
Kelihatannya, setelah mimpi buruk satu tahun yang lalu itu, ini adalah pertama kalinya Alika terlihat begitu bersemangat. Dia sendiri heran. Tapi yang pasti dia sangat menginginkan kehadiran Lian di sisinya. Benar-benar menginginkannya.
Pagi ini Alika bersiap-siap untuk menikmati liburannya bersama Nadia dan Lian di Pulau Dewata. Dan satu lagi yang pasti nggak pernah ketinggalan, Dony – Pacar Nadia –.
“Alika mau sampai kapan ngacanya? Kamu tuh udah ditungguin sama Lian dari tadi,”
“Hah?? Lian??? Bukan Nadia ya yang jemput Alika?”
“Bukan. Udah buruan turun. Udah cantik kok anak Mamah ini.”
“Ah Mamah bisa ajah! Iya tiga menit lagi Alika turun.”
Meskipun Alika tidak memakai sesuatu yang mewah, cewek itu tetap terlihat istimewa. T-shirt dan celana jeans tidak bisa menutupi aura yang terpancar dari dirinya. Sporty dan menggemaskan.
“Hai, Yan! Udah dari kapan nunggunya?”
“Dari tadi subuh. Ngapain ajah sih lo di kamar? Lama bener,”
“Penasaran? Kenapa nggak nyusul ke kamar?” goda Alika sambil mengerlingkan matanya.
Lian menatap penampilan Alika sejenak. Dan tak bisa dipungkiri, cewek itu benar-benar terlihat manis saat ini. Tapi demi menjaga gengsinya yang setinggi langit, Lian tidak mau mengakui hal itu. Setidaknya tidak di depan Alika langsung.
“Jadi Cuma kayak gini doank penampilan lo setelah berjam-jam ngaca di kamar?”
Ada sedikit kekecewaan di wajah Alika. Kenapa Lian tidak pernah terkesan dengan dirinya. Bagaimana pun cewek itu membuat penampilannya sedemikian sempurna, tapi Lian sama sekali tidak pernah memujinya.
Yang ada cowok itu selalu mencela dengan berbagai macam rentetan kalimat yang menurutnya jelas-jelas tidak masuk akal.
“So why? Gue nyaman kok pakai baju ini,” Dengan rambutnya yang diikat ke belakang, membuat Alika terlihat tomboi seperti biasanya.
__ADS_1
Namun kali ini dia sedikit menyesal kenapa dia tidak pernah tahan jika harus berpenampilan feminim.
“Iya-iya terserah lo ajah! Mau berangkat kapan nih?”
“Sebenernya gue udah niat buat ngacir dari tadi. Berhubung lo nggak ada puas-puasnya bikin gue kesel, jadinya gue males mau pergi.”
“Bener nih nggak jadi liburan ke Bali?”
Setelah berpamitan dengan Mamahnya, Alika dan Lian segera melesat menuju bandara Soekarno-Hatta karena Nadia dan Dony sudah menunggu di sana.
Sesampainya di bandara Alika tidak melihat seorangpun sahabatnya. Baik itu Nadia ataupun Dony.
“Nadia sama Dony mana?”
“Dony whatsapp gue katanya lagi nganter sahabat lo ke toilet.”
Lian dengan sigap mengambil troli dan memasukkan koper-koper yang bertumpuk di hadapan Alika. Setelahnya, mereka lalu berjalan menuju ruang tunggu sambil mengamati sekeliling kalau-kalau melihat Nadia dan pacarnya.
“Dari tadi lo protes mulu ya! Sini gue ajah yang dorong kalau lo keberatan!”
“Sssttt…! Nggak bisa diem lo? Jadi cewek itu yang kalem, jangan sedikit-sedikit ngambek gitu. Nggak baik.”
“Lo juga jadi cowok jangan bawel. Nggak baik! Oh ya… Kok tau-tau lo yang jemput gue? Nadia kemana?”
“Jadi lo nggak suka kalau gue yang jemput lo?! Dasar cewek nggak tau terima kasih. Masih untung gue mau jemput cewek rese kayak lo!”
“Iya gue makasih banget lo udah dengan senang hati mau jemput gue.”
“Eits! Bukan dengan senang hati, tapi dengan hati terpaksa.” kilah Lian sambil menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Tampaknya cowok itu sedang menikmati saat dia bisa membuat Alika cemberut sambil memperlihatkan muka juteknya.
Nggak salah kalau banyak yang bilang cewek itu terlihat lebih manis kalau sedang cemberut. Pipinya yang merah dan bibirnya yang manyun membuat cewek yang berjalan di sampingnya itu terlihat imut.
“Ngapain lo ngelihatin gue sampai kayak gitu? Ntar lo naksir sama gue lho!”
“Siapa yang ngelihatin lo. Gue cuma penasaran ajah, sebenernya apa yang cowok-cowok itu lihat dari lo sampai mereka bilang kalau lo itu cewek manis?”
Alika menoleh cepat ke arah Lian, wajah cewek itu memerah seketika. Meskipun kata-kata yang diucapkan Lian tidak bermaksud untuk memujinya, tapi cewek itu merasa hatinya berlonjak saat Lian menyebut dirinya manis.
“Dia malah bengong! Lo nggak nangkep omongan gue?”
“Eh, sorry, Yan. Lo ngomong apaan barusan?”
“Gila! Gue dikacangin dari tadi. Ya udahlah nggak usah dibahas. Bete gue sama cewek lemot kayak lo!” kata Lian yang mulai jengkel.
Bukannya minta maaf, Alika malah cengengesan. “Nadia sama Dony mana, Yan? Lama banget ke toiletnya.”
“Bener juga lo! Pesawat udah mau berangkat nih. Lo telfon Nadia ajah gimana?”
Alika mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan nomor Nadia. Alika mulai tak sabar saat telepon Nadia tidak kunjung dijawab. Namun ia urung mematikan ponselnya saat terdengar suara Nadia.
“Lo kemana ajah, Nad? Udah mau take off nih pesawat.”
“Iya gue udah on the way ke ruang tunggu.”
“Buruan ya! Lian udah ngamuk-ngamuk.”
Tut!
__ADS_1
Alika mematikan telponnya lalu memakai topi dan jaketnya sebelum bergegas mengikuti Lian yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkannya.