak yang masih membuatnya sadar kalau dia masih di alam nyata. Suasana menjadi begitu hening. Sampai-sampai membuat Alika kehilangan kata-katanya.
__ADS_1
“Aku kangen banget sama kamu,”
Cewek itu sama sekali tidak bergerak saat sosok itu mengulurkan satu tangan untuk menyentuh pipinya. Satu hal yang jelas dirasakan Alika, sentuhan itu masih tetap sama. Lembut dan penuh kasih sayang.
Alika terdiam. Cewek itu tidak mampu lagi menahan isak tangisnya. Ia pun mengerjapkan mata untuk menghilangkan air mata yang menghalangi pandangannya. Dan betapa kagetnya dia saat melihat cowok yang di hadapnya sekarang bukan lagi David melainkan Lian.
Sesaat tidak ada sedikit pun reaksi dari Lian. Cowok itu tampak ragu untuk membuka mulutnya. Ia bingung melihat tetesan air mata di pipi Alika.
“Gue...,” Alika mengucap lirih sambil menyeka air matanya.
Dia tidak tau harus berkata apa. Karena saat ini Alika sendiri sedang bingung dengan hal yang baru saja dialaminya. Apakah itu kenyataan atau hanya khayalan yang ia ciptakan.
__ADS_1
“Nggak papa kalau lo nggak mau cerita.”
Suasana hening sebentar. Lalu, tanpa menunggu aba-aba Alika menyandarkan kepalanya di dada Lian yang terasa hangat di bawah dinginnya udara malam ini. Lian tidak tahan untuk tidak membelai rambut cewek tersebut.
“Gue kangen banget sama David,” kata Alika sambil menangis tersedu.
“Iya, iya, gue ngerti kok perasaan lo. Sekarang lo tenang dulu, ya? Lo dengerin baik-baik omongan gue. Seberapa kangennya lo sama David lo nggak bakalan pernah bisa lagi ketemu sama dia. Lo harus bangun, Al, kalau sekarang dia sudah nggak ada di dunia ini lagi. Percuma lo nangis-nangis kayak gini terus. Yang ada itu cuma nyiksa diri lo sendiri. Lo boleh percaya boleh nggak itu juga cuma bikin David sedih di sana. David pasti nggak mau cewek yang dia sayang terus-terusan tersiksa karena kepergiannya. Yang David mau lo itu bisa bangkit dan terusin hidup lo meskipun tanpa dia. Dan kalau emang lo kangen sama dia, lo datang ke makam dia. Lo berdoa buat dia. Itu pasti bisa bikin hati lo lebih tenang. Gue yakin lo itu cewek cerdas dan bisa paham apa yang gue omongin ini.”
Suara Lian melembut saat memberikan nasehat pada cewek yang kini sedang terisak di pelukannya.
Alika terdiam sambil mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Lian. Dia benar-benar terharu mendengar ucapan Lian yang penuh perhatian pada dirinya. Alika memandangi Lian tanpa berkedip selama beberapa detik dengan mata bulatnya. Mata mereka berdua saling menatap. Memancarkan rasa hati keduanya yang begitu mendalam.
__ADS_1