Lika-Liku Cinta Alika

Lika-Liku Cinta Alika
Eps 15


__ADS_3

Sore harinya Alika termenung sendirian di tepian kolam renang rumahnya. Sesekali tangannya bermain-main dengan air hingga menimbulkan bunyi kecipak-kecipik. Ajakan Lian tadi siang masih terngiang-ngiang dalam pikirannya.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan cowok itu? Kenapa tiba-tiba dia mengajaknya untuk makan malam berdua. Bahkan dia sendiri yang akan menjemput Alika di rumahnya. Kalau memang tidak ada maksud tertentu, bisa sajakan mereka janjian bertemu di tempat makan. Dengan kata lain mereka tidak berangkat bersama-sama.


Dari dalam rumah, Mamah Alika yang hendak masuk ke kamarnya langsung berhenti saat melihat anak gadisnya duduk termenung di tepi kolam renang. Perlahan Mamahnya mendekat menghampiri Alika.


    “Kamu kenapa, Al? Kok kelihatan kusut banget,”


    “Lagi banyak pikiran, Ma.”


Mamahnya langsung tertawa pelan. “Anak kecil kayak kamu apa yang dipikirin sih, Sayang? Paling cuma masalah cowok.”


    “Itu dia, Ma, yang bikin kepikiran terus.”


    “Kenapa? Kamu berantem lagi sama Radit?” Mamanya memandang Alika dengan curiga.


    “Nggak kok, Ma. Alika baik-baik ajah sama Radit.”

__ADS_1


Mamahnya semakin penasaran. Kalau bukan karena Radit apa ada cowok lain yang sedang dekat dengan putrinya ini. Mamahnya kemudian duduk di samping Alika.


    “Mamah masih inget sama anaknya Tante Ratna kan?”


    “Lian maksud kamu? Iya, Mamah masih inget.”


    “Dia ngajakin aku dinner ntar malem.”


    Mamahnya berdecak, “Oh. . . Jadi kamu pusingnya gara-gara itu tho, Al? Kalau soal itu Mamah sudah tau. . . “


    “Kok Mamah bisa tau? Aku kan belum cerita apa-apa sama Mamah.” tanya Alika kebingungan.


    Alika semakin bingung mendengar ucapan Mamahnya. “Maksud Mamah gimana sih? Alika nggak ngerti.”


    “Jadi gini, Mamah sama Tante Ratna rencananya mau dinner malam ini di Restoran Prancis tempatnya temen Mamah. Restoran itu baru buka hari ini, jadi Mamah sama Tante Ratna diundang buat peresmiannya malam ini. Rencananya kita emang mau ngajak kamu sama Lian buat ikut. Biar kamu sama Lian bisa akrab. Tapi tiba-tiba ajah Papah kamu telpon, katanya mau ada pertemuan keluarga di tempat kakaknya. Jadi Mamah batal nggak bisa pergi. Dari pada mubadzir undangannya, Tante Ratna nyuruh Lian buat ngajakin kamu pergi ke tempat itu. Yah. . . Itung-itung gantiin Mamah sama Tante Ratna yang nggak bisa dateng,” cerocos Mamahnya panjang lebar. Alika hanya mengerutkan dahi mendengar cerita Mamahnya.


    “Terus gimana sama Radit? Emang dia nggak marah aku pergi sama cowok lain?”

__ADS_1


    “Mamah nggak kasih tau Radit. Hari ini dia pergi ke Lombok buat acara study tour kampus.”


    Alika semakin kaget. Sudah berapa banyak kejutan yang dia dapatkan hari ini? Apa ini hari April Mop?


    “Kok Radit nggak ngomong sama aku kalau dia pergi ke Lombok?”


    “Tadi pagi dia pamit kesini, tapi kamu udah berangkat sekolah.”


Alika tidak bertanya lebih jauh tentang pacarnya itu. Buatnya kehidupan pacarnya bukanlah urusan dia. Malahan bagus kalau Radit pergi ke Lombok, jadi dia bisa bebas dari semua perhatiannya yang menurut Alika hanya dibuat-buat. Semoga saja perginya lama.


Untuk saat ini, acara makan malamnya bersama Lian jauh lebih menyita perhatiaannya. Alika membayangkan apa yang akan dia lakukan bersama cowok yang selama ini sangat tidak akur dengannya.


Mungkin saja mereka hanya akan makan tanpa ada suara satupun yang keluar dari mulut masing-masing. Pasti sangat membosankan. Atau justru mereka akan membuat kekacauan di acara itu. Sebaiknya tidak, karena hal itu akan sangat memalukan. Sepertinya lebih baik bosan dari pada mendapat malu.


    “Kok malah bengong, Al? Buruan siap-siap. Lian jemput kamu jam 8 kan?”


    “Nggak perlu siap-siap, Mah. Cuma pergi sama cowok rese’ doang.”

__ADS_1


Mamahnya hanya menghela napas mendengar jawaban Alika.


__ADS_2