
Tak terasa tiga hari sudah Alika mengahabiskan liburannya di Bali. Pulau Dewata itu memang selalu memberi kebahagiaan bagi siapa saja yang berkunjung ke sana. Tak terkecuali untuk Alika dan teman-temannya.
Berbagai tempat mereka kunjungi. Mulai dari Tanah Lot, Danau Bedugul, Tampak Siring, sampai GWK tak luput dari jangkauan wisata mereka. Bahkan Alika sampai memilih untuk menyewa penginapan di kawasan Ubut, karena udara sejuk dan eksotika pemandangan di tempat tersebut yang tak mau mereka sia-siakan.
Namun karena kawasan Ubut yang tergolong lebih terpencil dari kebanyakan tempat di Bali itu membuat Alika dan yang lainnya menjadi menyita waktu lebih lama untuk mengunjungi tempat wisata di Pulau tersebut.
Setelah melakukan beberapa reset tentang hotel yang ada di Pulau Bali, akhirnya mereka memutuskan untuk mengubah tempat bermalam ke kawasan yang lebih mendukung acara liburan mereka. Sebuah resort tepi pantai di kawasan Sanur menjadi tempat pilihan Alika.
Tempat tersebut memang lebih ramai jika dibandingkan penginapan di Ubut, dan hal ini tentunya bertentangan dengan niat awal Alika dkk yang menginginkan liburan ala pedesaan yang damai dan tenang. Tapi itu jauh lebih baik dari pada mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengunjungi tempat wisata yang satu ke tempat wisata lain.
Setelah melakukan check-in untuk empat hari ke depan, Alika dan Nadia segera bergegas ke kamar untuk merebahkan tubuh mereka. Sementara Lian dan Doni memilih untuk hunting foto karena keduanya memiliki hobby dan minat yang sama, yaitu fotografi. Meskipun visi dan misi mereka tidak sejalan karena Lian lebih berminat untuk menjadi seorang pakar bedah daripada menjadi fotografer seperti yang dicita-citakan Doni.
“Balik yuk, Yan! Tuh cewek-cewek pasti udah kalap nungguin kita. Bisa kena damprat si Alika kalo hari ini kita nggak jadi jalan ke Kuta.”
Lian tampak tidak peduli dengan omongan Doni. Dia sedang asik mengarahkan lensa kameranya ke hamparan laut yang warnanya senada dengan langit di atasnya.
Doni menghela napas, dia menyerah kalau harus berurusan dengan Lian yang sedang memegang kameranya. Karena kalau Lian sudah membidikkan kamera, dia akan bersikap seolah-olah objek fotonya itu dewi yang pantas ia puja. Dan tidak akan ada seorang pun yang sanggup mengganggunya kecuali cewek yang saat ini sedang menelponnya. Alika.
__ADS_1
“Lo itu jadi cewek selalu berisik ya! Ngapain lo panas-panas kayak gini ngajakin jalan? Lo mau kulit lo itu jadi item gara-gara kepanggang matahari?” teriak Lian pada cewek yang ada di seberang telepon.
“Gue nggak mau tau! Pokoknya lo sekarang balik sama Doni karena gue mau ke Kuta.”
Tut !
Sambungan telepon terputus. Lian hanya bisa menahan kesalnya pada cewek yang selalu membuat emosinya naik itu.
“Balik, Don! Tuan Putri kayaknya udah kesurupan gara-gara kelamaan nunggu. Ngomel mulu kerjaannya!”
“Gue juga bilang apa? Tuh cewek pasti senewen kalo di suruh nunggu lama-lama.”
“Lo kira David beneran pacaran sama Alika? Gue pernah liat dia jalan sama cewek lain di acara pensi sekolah kita.”
Seketika Lian tersentak mendengar kata-kata Doni. Emosi yang tidak diduga tiba-tiba menyeruak dari dalam hatinya. Rasa tidak suka sekaligus amarah yang meluap-luap seperti akan meledak dari hatinya. Lian merasa tidak terima dengan sikap cowok yang saat ini berstatus sebagai pacar Alika itu. Entah mengapa dia tidak rela kalau sahabatnya itu dibohongi calon tunangannya sendiri.
“Lo salah liat kali, Don.” Kata Lian pelan. Cowok itu mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin, agar Doni tidak curiga dengan apa yang sebenarnya sedang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
“Awalnya gue juga pikir gitu. Bukan pertama kalinya gue denger selentingan kalau David itu cowok nggak bener. Tapi gue coba positif thinking aja sama dia, soalnya dia pacar sahabat gue. Tapi pas gue liat dengan mata kepala sendiri, gue merasa nggak rela kalau sahabat gue pacaran sama cowok macam itu.”
“Ya kita tunggu saja hasil akhirnya, Don. Lagi pula yang ngejalani happy-happy ajah gitu.” Jawab Lian santai.
“Emang bener, Yan si Alika itu kelihatannya happy. Tapi sebenernya hatinya dia tersiksa. Lo bayangin ajah, belum lama setelah David meninggal ortunya sudah jodohin dia sama cowok yang sama sekali nggak dia suka. Udah gitu Alika juga belum bisa sepenuhnya melupakan David. Kadang gue merasa kasihan sama dia, Yan.”
Lian hanya membisu. Dia tidak menyahut ataupun mendebat omongan Doni. Cowok itu sedang bergulat dengan pikiran dan perasaannya sendiri. Dia ingin membantu Alika keluar dari semua permasalahan ini, tapi sepertinya tidak ada sesuatu yang bisa dia lakukan.
“Kadang gue mikir kalau lebih baik Alika pacaran sama lo, Yan. Meskipun kalian nggak pernah akur, tapi justru gue liat kalau Alika lebih bisa ceria saat berantem sama lo. Wajahnya kelihatan seperti nggak ada beban. Tertawanya juga lebih bisa lepas.” kata Doni serius.
“Lo itu suka sama Alika apa sama sahabatnya? Kok gue ngerasa lo ada perasaan lain sama dia.”
“Ngawur lo, Yan! Gue bukannya ada main sama Alika, tapi gue udah nganggap dia kayak adik gue. Dia sahabat deket cewek gue, otomatis lah gue care sama dia.”
Doni diam sejenak sambil mengamati dengan saksama perubahan wajah Lian.
“Lo cemburu, Yan?”
__ADS_1
“Nggak ada waktu gue buat cemburu sama cewek kayak gitu,” sangkal Lian.
Doni hanya tersenyum simpul. Dia yakin kalau sudah terjadi sesuatu antara Lian dan Alika tempo hari. Hanya saja sahabatnya itu tidak mau mengakuinya. Mungkin Lian belum menyadari perasaannya sendiri, tapi yang hatinya rasakan justru sesuatu yang lain. Sesuatu yang juga selalu dia rasakan untuk kekasihnya, Nadia.